Langkah Sederhana Merajut Peradaban Nusantara


Narasi tentang kebesaran Nusantara di masa lalu telah diulas banyak kalangan. Terdapat beragam kajian yang bermuara pada betapa bangsa ini telah membangun peradaban yang mengagumkan.


Dalam laman Kamus Besar Bahasa Indonesia Kemendikbud, peradaban diartikan sebagai kemajuan lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Sedangkan Nusantara adalah sebutan atau nama bagi seluruh wilayah Kepulauan Indonesia.


Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk menjadi negara mandiri dan diperhitungkan dunia. Kita punya sekitar 17.508 pulau yang dihuni lebih dari 360 suku bangsa. 


Bukan hanya sumber daya alam yang melimpah, kita juga kaya dengan keragaman budaya. Dari Sabang sampai Merauke ada beragam budaya yang sarat dengan makna dan falsafah hidup. 


Ada sekitar 1.239 warisan takbenda yang dimiliki Indonesia. Budaya-budaya takbenda itu meliputi adat istiadat, tradisi lisan, kerajinan, perayaan, pengetahuan alam, hingga seni pertunjukan.


Sejatinya, semua itu menjadi spirit untuk membangun Indonesia saat ini dan nanti sebagai bangsa kuat yang tidak mudah didikte negara lain. Terlebih, jumlah penduduk Indonesia masuk lima besar terbanyak di dunia. 


Pada 31 Desember 2021, jumlah penduduk Indonesia tercatat lebih dari 273 juta jiwa. Mayoritasnya beragama Islam. Kendati begitu, kerukunan umat beragama di Indonesia tetap terjaga baik. Adapun munculnya riak-riak perselisihan yang disebabkan perbedaan, itu bakal menjadi bekal perjalanan menuju ke kedewasaan.


Sejatinya, jejak-jejak perjalanan panjang itu menjadi pijakan dalam menapaki masa depan Indonesia yang lebih baik. Ada banyak peninggalan yang menjadi bukti betapa Nusantara tidak bisa dipandang sebelah mata.


Salah satu contohnya adalah lukisan dinding gua di kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan sepanjang 4,5 meter itu diperkirakan sudah berusia 44 ribu tahun dan merupakan lukisan bercerita tertua yang ada di dunia.


Bukan hanya di Sulawesi, lukisan yang berusia puluhan ribu tahun juga ditemukan di Kalimantan. Lukisan yang terlihat seperti gambar sapi itu diperkirakan berusia sekitar 40 ribu tahun.


Mengagumkan. Lukisan yang mengisahkan tentang perburuan babi, kerbau, dan sapi itu menjadi bukti bahwa manusia purba di bumi Nusantara sudah memiliki kecerdasan mengekspresikan bahasa verbal seputar aktivitas sehari-hari.


Ada satu lagi bukti betapa hebatnya nenek moyang kita dalam membangun peradaban, yakni situs Gunung Padang. Situs merupakan lokasi yang berada di darat atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau struktur cagar budaya sebagai bukti hasil kegiatan atau kejadian pada masa lalu.


Situs Gunung Padang yang berada di daerah Cianjur, Jawa Barat, ini diperkirakan pertama kali dibangun pada 8000 Sebelum Masehi. Usianya lebih tua dibanding Piramida di Mesir. Sejak 2014, situs tersebut sudah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya berperingkat nasional. 


Beberapa bukti mengagumkan itu sejatinya menjadi kebanggaan dan membuat kita lebih percaya diri dalam membangun peradaban yang lebih baik. Apalagi, saat ini sudah ditunjang oleh beragam kemajuan teknologi.


Namun, perkembangan teknologi informasi jangan sampai membuat kita menjadi manusia-manusia terasing. Semangat kebersamaan, saling menghargai dan tolong menolong yang sudah lama mengakar jangan sampai tercerabut.


Para pendahulu telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjalani hidup. Pesan-pesan kebaikan dikemas melalui berbagai macam cara yang di antaranya tertuang dalam naskah dan prasasti.


Bicara tentang naskah, pada 2013 tercatat ada 10.613 naskah Nusantara yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Diperkirakan, bangsa Indonesia sudah mengenal aksara pada abad ke-4. Itu dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Yupa beraksara Pallawa milik Kerajaan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.


Banyaknya naskah dan prasasti itu, termasuk situs dan berbagai peninggalan lainnya, merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki jejak peradaban yang panjang. Koropak Culture hadir untuk menyajikan beragam kebaikan di masa lalu serta harapan pada masa kini dan nanti. 


Ikhtiar ini merupakan langkah sederhana kami dalam Merajut Peradaban Nusantara yang diharapkan menjadi penguat jati diri.

 

AKTA PENDIRIAN

Nomor : 81 Tanggal 07 Februari 2017
Notaris : Heri Hendriyana, SH.,MH


LANDASAN HUKUM

Nomor : AHU-0007807.AH.01.01 Tahun 2017 Tanggal 17 Februari 2017
Tentang : Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas
PT. Koropak Media Parahyangan



AKTA PERUBAHAN

Nomor : 46 Tanggal 08 Juli 2020
Notaris : Heri Hendriyana, SH.,MH


LANDASAN HUKUM

Nomor : AHU-0047963.AH.01.02 Tahun 2020 Tanggal 14 Juli 2020

Tentang : Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas


PT. Koropak Media Parahyangan