Diciptakan Beragam, Begini Ciri-Ciri Suku Bangsa

Koropak.co.id, 02 April 2022 12:16:31
Penulis : Eris Kuswara
Diciptakan Beragam, Begini Ciri-Ciri Suku Bangsa


Koropak.co.id - Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman suku bangsanya yang tersebar di berbagai daerah di bumi Nusantara. 

Tercatat, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa. Suku-suku bangsa di Indonesia pun juga mempunyai berbagai perbedaan yang membentuk keanekaragaman di Indonesia.

Sehingga jika melihat contoh dari Indonesia, maka keberagaman kehidupan sosial budaya juga tercipta dikarenakan adanya isolasi geografis.

Lantas, apa yang menjadi ciri-ciri dari suku bangsa? Bagaimana suatu kelompok itu bisa digolongkan sebagai suku bangsa?

Dilansir dari berbagai sumber, perbedaan suatu suku bangsa dengan suku bangsa yang lainnya itu bisa dilihat dari ciri-ciri fisiknya.

Diketahui, setiap suku bangsa yang ada di dunia itu mempunyai ciri-ciri fisik yang berbeda dengan suku bangsa lain, misalnya suku bangsa Eropa yang memiliki kulit putih kemerahan. Sedangkan suku bangsa Afrika memiliki kulit sawo matang hingga hitam.

Selain itu, suku bangsa Mongol juga cenderung memiliki kelopak mata tebal dan mata yang sipit. Sedangkan untuk suku bangsa Arab memiliki kelopak mata besar dan mata yang bulat.

Tak hanya ciri fisik, setiap suku bangsa di dunia juga tentunya memiliki bahasa dalam kehidupan sehari-hari, baik itu bahasa nasional maupun bahasa adat yang beragam.



Baca : Empat Faktor Penyebab Keanekaragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia


Perbedaan bahasa ini tentunya juga sangat berpengaruh pada keberagaman suku bangsa. Kemudian, perbedaan bahasa ini pun menjadikan banyak logat dan dialek dari daerah yang berbeda, meskipun kedua suku bangsa itu berbicara bahasa yang sama. Contohnya saja seperti Bahasa Inggris Amerika Serikat dan Inggris yang memiliki logat yang berbeda.

Kemudian untuk ciri selanjutnya adalah perbedaan kebudayaan yang memiliki ciri khas masing-masing. Sebab, kebudayaan tersebut juga merupakan cerminan dari suku bangsa itu sendiri.

Perbedaan kebudayaan ini dapat dilihat dari produk kesenian, adat istiadat, tata krama, norma sosial, dan lain sebagainya. Contohnya kebudayaan suku bangsa di India, pastinya akan berbeda dengan kebudayaan suku bangsa di Tiongkok.

Suku bangsa yang ada di dunia juga tentunya memiliki wilayah yang menjadi domisilinya masing-masing. Diketahui, wilayah domisili ini merupakan wilayah tempat tinggal yang di mana seseorang banyak menghabiskan waktunya di wilayah tersebut

Meskipun dikarenakan kecanggihan alat transportasi saat ini, namun suku bangsa di dunia itu sendiri bisa tersebar di berbagai daerah. Akan tetapi, tetap saja setiap suku bangsa akan memiliki wilayah tempat tinggalnya masing-masing.

Contohnya seperti suku bangsa Aborigin yang mendiami benua Australia serta suku bangsa Indian, yang merupakan penduduk asli benua Amerika.*


Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini



Komentar

Rentak Kudo, Tarian Sakral Masyarakat Petani Kerinci Jambi

Koropak.co.id, 09 August 2022 12:16:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jambi - Kabupaten Kerinci, Jambi, punya kesenian sakral masyarakat petani yang disebut Tari Rantak atau lebih dikenal dengan Tari Rentak Kudo. Dinamakan Rantak Kudo dikarenakan gerakan dalam tariannya yang menghentak-hentak layaknya seperti kuda. Tarian yang indah itu mengedepankan dan menegaskan ketajaman gerakan dari para penarinya. 

Gerakannya sangat dinamis, terinspirasi dari seni pencak silat. Dalam gerakannya menimbulkan bunyi dari hentakan kaki yang selaras. Hal lain yang melekat dalam tarian itu adalah dalam pertunjukannya para penari dirasuki makhluk halus hingga bertingkah tak seperti manusia normal. Tak heran, saat tarian tersebut digelar, aroma kemenyan akan tercium di sekitar tempat pagelaran.

Biasanya, tarian tradisional tersebut dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang akan berlangsung selama berhari-hari tanpa henti. Terkadang, jika daerah Kerinci dilanda musibah musim kemarau yang panjang, masyarakat akan turut mementaskan kesenian dalam rangka berdoa memohon kepada Tuhan agar dimudahkan segala urusannya. 

Dalam pelaksanaannya, mereka akan berdoa dan memohon kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Tujuan dari pementasan tarian itu pada umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat.



Baca: Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau


Tujuan lainnya adalah untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat dalam musim subur atau juga dalam musim kemarau sebagai upaya memohon berkah hujan yang dianggap sakral oleh masyarakat Kerinci.

Dijelaskan, Tarian Rentak Kudo merupakan adaptasi dari tari Asyek, namun ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam tari Asyek terdapat persembahan atau sesajen, sedangkan pada tari Rentak Kudo tidak ada sesajen sama sekali. 

Selain itu, kesenian tradisional tersebut juga sangat identik sekali dengan bahasa dan gaya bahasa masyarakat Kerinci daerah Rawang dalam menembangkan syairnya yang disebut "Asuh" dan penyanyinya sering disebut "Pengasuh".

Mayoritas pengasuh atau penyanyi dalam Rentak Kudo berasal dari daerah Tanjung Rawang, yang berada di hilir hamparan Rawang dengan menyusuri pinggiran Sungai Batang Merao yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal itu dapat dilihat dari lirik dan pantun serta Bahasa Rawang yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Makepung, Tradisi Balap Kerbau yang Berawal dari Iseng

Koropak.co.id, 08 August 2022 07:15:24

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Tak hanya memiliki pesona wisatanya yang terkenal sampai ke mancanegara, Bali juga memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang tetap dilestarikan sampai saat ini. Satu di antaranya tradisi Makepung.

Tradisi yang berasal dari Kabupaten Jembrana itu merupakan balapan kerbau yang dilakukan masyarakat petani, dan sudah berlangsung secara turun-temurun. Biasanya, tradisi Makepung dilakukan pada saat musim tanam padi tiba.

Makepung telah menjadi identitas dari Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai "daerah buangan" bagi masyarakat "pembangkang". Selain itu, Jembrana juga turut dikenal sebagai daerah yang heterogen dan lebih terbuka terhadap perubahan.

Selain sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang, di sisi lain tradisi makepung juga memiliki arti sebagai olahraga gaya petani Bali lawas. Tradisi ini juga dinilai untuk memupuk semangat dan kegigihan dalam berjuang demi meraih sebuah impian.

Tradisi tersebut dipercaya sudah ada sejak 1925 dan berawal dari sebuah permainan iseng yang dilakukan para petani saat membajak sawah. Seiring berjalannya waktu, para petani mengubah kegiatan iseng tersebut menjadi tradisi lomba balap kerbau yang dilakukan di arena sawah.



Baca: Tradisi Ngerebeg Bali Ditetapkan Jadi WBTb Indonesia


Para petani sepakat untuk mengadakan semacam lomba adu cepat di atas cikar-cikar atau pedati sebagai pengangkut hasil panen. Pedati itu ditarik satu akit kerbau atau sepasang kerbau yang penuh dengan muatan padi hasil panen raya dari sebidang tanah yang mereka garap. 

Ternyata, kegiatan itu memberikan dampak yang positif bagi para petani hingga kerbau yang mengangkut pedati. Akhirnya, lomba adu cikar pengangkut padi itu berkembang menjadi atraksi pakepungan.

Kini, tradisi Makepung biasa diadakan di Kabupaten Jembrana pada hari Minggu di bulan Juni s.d Oktober. Aturan mainnya mirip dengan tradisi Karapan Sapi yang ada di Madura. Tapi, ada hal yang sedikit unik. 

Pemenang dalam tradisi ini ditentukan dengan siapa yang berhasil membuat jarak antarpeserta di belakangnya sejauh sepuluh meter. Jika lawan berhasil mempersempit jaraknya menjadi kurang dari 10 meter, maka sang lawanlah yang menjadi pemenangnya. 

Seiring berjalannya waktu, Makepung bertransformasi menjadi salah satu agenda tahunan, hingga ada Makepung Gubernur Cup dan Jembrana Cup. Ratusan peserta dari berbagai kalangan turut memeriahkan kegiatan tersebut.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berkunjung ke Kampung Adat Sijunjung, Pahami Aturannya

Koropak.co.id, 07 August 2022 07:07:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Selain terkenal dengan kuliner rendangnya, hal lain yang dimiliki Sumatra Barat adalah gaya arsitektur rumah adatnya yang khas. Atap rumahnya kerap menjadi gambar penanda rumah makan Padang. 

Salah satu daerah yang hingga saat ini masih memertahankan rumah adat itu adalah Kampung Sijunjung yang berada di Jalan Diponegoro, Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.

Memiliki luas tanah sekitar 150 hektar, di Kampung Adat Sijunjung ada 76 buah rumah adat yang tersusun rapi. Rumah-rumah itu merupakan simbolisasi kepemilikan harta pusaka oleh kaum kerabat wanita yang diikat menurut garis keturunan ibu.

Seperti halnya desa pada umumnya, di Kampung Sijunjung juga ada beragam fasilitas yang terbilang cukup lengkap, seperti pemukiman, sawah, ladang, pangdampa kuburan, surau, mesjid, pasar, hingga jalan dan balai adat yang tersusun pada di area yang saling berdekatan dengan sungai. 



Baca: Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi


Ada satu hal lagi yang menarik dari kampung adat ini, yakni perayaan Festival Bakava Adat dan Membantai Kerbau yang sering dilaksanakan setiap tahunnya dan tetap dilestarikan sampai dengan saat ini. 

Untuk menjaga kelestarian di kampung adat tersebut, masyarakat setempat pun membuat aturan atau kesepakatan dengan memberikan hukuman sanksi sosial bagi anggota masyarakat yang melanggar ketentuan adat.

Kesepakatan itu di antaranya saat bertamu, wajib untuk saling bertegur sapa saat bertandang ke rumah warga atau melewati setiap rumah gadang. Selain itu, apabila ada seorang warga yang berada di rumah dan menyapa mampir, maka harus dibalas dengan senyuman dan harus mampir.

Aturan selanjutnya, jangan membiarkan suguhan yang disajikan tuan rumah tidak dimakan, karena menolak suguhan makanan maupun minuman sendiri merupakan hal yang kurang santun. Jika makanan atau minuman yang disuguhkan itu tersisa juga sangat tidak mengenakan. Sebaliknya, apabila tamu telah menghabiskan makanan maupun minuman yang disuguhkan, itu dianggap sebagai sebuah keberuntungan.

Di kampung adat ini juga tidak diperkenankan sekali untuk berkata kotor, dan perempuan dianjurkan memakai rok dan baju yang rapi. Jika semua itu dilanggar, maka akan ada sanksi adat.


Silakan tonton berbagai video menarik disini


Membaca Sejarah Tradisi Maen Pukulan, Silat Khas Betawi

Koropak.co.id, 06 August 2022 12:31:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Selain punya kerak telor, lenong, dan beragam seni budaya lainnya, Betawi juga ternyata memiliki silat khas yang bernama maen pukulan. Itu menjadi ajang bagi para jago silat atau yang terkenal dengan sebutan jawara untuk adu kekuatan. Siapa paling unggul, dia akan disegani masyarakat.

Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik, serang, dan membela dengan atau tanpa senjata. Main di sini juga menandakan adanya kesenangan, sehingga dengan kata lain, bagi orang Betawi ilmu bela diri itu awalnya adalah sebuah permainan dan bukan adu jago.

Antropolog Universitas Indonesia, Yasmin Zaki Shahab, memperkirakan, sejak abad ke-16, masyarakat setempat sudah mempertunjukan seni silat di berbagai acara penting, seperti pesta perkawinan hingga acara khitanan. 

Bagi orang Betawi juga silat tidak hanya sekadar seni bela diri, tapi menjadi suatu produk sosial hingga seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal senada disampaikan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra. Menurutnya, ada ikatan yang erat antara budaya Betawi dan seni bela diri. Di masa lalu, ibadah salat dan silat sudah menjadi kewajiban bagi anak-anak Betawi.

"Maen pukulan ini pernah begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Betawi, hingga tidak ada satupun orang Betawi yang sama sekali tidak maen pukulan," ucapnya.



Baca: Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral


Sayangnya, seiring perkembangan zaman, tradisi maen pukulan ini justru hampir punah. Itu lantaran tidak banyak anak muda yang ingin belajar seni bela diri. Selain itu, anak-anak Betawi pun sudah jarang berlatih maen pukulan sehabis belajar mengaji.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan, cikal bakal dari tradisi maen pukulan ini berawal sejak Kerajaan Tarumanegara menguasai Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) sekitar abad ke-5 s.d ke-7 Masehi.

Di masa lampau, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian penting. Tak heran, pelabuhan tersebut selalu mendapat perlindungan militer dari kerajaan. Selama menunggu pasukan datang, orang-orang di pelabuhan juga membutuhkan banyak orang jago yang direkrut dari daerah sekitar.

Pada 1618-an, diperkirakan sebanyak 6 ribu sampai 7 ribu prajurit yang ahli dalam bermain silat melindungi Jayakarta hingga memberikan pengaruhnya kepada masyarakat sekitar. Prajurit itu jugalah yang kemudian membentuk keluarga dan meneruskan ilmu bela dirinya.

Tak jarang, para jawara Betawi muncul bersamaan dengan masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Meskipun mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan, namun tak sedikit juga jawara ini disebut sebagai bandit sosial.

G.J Nawi dalam bukunya "Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016)", menyebutkan, meski memiliki nama maen pukulan, namun silat khas Betawi ini juga turut memuat beragam aspek, mulai dari aspek mental, spiritual, seni, bela diri hingga aspek olahraga yang menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik itu bertahan maupun menyerang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral

Koropak.co.id, 04 August 2022 12:21:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Mendengar kata lenong, ingatan kita pasti langsung ingat Betawi. Wajar saja. Itu lantaran beberapa tahun lalu, lenong pernah wara-wiri di televisi, dan memori kita masih merekam baik beberapa pemainnya.

Lenong yang merupakan teater tradisional dari Betawi memang sangat popular. Biasanya ditampilkan dalam berbagai acara hajatan dan perayaan-perayaan lainnya. Di dalamnya berisi cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat yang dipadukan dengan unsur komedi.

Menariknya lagi, pertunjukan lenong ini biasa dilakukan secara cair. Antara pemain dan penonton bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi cerita dalam pertunjukannya. Dalam pertunjukannya, kesenian tradisional ini biasanya diiringi musik gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, kecrek, serta alat musik dengan unsur Tionghoa, seperti tehyan, kongahyan, dan sukong. 

Untuk lakon atau ceritanya, pada umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. 

Meskipun eksistensi teater tradisional satu ini kian hari semakin memudar, namun sampai dengan saat ini, lenong dianggap sebagai salah satu sandiwara komedi yang paling populer di lanskap kebudayaan Betawi.



Baca: Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa Melahirkan Gambang Kromong


Diceritakan, lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Dikatakan bahwa kesenian teatrikal ini merupakan adaptasi masyarakat Betawi dari kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu.

Seniman Betawi, Firman Muntaco, menyebutkan, lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong hingga berkembang sebagai tontonan dan sudah dikenal sejak 1920-an. Saat itu, lakon-lakon yang dibawakan dalam lenong, berkembang dari lawakan-lawakan tanpa alur cerita yang kemudian dirangkai hingga menjadi sebuah pertunjukan.

Awalnya, kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Bahkan, pertunjukannya kala itu diadakan di tempat terbuka tanpa panggung. Selanjutnya, pada saat pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris akan mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. 

Setelah itu, lenong mulai berkembang dan dipertunjukkan dalam acara-acara di panggung hajatan, seperti resepsi pernikahan sesuai dengan permintaan pelanggan. Barulah di awal kemerdekaan Indonesia, teater rakyat ini murni menjadi sebuah tontonan panggung.

Seiring berjalannya waktu, lenong semakin menjadi populer setelah pertunjukannya disiarkan di stasiun televisi, yang kala itu ditayangkan oleh TVRI mulai 1970-an. Tak hanya itu, kepopuleran kesenian itu juga turut membuat beberapa seniman lenong menjadi terkenal sejak saat itu, seperti Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Enam Mainan Anak "Jadul" dari Karet Gelang

Koropak.co.id, 03 August 2022 15:14:18

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Kreativitas anak zaman dulu atau jadul memang tak diragukan lagi. Apapun bisa dijadikan mainan, termasuk karet gelang. Dengan segudang kreativitas yang dimilikinya, anak-anak zaman dulu berhasil menyulap benda murah meriah tersebut menjadi mainan yang mengasyikan hingga membuat ketagihan. Apa saja?

1. Lompat tali

Lompat tali menjadi salah satu permainan yang sering sekali dimainkan, terutama oleh anak-anak perempuan. Tali yang digunakan untuk permainan tersebut dari karet gelang yang dibuat simpul hingga memanjang dan cukup untuk melakukan permainan lompat tali. 

Untuk memperkuat tali agar bisa dimainkan, biasanya anak-anak menggunakan lebih dari satu karet gelang di setiap simpulnya. Permainan itu dijamin seru, karena harus melompat sesuai dengan batas tali yang dipasang, mulai dari sebatas mata kaki, dada, kepala hingga ke langit-langit.

2. Karetan

Ketajaman dalam melempar karet menjadi pertaruhan penting dalam permainan yang satu ini. Hal itu dikarenakan untuk memainkan permainan karetan adalah dengan cara melempar karet pada tancapan segitiga berganda (berisi 1 hingga 6 karet). 

Jika lemparan yang dihasilkan itu menyangkut pada tancapan, maka karet akan dikalikan sesuai deret yang ditentukan bandar. Akan tetapi jika lemparannya tak menyangkut, maka karet-karet itu menjadi milik bandar. Menariknya lagi, agar adil, pemeran bandar ini akan ditentukan secara bergantian.

3. Adu Ayam

Meskipun namanya adu ayam, namun dalam permainan ini tidak ada ayam sama sekali. Sebab, yang dibutuhkan untuk memainkan permainan ini adalah 1 karet gelang dan 2 sedotan. Untuk cara memainkannya, sedotan akan dilipat menjadi dua, lalu sangkutkan lipatan ke karet.



Baca: Empat Permainan Tradisional Sunda Berawal Ucing


Kemudian lakukan juga pada sedotan kedua dengan karet yang sama. Setelah karet mengikat antara 2 sedotan yang dilipat, selanjutnya putar sedotan ke arah yang berlawanan dan setelah putaran dirasa cukup, maka lepaskan benda tersebut ke lantai.

Elastisitas yang ada pada karet pun akan mengembalikan putaran yang telah dibuat sebelumnya, sehingga kedua sedotan pun akan bergerak berputar-putar layaknya seperti pertarungan ayam.

4. Pistol karet gelang

Umumnya, permainan yang satu ini dimainkan oleh anak laki-laki. Cara memainkan permainan ini pun terbilang cukup sederhana. 

Langkah pertama, bentuk tangan menyerupai pistol, lalu kaitkan satu sisi karet di tengah jari telunjuk dan tarik ke arah luar telapak tangan. Kemudian untuk ujung karet satunya lagi ditahan dengan kelingking, jari manis atau jari tengah. 

5. Adu Karet

Permainan yang satu ini juga sangat sederhana, untuk karet yang berhasil berada di atas karet lawan, maka dialah yang menjadi pemenangnya. 

Untuk mengarahkan karet, pemain bisa menggerakkannya dengan cara ditiup atau disentil dengan menggunakan jari. Sementara untuk pemain yang kalah, harus rela menyerahkan karet kepada lawannya.

6. Seni tangan

Untuk permainan satu ini, tentunya dibutuhkan trik dan keahlian khusus. Sebab, tidak semua anak juga bisa membuat kreasi tangan dari karet gelang ini. Biasanya, dari dua buah gelang itu akan dibentuk menyerupai rumah, bintang, pesawat, bintang, kuburan bahkan celana dalam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau

Koropak.co.id, 02 August 2022 15:37:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Riau - Selain ungkapan keindahan yang dituangkan dalam gerakan, seni tari juga  mengandung makna dan nilai estetik. Begitupun dalam "Tari Persembahan" atau tari makan sirih khas Melayu. Biasanya, tarian itu akan dibawakan oleh 5 sampai 8 orang penari perempuan. 

Gerakannya terbilang sederhana, bertumpu pada tangan dan kaki. Ada juga gerakan menunduk sambil merapatkan telapak tangan. Gerakan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang.

Saat pertunjukan, salah satu penari akan membawa kotak yang berisi sirih, tamu yang dianggap agung diberi kesempatan pertama untuk mengambilnya sebagai bentuk penghormatan, lalu diikuti oleh tamu lainnya.

Bagi masyarakat Riau, sirih dinilai bukan hanya sekadar benda, tapi juga media perekat dalam pergaulan. Selain itu, melalui tarian, masyarakat Riau juga telah menunjukkan kesadaran bahwa manusia itu saling berhubungan satu sama lain. 



Baca: Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu


Kesadaran sosial tersebut jugalah yang kemudian mampu menumbuhkan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan menghormati terhadap sesama manusia. Tari persembahan biasanya dipentaskan dengan iringan musik Melayu yang bersumber dari perpaduan antara suara marwas, biola atau fill, gendang, gambus, hingga akordion. 

Dalam pertunjukannya, para penari mengenakan baju yang biasa dipakai mempelai perempuan, yaitu baju adat yang disebut juga dengan baju kurung teluk belanga. Pada bagian kepalanya terdapat mahkota yang dilengkapi hiasan-hiasan berbentuk bunga. Sedangkan di bagian bawah tubuh para penari, dibalut oleh kain songket berwarna cerah.

Dijelaskan, tarian asal Pekanbaru itu sejak awal memang dibuat untuk menyambut para tamu. Tari persembahan itu memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya, mulai dari belajar disiplin dan sabar, sebagai sarana hiburan, pelestarian budaya, hingga memiliki nilai seni, olahraga dan kreativitas.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kukui, Tembang Sakral Suku Dayak Agabag Kalimantan

Koropak.co.id, 01 August 2022 12:00:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Utara - Suku Dayak Agabag, salah satu suku etnis asli dari Kalimantan yang mendiami perbatasan antara Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, punya tradisi unik. Namanya Kukui.

Kukui adalah tembang khas etnik yang menjadi peninggalan dari nenek moyang mereka. Tembang sakral khas Suku Dayak Agabag itu juga turut menjadi salah satu warisan budaya yang sampai dengan saat ini terus mereka lestarikan.

Kukui merupakan lagu puja dan puji atau syukur yang diberikan kepada leluhur, sekaligus penghargaan bagi alam semesta yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa alam gaib. Oleh karena itu, masyarakat Suku Dayak Agabag percaya bahwa Kukui memiliki nilai yang sakral.

Tradisi tersebut pertama kalinya muncul pada masa Tabug atau zaman Ngayau (pertempuran). Biasanya, Kukui akan dilantunkan sebelum masyarakat Suku Dayak Agabag berangkat mengayau dan setelah sukses memenangi pertempuran.

Kemenangan saat pertempuran itu dikenal dengan sebutan "Amayung Da Ulu" atau "Ngayau/Tabug". Di sisi lain, Kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran itu bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada akion atau leluhur Dayak Agabag.



Baca: Menelusuri Makna Mendalam dari Tradisi Lawang Sakepeng Suku Dayak Ngaju


Kukui juga menjadi spirit dan ritual dengan keyakinan teguh, langkah, dan semangat Suku Dayak Agabag dalam laga dan diberkahi arwah leluhur. Tak heran, kosa kata dalam Kukui berbeda dengan bahasa adat yang mudah dipahami.

Menariknya lagi, kukui yang dilantunkan saat berhasil memenangi pertempuran juga digelar dalam sebuah upacara kemenangan yang dalam istilah Dayak Agabag disebut "Belakan" atau "Belau". Tak hanya digunakan sebagai lambang syukur terhadap leluhur dikarenakan menang dalam pertempuran, Kukui juga turut dilantunkan dalam prosesi pemakaman warga Dayak Agabag. 

Kukui tersebut digunakan untuk mengantar roh ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang dari dulu sampai dengan saat ini dilantukan setiap acara terakhir (amakan/ampid). 

Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya tatanan kehidupan sosial, suku Dayak Agabag masih terus melestarikan tradisi Kukui tersebut yang tentunya kini disesuaikan dengan kondisi sekarang. 

Jika sebelumnya Kukui akrab dengan peperangan dan prosesi pemakaman, tembang sakral ini sekarang turut dilantunkan juga untuk mempererat persatuan dengan kerap ditampilkan dalam setiap kegiatan antar etnis serta turut dipersembahkan untuk penyambutan tamu dari luar suku Dayak Agabag.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan

Koropak.co.id, 31 July 2022 15:21:36

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Sumatera Utara - Dalam istilah Batak, seorang lelaki yang menjelang dewasa disebut Doli-doli Sampe Bunga. Sedangkan bagi perempuan disebut Namar Baju atau Boru-boru. Begitu beranjak dewasa, sudah pasti akan mengenal cinta (holong) dan pada masa tersebut lelaki akan mendatangi perempuan. Kegiatan itu dikenal dengan istilah martandang.

Martandang merupakan ajang pendekatan alias pdkt bagi masyarakat Batak zaman dahulu. Para lelaki akan mendatangi rumah gebetan untuk menyampaikan perasaan dengan berbalas pantun yang dikenal dengan istilah marundang undangan.

Secara harfiah, martandang adalah keluar kandang, melewat, atau berkunjung. Tradisi ini menjadi etika dalam bergaul antara Doli-doli dan Boru-boru. Umumnya, martandang ini dilakukan pada malam hari (telengkup periuk).

Dalam Sekelumit Mengenal Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya yang dimuat Historia, E.H. Tambunan menyebut para pemuda yang mendatangi perempuannya dengan menyelinap di kolong rumah panggung atau lewat dinding rumah yang bersekat lepas.

Sumber lain menyebutkan, jika pasangan muda-mudi biasanya juga datang secara berkelompok, lalu menghabiskan malam dengan bersenda gurau di halaman balai desa.

Tidak semua perempuan bersedia menerima kedatangan si lelaki ke rumahnya, terutama jika sejak awal pihak perempuan ini tidak suka dengan lelaki tersebut. Biasanya, jika terjadi penolakan maka si perempuan dimarahi oleh ayah dan ibunya.

Jacob Cornelis Vergouwen, pegawai pemerintah yangpada 1927 sempat bermukim di Tapanuli Utara menyebut pemuda yang sudah ditolak tapi masih memaksa, akan diberi hukuman untuk menebus dosa. Bagi masyarakat Batak, sekali mengucapkan kata 'tidak' berarti 'tidak'.



Baca: Membangun Interaksi Sosial dalam Permainan Domikado


Dalam martandang ini, pihak lelaki diberi kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya. Curahan hati itu dituangkan dalam bentuk sajak, irama, pepatah, atau peribahasa. Perempuan juga akan membalasnya dengan sajak dan irama dalam kesusastraan Batak.

Jika martandang sering dilakukan, maka kemungkinan besar benih-benih cinta di antara muda-mudi telah tumbuh. Jika sudah memantapkan pilihan,keduanya akan memberitahu orang tua mereka.

Selanjutnya, orang tua keduanya akan bertemu dan membicarakan perkawinan. Jika perempuan setuju, pihak lelaki akan memberikan cinderamata berupa kain panjang dan perempuan membalasnya dengan memberi sarung.

Bahkan, ada yang langsung tukar cincin. Hal itu disebut tanda burju yang dimaksudkan untuk mengikat kedua insan itu.

Pihak lelaki kemudian akan mendatangi si perempuan dan membawa uang yang disebut Mondondoni Tanda Burju dan dilanjutkan dengan orang tua lelaki menemui orang tua perempuan untukmenyepakati berapa mahar yang harus diberikan (Marhori Hori Ding Ding).

Namun kini, tradisi martandang sudah mulai dilupakan. Jika dilihat lebih jauh, martandang adalah suatu adat yang baik. Sebelum menikah dua orang berkenalan dahulu dengan cara yang baik dan sopan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Bosara, Cara Suku Bugis Sambut Tamu

Koropak.co.id, 31 July 2022 07:15:31

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Tari Paduppa atau dikenal juga dengan sebutan tari Bosara merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan. Itu merupakan salah satu kearifan lokal yang di miliki suku Bugis-Makassar. Biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu atau bisa disebut juga sebagai tari selamat datang dari suku Bugis.

Tari Bosara dibawakan dengan gerakan yang khas oleh para kaum perempuan. Dalam tariannya, terdapat gerakan menabur beras yang memiliki makna sebagai tanda penghormatan dan juga dipercaya sebagai penolak bala atau pengusir gangguan roh-roh halus.

Tarian tradisional ini diambil dari nama "Bosara", nama sebuah nampan khas suku Bugis. Bosara atau nampan yang digunakan dalam tarian ini memiliki bentuk yang khas, yakni mempunyai satu kaki sebagai penyangga nampan dan terbuat dari material besi.

Nampan yang digunakan itu juga turut dilengkapi dengan penutup yang biasanya disebut pattongko. Meskipun begitu, keduanya merupakan satu kesatuan. Jadi, saat tampil, bosara dan pattongko ini harus selalu dibawa.

Berdasarkan sejarahnya, tari Bosara ini diciptakan oleh seorang seniman bernama Andi Siti Nurhani Sapada yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1929 dan meninggal pada 8 Juli 2010 di usia ke-81 tahun di Makassar, Sulawesi Selatan.

Awalnya, tari Bosara ini digunakan untuk menjamu para tamu kerajaan, seperti dalam pesta, kedatangan tamu agung, atau perayaan pernikahan. Namun seiring berjalannya waktu,  pertunjukan tarian kebanggaan masyarakat Bugis ini turut ditampilkan untuk acara besar lainnya.



Baca: Tari Sirih Kuning, Perpaduan Budaya Betawi dan Tionghoa


Dalam pelaksanaannya, Bosara atau nampan tersebut nantinya akan diletakkan secara berjejer. Nampan itu juga akan diisi dengan aneka kue basah maupun kering khas Bugis seperti bolu peca, kue lapis, kue biji nangka, dan lainnya.

Tari Bosara ini dibawakan oleh penari perempuan dengan jumlah ganjil. Sedangkan untuk pakaian yang digunakannya adalah baju Bodo, sarung sutra, bando bunga, anting, gelang, dan kalung. 

Selanjutnya, untuk properti yang harus dibawa oleh penari adalah bosara berisi beras, bunga, dan benno atau makanan ringan dari biji jagung. Tarian ini juga diiringi alat musik berupa suling, gendang, kuik, dan kecapi.

Selain sebagai tarian pertunjukan, tari Bosara juga turut dijadikan sebagai sarana pendidikan, pergaulan,  berekspresi hingga pengembangan bakat.

Seiring berkembangnya zaman, fungsi Bosara juga kini telah berganti. Jika, dahulu Bosara digunakan sebagai wadah sajian bagi para tamu, kini Bosara digunakan oleh masyarakat setempat untuk memberikan undangan kepada seseorang.

Masyarakat setempat menilai bahwa Bosara dirasa lebih sopan untuk memberikan undangan, seperti halnya saat kita memberikan sajian makanan atau minuman untuk tamu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lima Budaya Jawa yang Terkenal Hingga Mancanegara

Koropak.co.id, 30 July 2022 07:19:06

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Suku Jawa merupakan yang terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, jumlahnya mencapai 95.217.022 jiwa atau setara dengan 40,22 persen penduduk Indonesia. Populasinya bukan hanya menyebar di Pulau Jawa, tapi juga di pulau lain bahkan sampai ke luar negeri.

Tak heran, Suku Jawa mempunyai keanekaragaman budaya. Ada banyak kebudayaan Jawa yang sejak zaman dulu hingga sekarang masih dipertahankan, hingga dikenal sampai mancanegara. Apa saja? Berikut lima di antaranya:

1. Batik

Siapa yang tak kenal batik? Kain yang dilukis menggunakan lilin atau malam dan pewarna khusus itu telah menjadi ciri khas Indonesia. Dengan segala keunikan yang dimilikinya, batik telah ditetapkan sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. 

Bukan hanya jadi kebanggaan orang Indonesia, batik juga juga mendapat apresiasi dari masyarakat dunia. Tak sedikit orang asing yang sengaja datang ke negeri ini untuk mengoleksi batik. Bahkan, kini sudah ada banyak toko batik di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Singapura, dan Australia.

2. Gamelan

Sebagai salah satu alat musik khas Indonesia, gamelan selalu dijadikan musik pengiring baik dalam pagelaran wayang atau pun sendra tari. Siapa sangka, ternyata musik tradisional Indonesia ini dipelajari di beberapa universitas di luar negeri. 

Seperti pada 1983, Cambridge University di Inggris mendapatkan satu paket gamelan dari pemerintah Indonesia, lalu mereka membuat komunitas bernama Gamelan Duta Laras.

Ada juga di University of Minnesota, Lawrence University, The University of Melbourne, hingga Chikushi Jogakuen University yang menjadikan gamelan sebagai mata kuliah.



Baca: Tujuh Destinasi Wisata Budaya Indonesia yang Menarik Dikunjungi


3. Wayang Kulit

Wayang kulit juga termasuk salah satu budaya suku Jawa yang dikenal sampai keluar negeri. Wayang kulit ini  merupakan seni pertunjukan yang menggunakan figur berbahan kulit untuk merepresentasikan tokoh pewayangan. 

Wayang kulit ini dimainkan oleh seorang Dalang dan turut dipandu juga dengan musik gamelan serta sinden. Pada 2003, Wayang Kulit secara resmi diakui sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity asal Indonesia oleh UNESCO.

4. Kebaya

Kebaya merupakan sejenis pakaian bagian atas tradisional yang biasanya dikenakan oleh kaum wanita. Ia memiliki keunikan tersendiri mulai dari tampilan yang tampak klasik namun tetap berkelas. Tak jarang, kebaya juga seringkali digunakan oleh mempelai wanita dalam acara pernikahan.

5. Keris

Keris dikenal sebagai pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan atau kesaktian oleh masyarakat zaman dahulu. Biasanya, pembuatan keris sendiri dilakukan oleh Mpu dengan cara ditempa dan diberi mantra. 

Salah satu keris dengan ceritanya yang begitu melegenda adalah keris buatan Mpu Gandring yang dimiliki oleh Ken Arok karena keris tersebut dapat membuatnya menjadi penguasa Kerajaan Singasari kala itu.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pawai Obor, Tradisi Sambut Malam Tahun Baru Islam

Koropak.co.id, 29 July 2022 07:26:16

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam menyambut Tahun Baru Islam. Salah satunya pawai obor. Kegiatan itu bukan sekadar jalan di malam hari sembari membawa obor, tapia da makna mendalam di baliknya.

Kumandang takbir, selawat hingga puji-pujian kepada Allah SWT yang dilakukan dalam tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur atas segala yang diterima. Bukan semata euphoria, tapi menebar nilai-nilai positif. 

Ada semangat gotong royong, mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan, membuat obor bambu secara bersama-sama, hingga saling membantu saat pelaksanaan pawai obor sedang berlangsung. Belum lagi antusiasme masyarakat yang begitu semangat dalam mengikuti momen setahun sekali itu.

Di sisi lain, obor yang dibuat bersama-sama oleh masyarakat itu juga memiliki makna saling membantu. Pada awalnya obor yang dinyalakan itu hanya satu. Untuk menyalakan obor lain dilakukan dengan saling mengoper api dari satu obor ke obor lainnya. 

Begitu api sudah menyala semua, maka rasa hangat pun seolah memeluk erat para peserta pawai. Terlebih, pada saat pawai obor sudah mulai berjalan, rasa haru dan syukur pun pasti akan terasa campur aduk.



Baca: Pawai Obor 1 Muharram Diikuti Ratusan Santri


Meskipun pawai ini terkesan tradisional, tapi momen seperti ini selalu jadi hal yang dinanti masyarakat. Bahkan kini pawai obor juga banyak digelar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang dan lainnya.

Hijrah, selain berarti pindah, juga bermakna lain, yaitu keluar dari kegelapan atau kebodohan menuju cahaya atau ilmu. Ada perjuangan yang tak kenal lelah yang dilakukan Nabi Muhammad Shallalahu'alaihi wasallam dan para sahabat, sehingga Islam bisa berkembang seperti sekarang. 

Sesuai dengan namanya, makna hijrah ini bisa diterapkan dengan cara introspeksi diri. Dengan pergantian tahun baru Islam ini, umat harus senantiasa merenungi dan memperbaiki diri atas kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya.

Pawai obor juga bisa dijadikan sebagai representasi dari perjuangan Nabi Muhammad Shallalahu'alaihi wasallam dan para sahabat saat melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah dan berjuang menyebarkan agama Islam.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: