Petualangan Kho Ping Hoo, Tukang Obat Jadi Penulis Cerita Silat

Koropak.co.id, 10 May 2022 15:07:19
Penulis : Eris Kuswara
Petualangan Kho Ping Hoo, Tukang Obat Jadi Penulis Cerita Silat


Koropak.co.id - Namanya Kho Ping Hoo. Ia merupakan seorang penulis cerita silat yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926 silam. Ia meninggal dunia pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo. 

Bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, dia memiliki 13 orang anak dan dua di antaranya meninggal dunia di usia masih muda, dan memiliki 8 orang cucu. Meski Kho Ping Hoo beragama Kristen, anak-anaknya diberi kebebasan untuk memilih keyakinannya masing-masing.

Kho merupakan keturunan Cina berdarah Jawa, dari neneknya. Anak-anaknya bebas menentukan pilihannya sendiri. Bahkan, dalam hal beragama, anaknya ada yang beragama Islam, Kristen, dan penganut aliran kepercayaan.

Anak lelaki pertama, atau anak kedua dari 12 bersaudara, Kho memiliki ayah bernama Kho Kian Po, pendekar aliran Siau Liem Sie dan mewariskan ilmu silat kepadanya. Pada tahun-tahun krisis (1945), dengan modal cinta, ia menikah dengan Ong Ros Hwa, gadis Sragen kelahiran Yogya. 

Untuk pendidikan dasar yang ia tempuh yakni di HIS Zendings School dan hanya sampai kelas 1 MULO dan selanjutnya terhenti. Kho sempat kursus Tata Buku. Menginjak usia 14 tahun, Kho Ping Hoo sudah lepas dari bangku sekolah dan menjadi pelayan toko. 

Ketika Jepang masuk ke Solo, ia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai penjual obat. Kala itu, Kho menjajakan pil-pil ke toko-toko. Pada masa itu dia bergabung dan digembleng oleh Kaibotai, semacam hansip Jepang yang pendidikannya "sangat militer". 

Dari Surabaya, ia kembali lagi ke Sragen dan bergabung dalam Barisan Pemberontak Tionghoa (BPTH) yang ketika itu senantiasa kompak dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Setelah dari Sragen, ia pindah ke Kudus. 

Pada tahun 1949, ia pindah ke Sragen lagi untuk membuka usaha rokok yang ilmunya diperolehnya ketika dirinya bekerja di Kudus. Pada tahun inilah mulai muncul berbagai cobaan yang menimpanya. Perusahaan rokoknya sudah berjalan, meskipun masih kecil. Akan tetapi, Aksi Polisionil II mulai meletus.

Belanda mengobrak-abrik segala yang dimilikinya. Kho harus mulai dari nol lagi. Ia pun  berangkat ke pengungsian di Solo dan selama dua tahun ia tinggal di sana. Ia lantas pindah ke Tasikmalaya dengan membawa dua orang anak, yang satu masih dalam kandungan. Di Tasikmalaya, keluarga Kho mempunyai semangat baru untuk memperbaiki nasib.



Baca: Gus Tf. Sakai, Sastrawan yang Sudah Aktif Menulis Sejak Kecil


Di Tasikmalaya inilah segalanya bermula. Pada tahap pertama, ia bekerja menjadi staf dari seorang anemer yang sedang membangun sebuah rumah sakit di Banjarnegara. Sedikit demi sedikit, kesuksesan pun berhasil diraihnya. Pada tahap akhir, ia telah menjadi Ketua Perusahaan Pengusaha Pengangkutan Truk (P3T) kawasan Priangan Timur, meskipun ia tidak pernah mempunyai truk dalam hidupnya. 

Sekitar tahun 1951-an, Kho Ping Hoo mulai menulis cerita. Namun, sebelum dikenal sebagai penulis cerita silat, Kho pun menulis cerita detektif, novel, dan cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah seperti di Liberty, Star Weekly, dan Pancawarna.

Dengan menggunakan nama samaran Asmaraman, karya tulisannya berhasil menyerbu majalah-majalah terkenal waktu itu. Meski banyak tulisannya yang ditolak, akan tetapi cukup banyak pula yang dimuat. Majalah Star Weekly, Cermin, Pancawarna dan Liberty termasuk yang sering memuat hasil karya-karyanya. 

Yang menarik dari cerita-cerita yang ditulisnya ketika itu, tak tersirat sedikit pun warna "silat" di dalamnya. Yang nyata hanya cerita-cerita roman biasa. Pada 1959-an, ia baru menulis cerita silat dan di tahun itu juga di Tasik lahirlah majalah Teratai. Untuk melengkapi isi majalah, para penulis pun mengusulkan agar majalah juga diisi dengan cerita silat.

Pada saat itu diputuskanlah agar Kho Ping Hoo yang mengisinya, sehingga lahirlah cerita silat pertamanya "Pedang Pusaka Naga Putih". Karya itu sendiri lahir karena terpaksa, akan tetapi respons pembaca ternyata positif. Lantas, karyanya dimuat bersambung dalam majalah Selecta, Roman, dan Monalisa.

Waktu itu, pengarang cerita silat yang dikenal hanya Oei Kiem Tia (OKT), satu-satunya pengarang 'cerita silat' di Indonesia. Cerita yang terputus itu kemudian diambil oleh majalah di Jakarta, Analisa, dan dimuat mulai awal kisah lagi. Sambutan pembaca tampak semakin baik.



Baca: Gerson Poyk dan Khazanah Kesusastraan Indonesia


Minat Kho pada tulis-menulis sendiri muncul setelah bermukim di Tasikmalaya. Awalnya, dia sebagai koresponden harian Keng Po dan pernah membantu barisan Pikiran Rakyat, Bandung, pada tahun 1960-an. Setelah berganti-ganti pekerjaan, Kho mencoba menulis cerita dan mengurus sandiwara. Ia berperan sebagai pemain dan sutradara.

Dunia tulis-menulis lebih ditekuninya hingga dia berhasil menjadi kaya dari tulisan-tulisannya dalam bentuk buku saku cerita silat Tionghoa. Sebenarnya, dia sendiri tidak begitu mengerti bahasa Cina. Ia mempelajari sejarah Tiongkok, tapi bukan dari bahasa aslinya, melainkan dari buku-buku bahasa Inggris dan Belanda. Dua bahasa ini memang dikuasainya dengan baik, selain bahasa Indonesia.

Sementara bahasa daerah yang dikuasainya adalah bahasa Jawa dan Sunda. Selain sejarah Tiongkok, ia juga amat tertarik pada sejarah klasik Indonesia. Beberapa buku bertema sejarah terkenal adalah Badai Laut Selatan, yang terdiri atas puluhan jilid, akan tetapi yang paling populer adalah Darah Mengalir di Borobudur. Serial ini bahkan pernah disandiwararadiokan.

Tercatat, Kho Ping Hoo sudah menulis lebih dari 200 judul cerita silat, dan setiap judul terdiri atas puluhan seri. Beberapa karya Kho Ping Hoo yang terkenal antara lain, Patung Dewi Kwan Im (1960. Jakarta: Analisa), Pendekar Bodoh (1961, Tasikmalaya: Gema), Darah Mengalir di Borobudur (1961. Jakarta: Analisa) dan Badai Laut Selatan (1969. Solo: Gema).

Tak hanya itu, ia juga menggarap cerita dari dua sumber utama, yakni Cina dan Jawa. Diketahui, serial silat terpanjangnya adalah Kisah Keluarga Pulau Es (17 judul cerita, mulai "Bu Kek Siansu" sampai dengan "Pusaka Pulau Es").


Simak berbagai video menarik di sini:


Komentar

Barli Sasmitawinata, Sang Maestro Seni Lukis Realis Indonesia

Koropak.co.id, 26 September 2022 15:17:28

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Barli Sasmitawinata merupakan salah satu seniman lukis yang sangat berpengaruh dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Pria kelahiran Bandung 18 Maret 1921 itu juga dikenal sebagai maestro seni lukis realis sekaligus sosok pelukis yang disegani di Indonesia.

Barli juga berkontribusi besar dalam pendidikan seni rupa di Indonesia, baik itu dalam lembaga formal maupun non-formal. Barli mengawali kariernya sebagai seniman lukis pada 1935-an dengan belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung. 

Ia sendiri mengejar kariernya di dunia seni berkat dorongan dari kakak iparnya. Di bawah bimbingan Jos Pluimentz, Barli mempelajari berbagai macam teknik melukis, salah satunya adalah teknik melukis realis atau naturalis yang pada saat itu tengah naik daun di dunia seni lukis.

Kala itu, Barli pun berhasil menjadi satu-satunya orang pribumi yang belajar seni lukis dengan Pluimentz di Bandung. Selain belajar dengan Pluimentz, di Bandung ia juga sempat berguru kepada seniman asal Italia, Luigi Nobili. 

Saat berada di bawah bimbingan Luigi Nobili inilah, Barli akhirnya bertemu dengan Affandi, yang pada saat itu menjadi model lukis Nobili.

Dalam perjalanannya, ia pernah belajar hingga ke luar negeri dan mendirikan Kelompok Lima Bandung bersama beberapa seniman Indonesia. Siapa sangka, pertemuannya dengan Affandi di studio lukis milik Luigi Nobili itu mengantarkannya berkenalan dengan beberapa seniman lainnya seperti Hendra Gunawan, Soedarso, dan Wahdi Sumanta. 

Mereka pun kemudian membentuk kelompok seni yang dinamakan Kelompok Lima Bandung. Pada masa itu, Kelompk Lima Bandung dianggap sebagai salah satu kelompok seni yang berpengaruh besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan bermunculannya seniman-seniman berbakat dari Kelompok Lima Bandung pada saat itu. 

Meskipun terkesan santai, namun Kelompok Lima Bandung akan sangat fokus ketika berurusan dengan seni lukis. Bersama dengan Kelompok Lima Bandung, Barli yang pada awalnya dikenal sebagai seorang ilustrator pun akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi seorang seniman lukis yang sangat memerhatikan pendidikan seni rupa.

Pada 1948-an, Barli mendirikan studio Jiwa Mukti bersama dengan rekannya, Karnedi dan Sartono. Berselang dua tahun kemudian, ia mendapatkan beasiswa dan berkesempatan untuk belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis. 



Baca: Sekilas Kenang Toeti Heraty, Penyair Akademik


Setelah menamatkan pendidikannya di Perancis pada 1956-an, Barli memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda. Selama belajar di Eropa, ia juga sempat bekerja sebagai ilustrator untuk beberapa majalah. 

Pada 1958-an, Barli memutuskan kembali ke Bandung setelah menamatkan pendidikannya di Eropa, dan langsung mendirikan sanggar lukis Rangga Gempol (sekarang Bale Seni Barli) di Padalarang dan masih bertahan sampai dengan saat ini.

Pada 1961-an, sebagai seorang seniman lukis yang sangat menjunjung tinggi pendidikan seni rupa, Barli pernah menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Tekologi Bandung (ITB). 

Tak hanya itu saja, Barli juga berperan penting dalam berdirinya program studi pendidikan seni rupa di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Setelah itu Barli pun kemudian lebih banyak mengajar murid secara informal di sanggar. Bahkan pada 1992-an, ia mendirikan Museum Barli Bandung. 

Tercatat, beberapa murid Barli yang terkenal diantaranya, But Mochtar, Srihadi Sudarsono, AD Pirous, Abas Alibasyah, Suparto, Popo Iskandar, Anton Huang, Roedyat, Rudi Pranadjaya, dan sederet nama lainnya.

Membanggakannya lagi, karya-karya Barli pernah dipamerkan baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, koleksinya juga dipamerkan di Museum Barli Bandung. Berkat sejumlah karyanya yang menawan, pada tahun 2000, presiden Indonesia memberikan penghargaan Satyalancana Kebudayaan.

Berbagai karya seni lukis yang berhasil diciptakan Barli diantaranya, Pejuang Napitupulu (1946), Gadis Bali & Analisis, hingga Di Pasar #1 (2004). Pada Kamis 8 Februari 2007, Barli meninggal dunia di Rumah Sakit Advent, Bandung di usia ke-86 tahun. Ia meninggalkan 2 anak kandung, 3 anak tiri, 15 cucu, dan 9 buyut. 

Namun sebelum meninggal dunia, Barli sendiri sempat dirawat di rumah sakit selama satu bulan dikarenakan berbagai keluhan sakit usia lanjut. Barli dimakamkan pada Jumat 9 Februari 2007 di Taman Makam Pahlawan Cikutra.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sekilas Kenang Toeti Heraty, Penyair Akademik

Koropak.co.id, 09 September 2022 15:13:43

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id - Toeti Heraty Noerhadi atau lebih dikenal Toeti Heraty merupakan seorang penyair yang juga dosen, pejabat, serta pakar filsafat dan kebudayaan Indonesia. Perempuan kelahiran Bandung, 27 November 1933, itu merupakan putri dari Prof. Raden Rooseno Soerjohadikoesoemo, salah seorang pendiri Universitas Gadjah Mada dan Yayasan Perguruan Cikini.

Dalam meniti perjalanan kariernya, Toeti Heraty pernah mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, Ketua Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Ketua Program Pascasarjana Universitas Indonesia Bidang Studi Filsafat, Rektor Institut Kesenian Jakarta, dan Direktur Biro Oktroi Roosseno. Pada 1994, Toeti dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 

Ia juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) untuk bidang budaya, anggota Dewan Riset Nasional (DRN), hingga pernah menjadi anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) dan Center for Information and Development Studies (CIDES). 

Selain di bidang kebudayaan, Toeti juga aktif dalam kegiatan feminis dengan menjadi Dewan Penasehat di Yayasan Suara Ibu Peduli, dan Koalisi Perempuan Indonesia dan Solidaritas Perempuan. Kariernya sebagai penulis dimulai pada 1966-an dengan mulai menulis sajak.

Karyanya dibukukan dalam kumpulan puisi yang pertama, yakni Sajak-Sajak 33 pada 1973-an, ketika usianya memasuki 43 tahun. Selain menjadi penulis, Toeti juga menjadi editor bunga rampai Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979) antologi puisi penyair wanita Indonesia. 



Baca: Lie Kim Hok, Penulis Sastra Melayu Tionghoa di Masa Rintisan


Bersama A. Teeuw, Toeti berhasil menjadi editor Manifaestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986). Selain itu, ia juga aktif dalam mengikuti beberapa festival internasional, di antaranya Festival Penyair International di Rotterdam (1981) hingga International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City (1984). 

Berbagai puisinya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, di antaranya bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Rusia dan Prancis. Ia lantas disebut sebagai "satu-satunya wanita di antara penyair kontemporer terkemuka Indonesia".

Selain "Sajak-sajak 33" (1973), beberapa karya Toeti di antaranya, "Seserpih Pinang Sepucuk Sirih" (1979), "Mimpi dan Pretensi" (1982), "Aku dalam Budaya" (1984), dan "Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda bersama A.Teeuw" (1986), "Antologi Puisi Indonesia 1977" (1977), hingga "Sembilan Kerlip Cermin (2000).

Karya puisi-pusinya dinilai sulit dimengerti, mengombinasikan 'ambiguitas yang disengaja' dengan 'perumpamaan yang asosiatif dan tak dinyana'. Namun, dengan gayanya yang menggunakan ironi dalam menggarisbawahi kedudukan rendah wanita di masyarakat patriakal itulah yang justru membuat puisinya berbeda dengan para penyair lainnya. 

Toeti Heraty juga dianggap sebagai salah satu wanita pemikir feminis generasi pertama yang banyak menulis pemikiran penting tentang wanita. Pada 13 Juni 2021 Toeti Heraty meninggal dunia di Jakarta dalam usia 87 tahun, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lie Kim Hok, Penulis Sastra Melayu Tionghoa di Masa Rintisan

Koropak.co.id, 08 September 2022 07:15:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Lie Kim Hok dikenal sebagai penulis sastra Melayu Tionghoa pada masa rintisan (1875 s.d. 1895). Pria kelahiran Buitenzorg (sekarang Bogor), 1 November 1853, itu sejak kecil sudah lekat dengan buku.

Saat kecil, ayah Lie Kim Hok mengambilnya dari ibu kandungnya, Oey Tjiok Nio, di Kampung Tengah untuk dibawa ke Cianjur dan dibesarkan bersama istri keduanya. Ia dididik ayahnya dengan cara Cina tradisional. Namun, ibu tirinya mendidiknya dengan kebiasaan lokal.

Pada 1866-an, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Bogor, tempat asal ayah kandungnya, Lie Hian Tjouw. Di Bogor, Lie Kim Hok bersekolah di sekolah privat Cina di bawah pimpinan Tan Liok Ie. Kemudian pada 1869, ia masuk lagi ke sekolah misi di Bogor. 

Di sekolah itu, selama kurang lebih dua tahun, Misionaris van der Linden memberikannya pelajaran bahasa Melayu, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jerman. Tak hanya itu, Lie Kim Hok juga banyak membaca pelajaran dari Plato ke Goethe, Shakespeare ke Thackeray, Lafontaine ke Zola, dan dari Tollens ke Daun. 

Ia lantas menerbitkan sejumlah buku, termasuk buku berjudul "Tjhit Liap Seng" yang dianggap sebagai novel Melayu Tionghoa pertama. Ia juga mendapatkan hak pencetakan untuk Pembrita Betawi, sebuah surat kabar yang bermarkas di Batavia (sekarang Jakarta) dan berpindah ke kota tersebut.

Pada 1884, dalam buku Melayu Betawi yang diterbitkan W. Bruining & Co., Lie Kim Hok dikenal sebagai bapak Melayu Tionghoa. Buku itu berisi aturan-aturan penggunaan bahasa Melayu Tionghoa Peranakan, dan dicetak sebanyak lima ratus eksemplar dengan jumlah halaman 116. 



Baca: Berkenalan dengan Eddy D. Iskandar, Novelis yang Ngepop


Perhatian Lie Kim Hok pada bahasa Melayu Tionghoa Peranakan sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Kemudian, saat berusia 20 tahun, Lie Kim Hok sudah menulis Kitab Edja, sebuah panduan untuk mengeja, membaca, dan menulis bahasa Melayu Tionghoa Peranakan. Lie Kim Hok juga menulis buku Sobat Anak-Anak yang memuat pesan-pesan edukatif dalam bentuk prosa dan syair. 

Selama tujuh tahun lamanya Lie Kim Hok pernah bekerja di percetakan milik van der Linden, Penerbit majalah De Opwekker dan Bintang Djohar, dua majalah dengan dua bahasa, Inggris dan Melayu. Di sana, Lie Kim Hok bekerja sebagai editor di kedua majalah tersebut setelah pulang sekolah.

Saat van der Linden meninggal pada 1885, istrinya tidak dapat mengelola percetakan tersebut, sehingga memilih untuk menjualnya kepada Lie Kim Hok sebesar f1000 (seribu gulden). Beberapa temannya memberi pinjaman ke Lie Kim Hok untuk membeli percetakan tersebut dan mengubah nama percetakan itu menjadi Drukkerij Lie Kim Hok & Co. 

Melalui percetakan itulah Lie Kim Hok menerbitkan Kitab Edja dan Sobat Anak-Anak (terbitan kedua), dan Sair Orang Perampoewan (1885). Salah satu karya terkenalnya adalah Syair Cerita Siti Akbari (1884). 

Di sisa-sisa hidupnya, Lie Kim Hok memfokuskan diri pada penerjemahan dan karya sosial. Hingga di usia 58 tahun, Lie Kim Hok pun meninggal dunia akibat penyakit tifus. Semasa hidupnya, Lie Kim Hok dinilai telah mempengaruhi jurnalisme, linguistik, dan sastra. (PKL - Rivanty)


Silakan tonton berbagai video menarik disini


Nirwan Dewanto, Aktivis yang Jadi Penulis Produktif

Koropak.co.id, 05 September 2022 07:18:11

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jakarta - Nirwan Dewanto adalah budayawan yang juga dikenal sebagai aktor, kurator, penulis esai, sekaligus penyair. Pria kelahiran Surabaya, 28 September 1961 ini mulai dikenal karena memerankan tokoh Albertus Soegijapranata dalam film biopik Soegija (2012) yang disutradarai Garin Nugroho.

Nirwan mulai berkecimpung di dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMA. Beberapa puisinya dimuat di majalah Kuncung dan Kartini. Selama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dari 1980 hingga 1987, dia dikenal sebagai mahasiswa pro-demokrasi dan memimpin Gerakan Apresiasi Sastra (GAS) ITB.

Usai lulus dengan gelar Sarjana Geologi, dia pindah dan bermukim di Jakarta. Pada tahun 1990-an, dia sempat menjabat sebagai redaktur sastra majalah Horison, saat itu redaksinya dipimpin oleh Goenawan Mohamad. 

Tahun 1991, kiprah Nirwan di bidang kesenian dimulai saat ia menjadi pembicara pada acara Konferensi Budaya Nasional. Setelahnya, dia dikenal sebagai sosok yang banyak membicarakan budaya. 

Di tahun 1994, dia menjadi redaktur majalah Kalam. Dua tahun kemudian, menerbitkan kumpulan esai yang diberi judul Senjakala Kebudayaan. Dia juga tercatat menduduki kursi juri dalam debut penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2001, dan di kemudian hari dia menyebut bahwa seleksi kurang baik, sehingga dewan juri terkadang menilai karya sastra secara sembarangan.



Baca: Pendiri Kerajaan, Jaka Tingkir Bukan Sosok Sembarangan


Pada tahun yang sama, Nirwan melahirkan antologi puisi berjudul Buku Cacing. Usai tidak duduk lagi di bangku juri, dia berhasil memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2008 untuk buku antologi puisinya yang berjudul Jantung Ratu Lebah, penghargaan ini juga mencakup honorarium senilai Rp100 juta. Seno Gumora Ajidarma, penulis sekaligus juri, menyebut karya Nirwan tersebut adalah karya monumental.

Pada tahun 2010, Nirwan kembali melahirkan antologi puisi berjudul Buli-Buli Lima Kaki dan kembali memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2011. Di tahun berikutnya, beberapa karyanya dipentaskan bersama musik oleh Dian HP. Nirwan dan istrinya, Nya Ina Raseuki, juga turut mengisi kegiatan tersebut. 

Bukunya yang lain adalah Kebudayaan Indonesia: Pandangan (1991), Satu Setengah Mata-Mata (2016), Buku Jingga (2017), dan Buku Merah (2018). Dimana dua buku terakhir secara dekonstruktif mengolah ragam karakter dari epos Ramayana dan Mahabharata. Tak ayal jika Buku Jingga ditetapkan sebagai buku terbaik 2018 oleh Majalah Tempo.

Nirwan juga tercatat sebagai redaktur sastra Koran Tempo selama 14 tahun sejak media itu mulai terbit pada 2001. Namun media ini menghentikan penerbitan cetaknya di penghujung tahun 2020, lantaran meningkatnya jumlah pembaca yang berlangganan koran Tempo digital. Kini, dia aktif di Komunitas Salihara yang didirikan bersama para sastrawan dan musisi seperti Goenawan Mohamad, Ayu Utami, dan Tony Prabowo.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Bela Roekmini pada Rakyat Kecil, Wanita Kedua Berpangkat Jenderal Polisi

Koropak.co.id, 03 September 2022 15:16:39

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Brigadir Jenderal Pol (Purn.) Dra. Roekmini Koesoema Astoeti dikenal sebagai sosok wanita kedua yang berhasil mencapai pangkat Jenderal Polisi di Indonesia. Sebelumnya ada Brigjen Pol (Purn) Jeanne Mandagi.

Perempuan kelahiran 14 September 1938 itu merupakan anak keenam dari delapan bersaudara pasangan R. Soedarso dan Raden Ayu Soemina. Roekmini menikah dengan Ir. Mas Soejono dan dikarunia empat anak bernama Sih Wening Wijayanti, Ardi Wijaya, Giri Wijaya Sidi, dan Bagus Aji Mandiri.

Saat Roekmini baru berusia 7 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ayahnya yang merupakan Kepala Kehutanan Saradan, Madiun, meninggal dunia. Ia bersama kakaknya, Palupi, Roekmini ikut dengan pamannya. 

Ada kisah menarik yang dialami Roekmini saat menjalani masa sulit dalam hidupnya. Pada 1952-an, ia bersama kakaknya menulis surat yang ditujukan untuk Presiden Soekarno. Dalam suratnya itu, dia meminta agar Bung Karno mengirimkan sepeda. 

Sekitar enam bulan selepas mengirimkan surat, Roekmini bersama kakaknya diminta untuk hadir di Karesidenan Madiun. Surat yang dikirimnya itu dibalas. Bung Karno secara langsung memberikan mereka uang sebesar Rp.500 untuk membeli sepeda. 

Namun, uang itu ditolak oleh Roekmini dan kakaknya, karena yang mereka butuhkan adalah sepeda, bukan uang. Setelah itu Bung Karno langsung membelikan sepeda dari uang yang awalnya akan diberikan pada mereka.

Setelah lulus SMA, Roekmini melanjutkan pendidikannya di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), 1964. Setelah lulus kuliah, ia justru memilih karier dengan masuk kepolisian. Berbagai tugas pernah diembanny, mulai dari menjadi Staf Asisten Intel Khusus di Polwil 096 Yogyakarta, Kepala Seksi Pembinaan Ketertiban Masyarakat, Kepala Seksi Psikologi, hingga Kepala Biro Organisasi Sosial Politik Kowilhan II/Jawa Madura.

Di antara semua tugas yang pernah dijalaninya itu, menjadi Staf Asisten Intel adalah salah satu tugasnya yang paling berat. Saat itu ia harus menangani kasus pemerkosaan Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di wilayahnya.



Baca: Mengenang Wafatnya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia


Diketahui, Roekmini berhasil menjadi lulusan terbaik kedua kursus kekaryaan ABRI pada 1978-an. Dikarenakan prestasi itu, pada 1982-an, Roekmini ditunjuk sebagai anggota DPR mewakili Polri. Saat itu, Roekmini juga menjadi satu-satunya wanita di antara 90 anggota Fraksi ABRI di DPR.

Roekmini juga sempat ditugaskan di Komisi IX dan Komisi IV, hingga di Komisi II yang berhadapan dengan banyak kasus yang menyangkut kehidupan rakyat kecil secara langsung, salah satunya kasus tanah. 

Ia dikenal sebagai tokoh yang unik di Gedung MPR/DPR dikarenakan keberpihaknnya kepada rakyat kecil. Pengenalannya secara langsung akan kehidupan rakyat kecil diduga menjadi penyebab Roekmini tampil sebagai anggota DPR yang sangat vokal kala itu.

Roekmini menilai bahwa ABRI harus bisa menyuarakan kepentingan rakyat, dan memperjuangkan agar proses pengambilan keputusan politik tidak meninggalkan rakyat. Kendati demikian semua ucapannya itu tak serta merta dilontarkan begitu saja, karena ia juga sudah terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan atasannya.

Baginya, yang terpenting adalah tidak mengkhianati Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, dan ABRI. Sayangnya, dikarenakan keberaniannya itu, setelah dua periode menjabat, pada 1992-an, akhirnya ia dicopot dari DPR bersama sepuluh orang rekannya dari Fraksi ABRI. 

Setelah itu, Roekmini dipindahkan ke Markas Besar ABRI sebagai staf yang membantu Kasospol ABRI. Kemudian pada 1993-an, ia berhasil mendapat kepercayaan untuk duduk di Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia. 

Ia menilai, posisi yang didapatkannya ini merupakan tempat yang sangat tepat baginya. Hal itu dikarenakan pada masa-masa terakhir Orde Baru, Komnas HAM menjadi tumpuan bagi para pencari keadilan. 

Pada 2 September 1996, Roekmini meninggal dunia di usia ke-57 tahun akibat kanker tenggorokan. Jenazahnya dikebumikan di makam keluarga yang berada di Mangunarsan, Desa Baerejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pendiri Kerajaan, Jaka Tingkir Bukan Sosok Sembarangan

Koropak.co.id, 02 September 2022 15:11:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Lagu "Joko Tingkir Ngombe Dawet" yang diciptakan Ronald Dwi Febriansyah belakangan ini populer setelah dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi Indonesia. Sayangnya, lagu tersebut menuai kontroversi, karena dinilai melecehkan Jaka Tingkir yang dikenal sebagai tokoh besar.

Akibat kontroversi itu Ronald menyampaikan permintaan maaf, dan mengaku dirinya tidak mengetahui bahwa sosok Jaka Tingkir merupakan tokoh penting dalam sejarah. Ia akhirnya mengganti lirik dari "Joko Tingkir Ngombe Dawet" menjadi "Mbah Amer Ngaret Suke". Itu dilakukannya, karena tidak ingin polemik lagu yang diciptakannya berkepanjangan.

Lantas, Jaka Tingkir? Pada zaman Kerajaan Demak, hiduplah seseorang yang diberi nama Joko Tingkir atau Jaka Tingkir. Ia lahir pada 18 Jumadilakhir tahun Dal Mangsa VIII saat hampir subuh dengan nama Raden Mas Karebet.

Alasan dinamakan Karebet, dikarenakan pada saat dirinya lahir, sang ayah, Ki Ageng Pengging atau dikenal juga dengan nama Kebo Kenanga, kala itu menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalangnya Ki Ageng Tingkir. 

Saat pertunjukan berlangsung, suara wayang itu terdengar seperti "kerembet" tertiup angin dan jadilah Jaka Tingkir pun dinamakan "Mas Karembet". 



Baca: Sosok Cornelis de Houtman, Si Pembawa Imperialisme


Saat Mas Karembet berusia 10 tahun, sang ayah dihukum mati karena dituduh melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak. Akibat kejadian itu, sang ibu, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal dunia. Setelah itu, Mas Karebet dijadikan anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir. Sejak beranjak remaja, Mas Karebet akhirnya lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir.

Sejak muda, Jaka Tingkir dikenal sebagai pemuda yang gemar bertapa, berlatih bela diri, dan kesaktian. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan tampan. Kendati ayahnya dibunuh atas perintah sultan, namun Jaka Tingkir tidak menyimpan dendam dan tetap belajar serta mengabdikan dirinya ke Kerajaan Demak. Ia menjadi abdi dalem sultan ketiga Kerajaan Demak, Sultan Trenggana.

Jaka Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya merupakan pendiri Kerajaan Pajang dan menjadi raja pertama antara 1568 s.d. 1582. Selama 15 tahun berkuasa, ia berhasil mengantarkan kerajaannya pada puncak kejayaan. Namun, saat terjadi perang antara Pajang dan Mataram, sepulang dari pertempuran, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Semasa hidupnya, Jaka Tingkir juga dikenal sebagai ulama besar yang masyhur sekaligus murid kesayangan Sunan Kalijaga. Jaka Tingkir juga merupakan kakek ketiga KH Hasyim Asyari yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). 

Garis keturunan Jaka Tingkir juga sampai pada Sunan Giri. Oleh karena itu, Jaka Tingkir dikenal sebagai sesepuh dari tokoh-tokoh agama yang sangat dihormati di Indonesia. Ia juga turut serta dalam memperjuangkan agama Islam yang kemudian diteruskan oleh cucu-cucunya sampai dengan saat ini.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Triyanto Triwikromo, Menuangkan Keresahan dalam Tulisan

Koropak.co.id, 01 September 2022 15:16:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Triyanto Triwikromo dikenal sebagai penulis produktif yang telah membuat banyak karya. Pada 2008, misalnya, ia membaut puisi tentang tragedi Lumpur Lapindo yang diterbitkan dwibahasa dalam Mud Purgatory, Australia.

Berselang dua tahun, 2010, ia membuat kumpulan puisi Pertempuran Rahasia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Selain itu, Triyanto juga terlibat dalam penggarapan program citybooks yang dibuat oleh rumah produksi dari Belgia, deBuren. Ia membuat 10 puisi panjang tentang Semarang yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis.

Sebelumnya, Triyanto menerbitkan kumpulan cerpen, seperti Rezim Seks (1997), dan Ragaula (2002). Bersama cerpenis Herlino Soleman, ia juga membuat kumpulan cerpen Pintu Tertutup Salju (2000). 

Pria kelahiran Pungkur Sari, Salatiga, 15 September 1964, itu menghabiskan masa pendidikannya mulai dari SD s.d SMA di Salatiga, lalu pindah ke Semarang untuk kuliah di Universitas Negeri Semarang. 

Triyanto menikah dengan Wiwik Triastuti, dan dikarunia tiga anak, yaitu Primaera Restu Wingit Anjani, Sanrez Adami, serta Ibrah Fastabiqi. Selain sebagai sastrawan, Triyanto juga jadi redaktur dan dosen Penulisan Kreatif di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang. 



Baca: Cara Tak Biasa Yudhistira ANM Mencari Cinta


Ia diketahui kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra dengan menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988), Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003), Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.

Triyanto mengatakan, motivasi awalnya menjadi penulis adalah untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan menulis, ia merasa bebas dalam mengungkapkan segala masalah yang ada dalam kehidupan.

Padahal, sebelumnya ia merupakan guru. Pada 1985, ia pernah bekerja sebagai guru SD di Salatiga. Lalu, pada 1990 Triyanto memutuskan untuk merantau ke Jakarta, dan pernah menjadi supervisor di sebuah diskotik. Setahun kemudian, ia memutuskan kembali ke Semarang dan menjadi wartawan.

Kendati sempat bekerja di dunia nonpenulisan, kecintannya pada menulis tidak lantas ditinggalkan. Bahkan, pada 1989-an, Triyanto dinobatkan menjadi penyair terbaik versi majalah Gadis. Pada dasawarsa 1990-an, Triyanto bersama Sosiawan Leak dan lainnya, disebut sebagai tokoh yang memelopori gerakan revitalisasi sastra pedalaman.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cara Tak Biasa Yudhistira ANM Mencari Cinta

Koropak.co.id, 29 August 2022 12:38:57

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Yudhistira Ardi Nugraha Moelyana Massardi atau yang lebih dikenal dengan nama Yudhistira ANM Massardi merupakan pengarang berbagai jenis karya sastra, mulai novel, cerpen, puisi, hingga naskah sinetron.

Pria kelahiran Karanganyar, Subang, 28 Februari 1954, itu merupakan anak dari pasangan Massardi dan Mukinah. Yudhistira memiliki kembaran bernama Noorca, dan saat keduanya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, mereka pindah ke Yogyakarta.

Setelah itu, Yudhistira melanjutkan sekolahnya di SMA Taman Siswa, Yogyakarta. Kemudian pada 1972-an, ia sempat mengikuti pendidikan di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang sekarang bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama satu semester.

Setelah melihat tulisan saudara kembarnya, Noorca, dimuat di koran Jakarta, 1994, Yudhistira lebih termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Padahal, sebenarnya ia sudah menulis karya sastra sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Tulisan-tulisannya sudah dipublikasikan ketika duduk di SMP, dan salah satu tulisannya berjudul "Aku Cinta Padamu" dipublikasikan di Warta Minggu. Ia juga sering menggunakan nama samaran Yan dengan tujuan untuk memudahkannya dalam menulis.

Terkait urusan asmara, Yudhistira berbeda dengan pria pada umumnya. Pencarian calon pasangan hidupnya terbilang unik. Ia mengibaratkan wanita sebagai buku. Jika seorang wanita sudah sering berpacaran, berarti halaman bukunya sudah banyak tulisan. 

Untuk itu, ia mencari wanita yang belum pernah pacaran atau bagaikan buku yang masih bersih. Syahdan, ia menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis cilik bernama Aprisca Hendriany atau akrab disapa Sisca yang kala itu masih berumur 10 tahun. 



Baca: Muhamad Musa, Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda


Jika ada orang bertanya tentang gadis itu, Yudhistira selalu menjawab keponakannya. Memasuki usia 18 tahun, Yudhistira pun menikahi Sisca, tepatnya pada 1985. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikarunia tiga orang anak bernama Igadada Yudhistira, Matatiya Yudhistira, dan Kafka Dikara Yudhistira.

Pada 1976-1978, Yudhistira pernah menjadi redaktur majalah Le Laki, kemudian majalah Tempo (1979-1981), majalah Jakarta Jakarta (1985-1987), majalah Editor (1988), hingga majalah Gatra. Yudhistira juga banyak menulis lirik yang kemudian dilagukan duet kakak-beradik Franky dan Jane.

Pada 1977, Yudhistira dengan karya novelnya berjudul "Arjuna Mencari Cinta" berhasil meraih penghargaan sebagai novel bacaan remaja terbaik dari Yayasan Buku Utama hingga novel tersebut juga sempat ramai diperbincangkan saat itu.

Diketahui, novel tersebut merupakan sebuah karikatur kehidupan remaja pada masa itu dengan gaya bahasanya yang hidup hingga mampu memikat pembaca sampai baris terakhir. Selain itu, semua tokoh yang dikisahkan dalam novel itu juga memakai nama wayang. 

Yudhistira juga berhasil mendapatkan hadiah harapan dalam Sayembara Penulisan Naskah Drama DKJ untuk naskah dramanya berjudul "Wot (1977)" dan "Ke (1978)". Kemudian untuk novelnya berjudul "Mencoba Tidak Menyerah" juga mendapatkan Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1977.

Kritikus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, juga pernah menyebutkan bahwa Yudhistira merupakan penulis muda berbakat. Ia menilai, Yudhistira tidak ambil peduli apakah hasil tulisannya tersebut bernilai sastra atau tidak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Eddy Sud, Seniman Legendaris Perintis Grup Lawak Kwartet Jaya

Koropak.co.id, 16 August 2022 07:03:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Eddy Sudihardjo atau lebih dikenal dengan nama Eddy Sud merupakan aktor sekaligus pelawak legendaris Indonesia yang terkenal di era 1960-an. Pria kelahiran 20 Agustus 1937 dan meninggal 16 Agustus 2005 itu juga dikenal sebagai perintis acara Aneka Ria Safari yang ditayangkan stasiun TVRI pada era 80-an.

Eddy Sud merupakan lulusan SMA De Britto, yang kemudian menyelesaikan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada. Ia juga tercatat pernah menikah dua kali. Diketahui, setelah istri pertamanya, Lili Rosiana meninggal dunia, Eddy menikah dengan seorang penyanyi bernama Itje Trisnawati. 

Sayangnya rumah tangga mereka tak mampu bertahan hingga memutuskan untuk bercerai. Dari hasil pernikahan dengan istri pertamanya, Lili Rosiana, Eddy Sud dikaruniai empat orang anak bernama Irawan Achmad, Dewi Tjahyani, Subuh Priyadi, dan Indah Safariani. Sedangkan dari hasil pernikahan dengan istri keduanya, Itje Trisnawati, ia dikaruniai dua orang anak bernama Eka Sutrisnawati dan Eti Suryawati.

Eddy Sud mengawali kariernya dengan menjadi seorang pelawak tunggal, hingga pada akhirnya bertemu dengan Us Us dan mereka memutuskan untuk berduet bersama pada 1959-an.

Berselang 1 tahun, tepatnya pada 1960-an, Eddy membentuk grup lawak EBI bersama Bing Slamet dan Iskak. Pada 1967-an, anggota grup bertambah dengan bergabungnya Ateng. Kemudian Eddy memutuskan untuk mengganti nama grup lawaknya menjadi grup "Kwartet Jaya".



Baca: Gusti Nurul dan Penampilannya yang Memukau di Belanda


Diketahui, Kwartet Jaya merupakan sebuah grup lawak yang merajai pementasan di era 70-an. Anggotanya adalah Eddy Sudihardjo (Eddy Sud), Bing Slamet, Kho Tjeng Lie (Ateng) dan Iskak Darmo Suwiryo (Iskak). 

Dipuncak ketenarannya kala itu, Eddy bersama Bing Slamet dan Butjuk Suharto selanjutnya mendirikan PT Safari Sinar Sakti Film hingga merintis acara "Aneka Ria Safari" yang tayang di stasiun TVRI. Namun, setelah Bing Slamet meninggal dunia, grup lawak Kwartet Jaya kemudian mengalami perubahan. Tapi tak lama setelahnya, Kwartet Jaya bubar. 

Sepanjang kariernya di dunia seni peran, berbagai film pernah dimainkan, mulai dari Berabe (1960), Kuntilanak (1961), Marina (1961), Panon Hideung (1961), Tujuh Pradjurit (1962), Hantjurnya Petualang (1966), Bing Slamet Setan Djalanan (1972), Bing Slamet Dukun Palsu (1973), Ateng Kaya Mendadak (1975), Ateng Mata Keranjang (1975) dan lain-lain.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tiga Anak Muda dalam Lantunan Dua Budaya

Koropak.co.id, 13 August 2022 12:07:10

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id - Nama band Soegi Bornean kian melejit usai lagu bertajuk Asmalibrasi dikenal banyak orang. Disamping itu, dalam channel YouTube Vindes, Fiersa Besari sebagai penulis sekaligus musisi indie mengaku suka akan eksistensi band ini. Selain namanya yang khas, band ini juga punya aliran unik.

Soegi Bornean adalah band beraliran musik folk pop yang memadukan dua budaya, Jawa dan Kalimantan. Dilihat dari namanya yang terkesan merujuk pada Borneo, seakan ingin menunjukkan berasal dari daerah tersebut. Terutama dalam penampilannya, band ini selalu mengenakan kain-kain etnik. 

Nyatanya, Soegi Bornean berasal dari Semarang dan berdiri sejak 21 April 2019 lalu. Nama Soegi diambil dari kata sugih yang berarti kaya. Sementara Bornean dipilih lantaran kecintaan para personilnya terhadap tanah Borneo. Meski menurut laman Kompas, nama Borneo dipilih karena sang vokalis berasal dari Kalimantan.

Berbicara mengenai para personelnya, band ini terdiri dari tiga orang. Fanny Soegiarto sebagai vokalis, Aditya Ilyas dan Damar Komar sebagai gitaris. Namun pada 2020, Bagas Prasetyo bergabung menggantikan posisi Damar Komar.



Baca: Sekilas Tentang Saadah Alim, Pengarang Wanita Pertama di Indonesia


Bermula dari teman nongkrong, ketiganya menemukan satu kesamaan dalam mengagumi lantunan Jawa dan Kalimantan. Alhasil, mereka berhasil memadukan dua budaya tersebut dalam setiap lagu-lagu garapannya. Diantaranya ada Asmalibrasi, Bait Perindu, Haribaan, Kala, Pijaraya, Raksa, Samsara, Saturnus, dan Semenjana.

Lagu-lagu itu dimulai dengan intro nuansa Jawa yang lantas disusul dengan gitar lain dengan nada Kalimantan. Keunikan lain pada lagu-lagu mereka adalah tuturan liriknya yang kaya akan muatan sastra. Bahasa yang digunakan juga cukup baku dan tidak umum, dengan makna yang dalam.

Berkaitan dengan hal tersebut, Soegi Bornean mengulik beragam literatur seperti buku-buku dan tentu saja KBBI. Dari semua lagu yang diciptakan, Asmalibrasi menjadi salah satu yang banyak digemari anak muda lantaran terdengar romantis. Walau pihak Soegi Bornean mengaku sasaran lagunya adalah untuk semua kalangan.

Soegi Bornean punya konsep bermusik yang membumi dan amat sederhana. Dengan alat musik yang hanya mengandalkan dua gitar dan satu keyboard, serta kain etnik yang selalu dikenakan. Bisa dibilang, Soegi Bornean adalah geliat kawula muda dalam menunjukkan indahnya budaya Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Gusti Nurul dan Penampilannya yang Memukau di Belanda

Koropak.co.id, 12 August 2022 15:18:25

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Nama Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal dengan Gusti Nurul sempat menjadi buah bibir pada masanya. Ia adalah putri tunggal dari pasangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur.

Gusti Nurul terkenal dengan parasnya yang cantik, cerdas, serta mempunyai keteguhan dalam memegang sikap. Tak heran, Ratu Belanda kala itu menjulukinya dengan julukan "De Bloem van Mangkunegaran" atau "Kembang dari Mangkunegaran".

Selain aktif dalam berbagai aktivitas sosial, Gusti Nurul memiliki bakat menari, kemampuan sastra, dan menonjol dalam bidang olahraga. Ia mahir bermain tenis dan mengendarai kuda. Di sisi lain, Gusti Nurul juga turut berperan dalam masa-masa penting, seperti pada masa pergolakan fisik pasca-kemerdekaan.

Saat itu, ia menaruh pehatian utamanya pada dampak pergolakan fisik yang terjadi di Solo dan sekitarnya. Ia juga turut membangun stasiun radio "Solosche Radio Vereeniging", cikal bakal dibentuknya Radio Republik Indonesia (RRI).

Gusti Nurul dibesarkan di lingkungan istana yang lekat dengan pandangan tradisi, salah satunya budaya poligami. Kendati dibesarkan dalam lingkungan kraton, Gusti Nurul justru lebih memilih hidup dengan pemikiran yang melampaui zamannya.

Dikarenakan kepandaian dan keluwesannya dalam menari, pada 1937-an, tepatnya ketika usianya masih 15 tahun, Gusti Nurul diundang oleh Ratu Wilhelmina ke Belanda untuk menari dalam acara pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard. 



Baca: Muhamad Musa, Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda


Gusti Nurul berangkat ke Belanda bersama ayah dan ibundanya dengan menggunakan kapal Marnix tanpa membawa serta peralatan musik gamelan. Sebagai gantinya, alunan gamelan dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan secara langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging.

Ia tampil dengan mempersembahkan Tari Sari Tunggal atau tari dari Kraton Yogyakarta yang dipelajarinya dari kakak ibunya, Pangeran Tedjo Kusumo. Ia berhasil memesona banyak orang di acara pernikahan yang diadakan di Istana Noordeinde tersebut. 

Hal itu membuat nama Gusti Nurul dan Pura Mangkunegaran menjadi perbincangan banyak orang hingga masuk ke berbagai surat kabar. Salah satunya majalah legendaris Amerika Serikat "Life" yang secara khusus menerbitkan foto Gusti Nurul yang sedang menari pada terbitan edisi 25 Januari 1937, sekaligus menjadi satu-satunya orang Indonesia yang fotonya pernah masuk dalam majalah Life.

Berkat kecantikan dan kecerdasannya, banyak orang yang ingin mempersunting dirinya, termasuk para tokoh besar Indonesia. Mulai dari Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Syahrir, Pangeran Djati Kusumo yang merupakan Putra Susuhunan Paku Buwono X, hingga Soekarno. 

Namun, mereka tidak mendapat tempat di hati Gusti Nurul. Hatinya terpaut kepada seorang kolonel militer, yakni Surjo Sujarso. Kendati bukan sosok yang menonjol di TNI, Surjo memiliki sifat yang lembut, dengan tutur katanya yang sopan, khas didikan keluarga aristokrat.

Setelah menikah, Gusti Nurul memutuskan untuk tidak menetap lagi di Pura Mangkunegaran dan mengikuti jejak sang suami dengan tinggal di Bandung. Dari pernikahannya lahir tujuh orang anak, empat belas orang cucu, dan seorang cicit. 

Ia meninggal dunia di rumah sakit Santo Carolus, Bandung, 10 November 2015, dan dimakamkan di Astana Giri Layu, Matesih Karanganyar.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Muhamad Musa, Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda

Koropak.co.id, 09 August 2022 07:22:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Raden Hadji Moehamad Moesa atau yang lebih dikenal juga dengan Muhamad Musa merupakan seorang sastrawan, penghulu, sekaligus ulama kelahiran Garut, 1822. Ia berasal dari keturunan bangsawan, putra Raden Rangga Suryadikusumah, seorang patih dari Kabupaten Limbangan (sekarang Kabupaten Garut). 

Pendidikannya ditempuh di sebuah pesantren di Purwakarta. Saat ada waktu luang, Muhamad Musa belajar pengetahuan umum, khususnya mengenai sosial budaya Sunda. Selain itu, ia juga turut mempelajari keterampilan yang berkaitan dengan birokrasi pemerintahan.

Saat usianya masih muda, ia diajak oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Dikarenakan ingin lebih fokus dalam bidang keagamaan, sekitar 1852, Muhamad Musa menolak tawaran Pemerintah Hindia Belanda yang memberikan tawaran untuk menjadikannya sebagai kepala gudang.

Tiga tahun kemudian atau tepatnya pada 1855, Pemerintah Hindia Belanda mengangkatnya sebagai Hoofdpanghoeloe atau penghulu besar di Kabupaten Limbangan. Ia bertugas mengurusi segala hal yang berkaitan dengan keagamaan Islam, mulai dari kelahiran, kematian, dakwah, hingga pernikahan.

Semasa hidupnya, Muhamad Musa bersahabat dengan pengusaha ladang teh berkebangsaan Belanda di Cikajang, K. F. Holle yang merupakan penasihat Pemerintah Hindia-Belanda. Hubungan erat yang terjalin antara Musa dengan Holle itu ternyata menguntungkan kedua belah pihak. 



Baca: Heri Dono, Seniman Indonesia yang Mendunia


Bagi Musa, ia merasa beruntung karena hubungan yang dijalinnya itu dapat mempermudahkan pergaulannya dengan bangsa Belanda. Bahkan, pandangan Pemerintah Hindia-Belanda kepada dirinya menjadi baik hingga membuatnya sangat dipercayai.

Dikarenakan jasa-jasa yang telah dilakukannya, Musa pernah dijanjikan jabatan tinggi sampai tujuh keturunan oleh Pemerintahan Hindia-Belanda. Selain itu, berkat hubungan erat persahabatannya dengan Holle, Musa juga diperbolehkan untuk mengembangkan bakat atau minat menulis dan mengarangnya, hingga dia mampu menciptakan karya-karya terbaiknya.

Tercatat, Musa berhasil menciptakan karya mulai dari hasil karangan sendiri maupun hasil terjemahan yang boleh dicetak sampai dengan ribuan eksemplar di Batavia (sekarang Jakarta) hingga membuatnya mendapatkan julukan sebagai "Pelopor Kesusastraan Cetak Sunda".

Sebagai pengarang, sejumlah karya berhasil diciptakannya, salah satunya Wawacan Panji Wulung (1871). Karya lain yang telah dicetak di antaranya Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongeng-dongeng, Wawacan Wulang Tani (1862), Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala (1863), Ali Muhtar, Elmu Nyawah (1864), Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru (1865), Dongeng-dongeng nu Araneh (1866), Dongeng-dongeng Pieunteungeun (1867), Wawacan Lampah Sekar (1872) hingga Santri Gagal, Hibat (1881).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: