Koropak.co.id – Kapten Pierre Andries Tendean atau yang lebih akrab disapa Pierre Tendean ini merupakan seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban keganasan pasukan Cakrabirawa dalam peristiwa yang dikenal dengan G30S/PKI pada 1965.
Terlepas dari peristiwa tragis tersebut, sang Pahlawan Revolusi Indonesia itu juga mempunyai kisah percintaan yang tak kalah memilukan. Semasa hidupnya, pria kelahiran 21 Februari 1939 itu pernah merajut hubungan asmara dengan seorang gadis asal Medan, bernama Rukmini Chaimin.
Meskipun berbeda agama, namun tak menghalangi hubungan keduanya. Bahkan Pierre dan Rukmini sudah mempersiapkan acara pernikahan pada November 1965, akan tetapi sirna setelah Pierre meninggal dunia dalam peristiwa G30S/PKI.
Pierre mengawali karier militernya dengan menjadi intelijen, kemudian setelah itu ia ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution (AH Nasution). Memiliki perawakan ideal dengan wajah tampan blasteran Asia-Eropa, serta dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan ramah, membuat Pierre banyak digandrungi oleh gadis-gadis semasa menjadi taruna.
Namun cerita cinta Pierre yang kala itu berpangkat Letnan Dua dimulai pada saat ia ditugaskan sebagai Komandan Peleton Batalyon Tempur 2, Kodam II Bukit Barisan di Medan. Pada saat bertugas di Medan itulah, Pierre bertemu dengan pujaan hatinya, Rukmini.
Diceritakan pada saat tidak dalam keadaan dinas, ia pun diajak oleh temannya bermain ke rumah Chaimin, salah satu tokoh terpandang di Medan. Siapa sangka, kunjungan Pierre kala itu menjadi berkesan ketika ia berjumpa dengan putrinya, Rukmini.
Awalnya, Pierre tak tertarik soal urusan hati. Alasannya dikarenakan ia ingin fokus pada tugasnya di batalion. Namun, sikap Rukmini yang lemah lembut, pemalu dan penuh dengan tutur kata yang sopan, pada akhirnya membuat Pierre luluh dan jatuh hati padanya.
Bak gayung bersambut, ternyata Rukmini juga merasa jatuh hati pada Pierre. Namun ia bukan jatuh hati karena ketampanan yang dimiliki Pierre, melainkan sikap humoris dan kecerdasan yang dimilikinya hingga membuat Rukmini kagum dengan sosoknya.
Saat itu, Rukmini sendiri masih duduk di bangku SMA. Sehingga, usia keduanya juga terpaut cukup jauh dan Pierre berusia delapan tahun lebih tua dari Rukmini. Perkenalan keduanya ini juga diketahui merupakan hasil comblangan dua sejawat Pierre, Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi.
Pada akhirnya, keduanya pun menjalani hubungan asmara meski sempat terganjal restu orang tua dikarenakan perbedaan agama. Di sisi lain, hubungan yang dijalani Pierre dan Rukmini tidaklah mudah. Pasalnya, kedua sejoli ini harus rela menjalin hubungan jarak jauh karena Pierre tak lama berdinas di Medan.
Baca: Kisah Cinta Bung Hatta, Jatuh Hati Pada Anak Mantan Kekasih
Tercatat pada pertengahan 1963-an, Pierre pindah ke Bogor karena harus mengikuti pendidikan intelijen yang dipersiapkan dalam Operasi Dwikora. Selain itu, di tahun tersebut, ia juga ditugaskan di garis depan dalam misi perdamaian di Kongo, Afrika.
Meskipun begitu, kesetiaannya kepada Rukmini yang jauh berada di Medan tak perlu diragukan lagi. Jalinan kasih keduanya justru masih terus berlanjut melalui hubungan jarak jauh. Bahkan mereka juga sering berkirim surat sebagai pelepas rindu.
Tahun demi tahun berlalu, bermacam penugasan selalu dijalani Pierre. Saat masa cuti dinas tiba, ia selalu memakainya untuk berkunjung ke Medan. Sampai pada akhirnya, Pierre memantapkan hatinya untuk mempersunting gadis pujaannya itu pada 1965-an.
Pada Juli 1965-an, Pierre melamar Rukmini dan keduanya juga berniat untuk melanjutkan hubungan asmaranya ke jenjang pernikahan yang direncanakan akan dilaksanakan pada November 1965.
Keseriusan Pierre untuk menikahi kekasihnya itu bukan main-main. Bahkan, demi mempersiapkan hidup bersama Rukmini, Pierre secara rutin mencari informasi rumah kontrakan di sekitaran Menteng, untuk ia tempati bersama Rukmini jika sudah menikah kelak.
Kemudian untuk menambah biaya pernikahan, ia juga rela setiap malam mengambil kerja sampingan sebagai sopir traktor meratakan tanah pembangunan proyek Monumen Nasional (Monas). Namun sayangnya, rencana pernikahan keduanya harus terkubur dalam-dalam dikarenakan Pierre tewas di malam 30 September 1965 bersama jenderal lainnya.
Tepat 2 bulan sebelum pernikahannya dengan Rukmini, momen lamaran mereka menjadi pertemuan terakhir bagi keduanya. Pernikahan yang sudah direncanakan keduanya harus kandas akibat peristiwa itu. Di sisi lain, tak mudah pula bagi Rukmini menerima kepergian sang kekasih hati hingga hatinya sedih dan hancur.
Bahkan setelah kepergian Pierre, butuh waktu 5 tahun bagi Rukmini untuk memulihkan perasaannya. Hingga pada 1972-an, Rukmini pada akhirnya menikah dengan pria yang menjadi jodohnya dan dikaruniai 3 anak dan 5 cucu.
Selepas peristiwa itu, Rukmini juga cenderung enggan dan tertutup saat membahas lebih dalam soal kisah hubungan asmaranya dengan Pierre. Sampai dengan tutup usianya pada 27 Juli 2019 lalu, Rukmini tetap setia menyimpan rapat kenangan terhadap sosok Pierre Tendean.











