Kabayan, Totopong dan Blankon Sunda

Koropak.co.id, 16 February 2022 18:09:14
Penulis : Eris Kuswara
Kabayan, Totopong dan Blankon Sunda

 

Koropak.co.id - Sosok Kabayan mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Sosok yang terkenal bersahaja dan lucu ini sering kita jumpai dalam film, tulisan, bahkan komik.

Diketahui, si Kabayan bujang Sunda ini juga selalu digambarkan memakai tutup kepala khas Sunda. Meskipun begitu, masih belum banyak orang yang mengetahui tentang ikat kepala yang sering digunakan oleh si Kabayan tersebut.

Usut punya usut, ikat kepala yang sering digunakan oleh Kabayan itu bernama totopong. Totopong sendiri merupakan kebudayaan khas Sunda berbentuk tutup kepala sejenis blangkon bagi masyarakat Jawa Tengah atau udeng bagi masyarakat Bali.

Pada tahun 2012 lalu, totopong tersebut secara resmi diperkenalkan oleh Pemerintahan Kota Bogor kepada turis mancanegara sebagai salah satu ciri khas baru bagi masyarakat Sunda Bogor.

Dilansir dari Indonesia Kaya, pada dasarnya, totopong sendiri merupakan kain batik bermotif Sunda berbentuk persegi dengan ukuran 50×50 centimeter. Kain ini pun kemudian diikatkan pada kepala dan dibentuk sesuai dengan variasi yang diinginkan.

Selain itu, secara umum, terdapat tujuh variasi bentuk dalam totopong, yaitu bentuk barambang semplak, parekos nangka, parekos jengkol, tutup liwet, lohen, porten dan kole nyangsang. Semua variasi totopong tersebut juga tentunya mempunyai keunikannya masing-masing.

Sementara itu, dilansir dari laman Merdeka, selain digunakan sebagai ikat kepala untuk acara budaya, ternyata ikat kepala yang diperkenalkan oleh tokoh cerita si Kabayan ini juga disebut-sebut memiliki makna khusus.

Kain ini sendiri memiliki beragam fungsi berdasarkan aktivitas sehari-hari masyarakat Sunda pada zaman dahulu. Selain sebagai ikat yang melindungi kepala, kain tradisional yang sepintas mirip dengan udeng khas Bali ini biasanya dipakai sebagai tempat membawa barang kecil.

 

 


Baca : Falsafah Iket Sunda dan Jenisnya

Selain itu juga turut dijadikan pula sajadah untuk melaksanakan ibadah Salat selama melakukan aktivitas di luar rumah. Diawal kemunculannya sekitar tahun 1900-an, ikat kepala ini digunakan sebagai pengusir lelembut atau jurig berdasarkan kepercayaan masyarakat Sunda di zaman dulu.

Sejak dahulu, Totopong memiliki kedekatan filosofi kebudayaan yang kuat, terutama bagi para pria Sunda yang memakainya. Dulu, kain ikat Sunda ini mencerminkan kelas sosial dalam kehidupan sehari-hari dan biasanya pria yang menggunakan totopong memiliki kedudukan tertentu yang berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya.

Dari segi bentuk, terdapat beragam motif yang merupakan simbol religiusitas dari keagamaan dan upacara adat yang dianggap mempunyai peranan penting dalam suatu kelembagaan sosial. Seperti halnya yang terjadi di instansi pemerintahan Jawa Barat, sejak tahun 2013 lalu yang menjadikan blangkon khas Sunda ini sebagai identitas kelembagaannya.

Sedangkan dari sisi kebiasaan, totopong terbagi menjadi dua model, dengan yang pertama memiliki bentuk tradisional buhun (tua atau kuno) dan yang kedua adalah model kiwari (hasil perkembangan).

Dalam model buhun ini, kain totopong tersebut dibentuk persegi empat yang kemudian dilipat dengan aturan tertentu. Sehingga dapat membentuk model ikat seperti Barangbang Semplak, Julang Ngapak (model seperti burung), Parekos Jengkol, Buaya Ngangsar dan model iket lain yang biasa dipakai di kampung-kampung adat.

Kemudian untuk model kiwari, kini bentuknya sudah disesuaikan agar bisa digunakan sebagai pakaian sehari-hari seperti Iket Candra Sumirat, Iket Maung Leumpang, Iket Hanjuang Nangtung, Iket Pratis Parekos, Iket Praktis Makuta Wangsa, Iket Praktis Mancala Putra, dan Iket Batu Kincir (rekaan Ki Dadang).*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Tay Kak Sie, Klenteng Tua Penuh Nilai Filosofis Tionghoa di Semarang

Koropak.co.id, 06 December 2022 07:09:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - Kota Semarang dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Tengah yang erat dengan keanekaragaman budayanya. Sehingga hal inilah yang menjadikannya sebagai rumah untuk berbagai etnis, termasuk etnis Tionghoa yang banyak bermukim di Kawasan Pecinan.

Jika Anda berkunjung ke perkampungan Tionghoa itu, maka disana Anda bisa menemukan sebuah Klenteng megah dengan pelatarannya yang luas bernama Klenteng Tay Kak Sie. 

Klenteng Tay Kak Sie sendiri letaknya berada di Gang Lombok, atau persis di sebelah Kali Semarang. Bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya ini merupakan satu dari sembilan klenteng di pecinan Semarang yang masih digunakan sebagai tempat ibadah. 

Berusia sudah lebih dari dua setengah abad, Klenteng Tay Kak Sie pun dikenal sebagai salah satu klenteng tua yang masih berdiri di Kota Semarang. Berdasarkan sejarahnya, inisiasi dari pendirian Klenteng tersebut bermula dari Klenteng Kwan Im Ting yang ada di Balekambang, Semarang pada 1746-an. 

Diketahui, nama Tay Kak Sie sendiri diambil dari bahasa Hokkien yang berarti kuil kesadaran agung. Penamaan ini pun dimaksudkan agar umat yang beribadah di Klenteng Tay Kak Sie, dapat berintrospeksi dan sadar diri secara penuh untuk beribadah.

Klenteng ini digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha Mahayana, sebuah aliran yang berkembang di kawasan Cina daratan. Sehingga membuat arsitektur dari klenteng ini pun sangat kental dengan unsur budaya Tiongkok Selatan.

Sementara itu, tujuan dari pendiriannya sendiri adalah sebagai pemujaan untuk Dewi Kwan Im yang menjadi tuan rumah di klenteng tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, selain digunakan untuk pemujaan dewi welas asih itu, Klenteng Tay Kak Sie juga menjadi tempat untuk pemujaan dewa-dewi lainnya.



Baca: Menelusuri Kemegahan Klenteng Boen San Bio Tangerang


Dikarenakan termasuk sebagai tempat ibadah Tridharma, membuat klenteng ini bisa juga dijadikan tempat beribadah umat Kong Hu Cu dan Taoisme. Untuk area dari klenteng terbagi menjadi tiga ruangan, yaitu ruang tengah, sayap kiri , dan sayap kanan. 

Di ruang tengah klenteng, terdapat altar Thien, patung Dewi Kwan Im, tiga Buddha, Cheng Ho, dan Dewi Samudra. Kemudian untuk di sayap kiri dan kanan, terdapat dewa-dewi yang juga berasal dari Konghucu dan Taoisme.

Di sisi lain, pembuatan bangunan ini juga kental dengan nilai-nilai filosofis Tionghoa. Seperti lokasi bangunannya yang berada di dekat sungai yang cocok menurut feng shui. Bukan tanpa alasan, sebab Kali Semarang dahulunya merupakan jalur perdagangan, sehingga para pelayar dapat singgah untuk beribadah.

Selanjutnya yang menjadi keunikan lain dari klenteng itu adalah keberadaan sumur langit, yakni bagian tengah bangunan tanpa atap yang menghadap langsung ke langit dan merupakan perlambangan dari Tuhan. 

Sehingga dengan demikian doa dan harapan yang disampaikan umat bisa sampai ke langit dan kebaikannya juga menyebar ke seluruh dunia. Tak hanya itu saja, di klenteng ini juga ada berbagai acara rutin yang kerap dilaksanakan, salah satunya adalah kirab dewa obat. 

Kirab Dewa Obat tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk napak tilas peristiwa pandemi yang pernah melanda Kota Semarang satu setengah abad silam. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, Klenteng ini juga terbuka bagi siapapun yang ingin sekedar mengunjunginya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Pasukan Merah dan Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajaking

Koropak.co.id, 04 December 2022 12:10:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Barat - Pekik "tariu" menggema saat Presiden Ir H Joko Widodo atau Jokowi tiba di halaman Rumah Rajakng. Pekikan dari Panglima Jilha Agustinus itu pun langsung disambut secara serempak oleh anggotanya.

Hari itu, Selasa 29 November 2022 lalu, Suku Dayak berkumpul di Kota Pontianak, Kalimantan Barat untuk menghadiri acara Pembukaan Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajaking (TBBR) atau temu akbar pasukan merah yang dibuka secara langsung oleh Presiden Jokowi.

Lantas, apa itu Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajaking (TBBR) dan juga seperti apa Pasukan Merah itu?

Diketahui, Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajaking (TBBR) sendiri merupakan acara adat suku Dayak berupa pertemuan antara masyarakat adat Dayak dengan pemimpinnya. Di hari itu mereka pun bertemu dengan Presiden Indonesia, Ir H Joko Widodo.

Dalam bahasa Dayak Kanayatn, Bahaupm Bide Bahana ini berarti pertemuan perkumpulan besar masyarakat yang bertemu dengan rajanya dan dalam acara itu mengambil filosofi serta menempatkan Presiden Jokowi sebagai rajanya.

Di sisi lain, selama ini Pasukan merah dikenal sebagai organisasi kemasyarakatan yang konsisten dalam melestarikan adat dan budaya Suku Dayak. Tariu Borneo Bangkule Rajakng juga berusaha dalam mempertahankan tradisi untuk mendorong masyarakat Dayak agar bersatu, maju, dan bermartabat.

Pasukan merah juga terkenal sebagai salah satu pasukan elite yang mendiami Suku Dayak dan salah satunya berasal di Kalimantan Tengah yang dikenal dengan nama Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR).

Menariknya, pasukan yang baru terbentuk ini mendapatkan banyak antusias dari warga setempat, hingga keanggotaannya pun mencapai lebih dari 15.000 ribu orang dan merupakan pemuda Dayak yang setia kepada Pancasila, NKRI, dan antiradikalisme.



Baca: Rumah Radakng, Rumah Adat Suku Dayak Simbol Semangat Kekeluargaan


TBBR juga merupakan salah satu organisasi suku Dayak yang memiliki struktur organisasi mulai dari Ketua DPP hingga pengurus di tingkat kecamatan. Peranan utama dari Pasukan Merah adalah untuk membela hak masyarakat adat serta mempertahankan adat istiadat yang mulai tergerus zaman. Organisasi itu juga memiliki kemampuan dalam berhubungan dengan leluhur suku Dayak yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. 

Sementara itu, untuk bergabung menjadi anggota Pasukan Merah harus terlebih dahulu memenuhi syarat, mulai dari persyaratan umur, kesiapan, dan kesanggupan dalam melaksanakan peraturan organisasi serta pantangannya. Selain peraturan organisasi, mereka juga menekankan agar kemampuan sebagai Pasukan Merah tidak disalahgunakan.

Selain itu, ada hal lainnya yang berkaitan dengan kemampuan magis dan sejumlah daging hewan, seperti menjangan, sapi, kerbau, ular, dan anjing menjadi pantangan wajib bagi setiap anggota Pasukan Merah. Setelah resmi terdaftar, selanjutnya calon anggota akan mengikuti ritual pembersihan. 

Nantinya mereka akan dimandikan pengurus yang memang memiliki kemampuan di bidang spiritual, atau yang kerap disebut Mangku dan Ulu Balang. Ritual mandi ini tentunya memiliki makna, yakni agar yang bersangkutan benar-benar bersih dari berbagai hal sebelum bergabung menjadi Pasukan Merah. 

Biasanya, ritual pemandian dilakukan di hutan belantara dan berada di tempat yang dikeramatkan dan dianggap angker. Di sisi lainnya juga, kebanyakan anggota Pasukan Merah TBBR memiliki kelebihan dan kekuatan magis, seperti kekuatan dan kekebalan. 

Mereka juga mendapatkan kekuatan dan kekebalan itu tidak sembarangan dan kekuatan tersebut dipercaya didapatkannya dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta leluhur Suku Dayak yang dipercaya masih hidup, namun kasat mata.

Oleh karena itulah, sangat diharapkan sekali agar anggota yang memiliki kekuatan itu tidak menyalahgunakannya. Sebab, kekuatan tersebut juga bisa hilang karena mengingkari janji sebagai pasukan TBBR yang rendah hati, tidak mudah emosi, dan selalu berpihak kepada yang benar.

Sebagai organisasi yang besar, Pasukan Merah selalu mengedepankan musyawarah mufakat. Namun, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa mereka musyawarahkan. Pasukan Merah TBBR dengan kekuatan puluhan ribu orang pun harus patuh dan tunduk kepada pemimpin dan selalu siap dalam melakukan apa pun untuk kepentingan harkat dan martabat Suku Dayak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Rumah Radakng, Rumah Adat Suku Dayak Simbol Semangat Kekeluargaan

Koropak.co.id, 04 December 2022 07:07:13

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Kalimantan Barat - Rumah Radakng beberapa waktu lalu menjadi tempat berkumpulnya Pasukan Merah dengan ciri khasnya berpakaian serba merah dan mengenakan simbol-simbol yang diikatkan di kepala.

Mereka semua berkumpul untuk menghadiri pembukaan Bahaupm Bide Bahana Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) yang dibuka secara langsung oleh Presiden Ir H Joko Widodo atau Jokowi pada Selasa 29 November 2022 lalu.

Dengan halaman rumahnya yang sangat luas, diketahui Rumah Radakng sendiri merupakan salah satu rumah adat Suku Dayak yang sekaligus juga menjadi ciri khas dari Provinsi Kalimantan Barat.

Menariknya lagi, Rumah Radakng juga disebut sebagai rumah adat suku Dayak Kayanatn terbesar yang ada di Indonesia. Mengapa Rumah Radakng disebut rumah adat terbesar? Alasannya dikarenakan bangunan rumahnya memiliki panjang 138 meter dengan lebar 30 meter dan tinggi 7 meter.

Dikarenakan bentuknya yang memanjang, rumah Radakng ini juga biasa dijuluki dengan Rumah Panjang. Bahkan saking besarnya, bangunan rumah ini mampu menampung hingga 600 orang di ruang utamanya. Kemudian untuk halaman depan rumahnya juga didesain cukup luas.

Untuk miniatur rumah ini sendiri berada di Komplek Perkampungan Budaya, Jalan Sutan Syahrir, Kota Baru Pontianak, Kalimantan Barat. Selain Tugu Khatulistiwa, Rumah panjang ini menjadi ikon Kota Pontianak yang diresmikan Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis pada 2013 lalu.

Menariknya lagi, Rumah Radakng ini memiliki sejumlah ciri, diantaranya memiliki kolong atau pondasi rumah yang tinggi untuk perlindungan dari binatang buas dan musuh. Selain itu juga, rumah ini memiliki pilar di bagian atas rumahnya yang berjumlah enam.



Baca: Tujuh Keunikan Rumah Betang Uluk Palin Suku Dayak


Pilar-pilar tersebut juga dilengkapi patung burung Enggang Gading yang bagi masyarakat Dayak, burung itu memiliki arti sebagai kekuatan dan kegagahan. Selanjutnya, rumah ini juga dilengkapi tangga yang disebut "hejot" yang terbuat dari kayu. 

Berdasarkan kepercayaan orang Dayak, hejot itu harus berjumlah ganjil. Kemudian untuk seluruh material rumahnya pun terbuat dari kayu yang berarti melambangkan pulau ini kaya akan jenis kayu. Sementara untuk lantainya berbahan bambu.

Jika diperhatikan, setiap bagian depan rumah Radakng mengarah ke matahari terbit. Sedangkan untuk bagian belakangnya menghadap ke arah matahari terbenam. Hal ini juga melambangkan kerja keras dalam mengarungi kehidupan, mulai dari matahari terbit hingga terbenam.

Biasanya, bagian belakang rumahnya ini digunakan untuk menyimpan hasil panen dan alat pertanian dengan dapur yang menghadap ke aliran sungai. Hal tersebut dipercaya akan mendatangkan rizki. Rumah panjang ini juga memiliki banyak ruangan dengan halaman rumah yang luas dan biasa digunakan untuk ritual atau acara adat.

Sayangnya, Rumah Radakng ini mulai punah sejak 1960-an. Oleh karena itulah, sudah sangat susah sekali saat ini untuk menemukan rumah Radakng di daerah aslinya. Meskipun begitu, salah satu yang masih tersisa berada di Dusun Saham, Kabupaten Landak. 

Rumah Radakng yang sudah dihuni sejak 140 tahun lalu itu sampai dengan saat ini masih bertahan dan dihuni oleh sekitar 200 orang. Bagi orang Dayak, rumah panjang merupakan simbol semangat kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong dan kebersamaan masyarakat Dayak.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Prinsip-Prinsip yang Dipegang Teguh Orang Makassar

Koropak.co.id, 02 December 2022 12:09:24

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulawesi Selatan - Makassar, merupakan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan yang terkenal dengan keanekaragaman kuliner hingga karakteristik orang-orangnya yang layak dijadikan sebagai teladan. Diketahui, Orang Makassar sendiri dikenal memiliki karakter lugas, terutama dalam hal berbisnis. 

Orang Makassar juga memegang sejumlah prinsip hidup yang diajarkan secara turun-temurun. Prinsip-prinsip yang tergambarkan lewat pepatah itu juga menjadi pedoman mereka dalam bertindak dan bertutur kata. 

Lantas, apa saja prinsip Orang Makassar yang tentunya bisa dijadikan motivasi dalam hidup? 

Pertama adalah Teai mangkasara' punna bokonna loko' atau Bukan orang Makassar kalau yang luka di belakang yang bermakna bahwa orang Makassar tidak boleh lari dari setiap masalah, apalagi dalam hal bisnis. Selain itu, setiap persoalan juga harus diselesaikan dengan cara menghadapinya secara langsung, bukan dengan cara kabur menghindar. 

Tak hanya itu saja, Orang Makassar menjadikan setiap kegagalan sebagai cambuk untuk mencoba kembali, hingga usahanya berhasil. Prinsip kedua yaitu Ku alleanngi tallanga na toalia atau lebih baik tenggelam daripada kembali yang dimaknai oleh orang Makassar untuk pantang menyerah dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Mereka juga mengibaratkan dirinya sebagai pelaut yang memilih kapalnya tenggelam daripada pulang tidak membawa hasil.

Namun tenggelam dalam hal ini juga mempunyai makna bahwa tidak masalah Anda gagal berapa kali, akan tetapi suatu saat nanti keberhasilan yang akan Anda petik. Ketiga adalah, Ejapi nikana doang atau seseorang dikenali atas karya dan perbuatan yang bermakna bahwa orang-orang Makassar tak terbuai dengan andai-andai dan keberhasilan semu. 

Suatu pencapaian itu dinilai jika memang hasilnya tampak terlihat. Prinsip ini juga bisa dimaknai bahwa mereka mengutamakan karya dan ingin dikenal sebagai seseorang pekerja keras. Karena perpaduan dua hal ini tentunya bisa membuat orang Makassar dihormati. Prinsip selanjutnya adalah Anggulungmi naung batu lompoa nanggulung nai' batu-batu cakdia atau batu besar bergulir ke bawah, sedangkan batu kecil bergulir ke atas.



Baca: Legenda Suku Bugis-Makassar Taklukan Lautan dengan Kapal Pinisi


Prinsip itu bermakna bahwa kesuksesan dan keberhasilan jangan sampai membuat sombong dan lupa diri. Sebab, orang-orang sukses yang sombong akan jatuh, sementara orang-orang yang rendah diri akan menanjak naik. Pepatah ini juga bisa bermakna bahwa kesuksesan itu berputar, terkadang yang di atas akan tergantikan oleh yang ada di bawah.

Kelima ada prinsip Macca na malempu' atau pintar dan jujur. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip orang Makassar sangat mengajarkan kejujuran dan kepintaran. Sebab, orang pintar yang tidak jujur hanya akan melahirkan penipu dan orang jujur yang tidak pintar akan dimanfaatkan kepolosannya dan akan dibodoh-bodohi.

Prinsip keenam ada Bajikkangangi tattilinga naia tallanga atau Lebih baik miring daripada tenggelam. Diketahui, prinsip-prinsip orang Makassar juga banyak diilhami dari falsafah-falsafah pelaut. Hal itu dikarenakan sejak dulu suku Makassar terkenal sebagai pelaut ulung dan salah satunya adalah pepatah ini yang bermakna, tak mudah untuk merintis bisnis. Sebab, Adakalanya kita mengalami kerugian hingga bangkrut. 

Bagi orang Makassar, prinsip itu berarti lebih baik rugi daripada bangkrut. Oleh karena itulah, berbisnislah dari hal-hal kecil, sehingga kita nantinya tidak mudah bangkrut. Hal ini juga bisa bermakna, bahwa orang Makassar akan berusaha sekeras-kerasnya untuk tidak bangkrut yang diibaratkan tidak apa-apa merugi, asal jangan sampai gulung tikar. 

Terakhir ada pepatah Le'ba kusuronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang atau apabila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju. Prinsip ini sendiri diketahui sangat dipegang teguh oleh pengusaha dan perantau asal Makassar dan mereka malu untuk melihat kebelakang. 

Sehingga mereka pun hanya akan fokus untuk melihat ke depan. Pandangan ke depan ini juga bisa dimaknai sebagai tujuan yang akan dicapai. Sementara, pandangan ke belakang hanya menjadi simbol menyerah dan lepas tangan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Budaya Khas Qatar, Tuan Ruma FIFA World Cup 2022

Koropak.co.id, 29 November 2022 12:13:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Selain sebagai tuan rumah penyelenggaraan FIFA World Cup 2022 atau Piala Dunia 2022, Qatar juga dikenal sebagai negara muslim konservatif yang sangat terikat dengan tradisi dan budayanya. 

Qatar sendiri merupakan negara dengan pendapatan ekonomi tinggi yang ditopang oleh cadangan gas alam dan minyaknya yang terbesar ketiga di dunia. 

Bahkan negara ini juga masuk sebagai negara berpendapatan per kapita tertinggi di dunia. Selain itu, Qatar juga menjadi negara Arab pertama yang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. 

Kendati sama halnya seperti negara-negara Arab lainnya yang menjunjung tinggi keramahtamahan, namun alangkah baiknya juga mengetahui budaya-budaya khas Qatar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menyinggung warga lokal. Lantas apa saja budaya khas Qatar itu?

1. Salam dan berjabat tangan 

Saat berada di tempat umum, biasanya orang-orang Qatar akan berdiri saat menyapa orang lain, terutama kepada orangtua sebagai tanda hormat. Saat pria menyapa wanita Qatar, alangkah baiknya untuk menunggu wanita melakukannya terlebih dulu sebelum berjabat tangan. 

Di sisi lain, beberapa orang juga lebih suka untuk menghindari kontak fisik dengan lawan jenis, dan seringkali dikarenakan alasan agama. Dengan cara yang sama itu jugalah, mungkin kaum pria di Qatar tidak selalu menawarkan untuk berjabat tangan saat bertemu dengan wanita. 

Alih-alih berjabat tangan, warga Qatar sendiri sering meletakkan tangan kanannya di atas jantung sebagai isyarat salam yang hangat. Selain itu, berciuman di depan umum sebagai tanda kasih sayang juga sangat dihindari di Qatar, akan tetapi publik masih menerima berpegangan tangan.



Baca: Mengenal 14 Tradisi yang Sudah Tidak Ditemukan Lagi di Etnis Mandailing


Sementara itu, Qatar juga merupakan negara yang 90 persen penduduknya merupakan ekspatriat. Sehingga membuat penggunaan bahasa Inggris sudah ada di mana-mana. Namun warga lokalnya juga sangat menghargai orang yang menyapanya dengan bahasa Arab dasar serta ucapan terima kasih. 

2. Melepas alas kaki 

Saat seorang tamu diundang ke rumah orang Qatar, mereka harus melepas alas kakinya sebelum memasuki rumah. Tak hanya itu saja, duduk dengan menyilangkan kaki dalam posisi apapun dianggap tidak sopan jika telapak kaki menghadap ke tuan rumah. 

Biasanya, orang Qatar akan makan dengan menggunakan tangan dari piring besar yang diletakkan di lantai. Etiket makan ini sendiri diketahui berasal dari budaya gurun Badui. Lalu, jika tuan rumah orang Qatar menawarkan sesuatu sebaiknya diterima. Sebab, jika menolaknya, maka bisa menyinggung mereka. 

3. Budaya minum kopi 

Menariknya lagi, Qatar juga ternyata memiliki budaya minum kopi seperti negara-negara Teluk lainnya, yaitu dengan memanggang biji kopi lalu merebusnya dengan kapulaga dan kunyit. Minuman yang berwarna kekuningan seperti teh ini pun selanjutnya dituangkan dari pot "dallah" tradisional yang panjang, ke cangkir mini.

Kopi ini juga sering disajikan bersama dengan kurma. Kemudian dallah yang merupakan simbol budaya di sebagian besar wilayah Teluk itu juga bahkan didirikan sebagai monumen di ruang publik Qatar. Saat disajikan untuk tamu, tuan rumah akan mencoba kopinya terlebih dahulu untuk menguji rasanya. 

Tamu juga harus selalu minum dengan tangan kanan dan kopi tersebut akan terus disajikan oleh tuan rumah sampai sang tamu melambaikan cangkir sebagai pemberi tanda sudah cukup.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Upacara Rakut Sitelu, Cara Suku Karo Merawat Kekerabatan

Koropak.co.id, 28 November 2022 07:12:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Kehidupan masyarakat Suku Karo, Sumatra Utara tak lepas dari upacara adatnya yang berlangsung secara turun temurun. Salah satunya adalah upacara rakut sitelu yang berperan penting bagi masyarakat suku Karo. 

Upacara yang berhubungan dengan sistem kekerabatan suku Karo ini tidak lepas dari tungku atau memasak. Diketahui, upacara rakut sitelu juga dikenal sebagai sistem kekerabatan yang terdiri dari beragam fitur di dalamnya. 

Sehingga bisa dikatakan, dalam pelaksanaannya, upacara ini tidak bisa dilakukan tanpa kehadiran dari unsur-unsur kerabat. Selanjutnya, unsur-unsur yang dilibatkan dalam upacara rakut Sitelu juga bergantung dari tujuan yang akan diadakan pada saat upacara tersebut. 

Unsur yang dilibatkan itu dinamakan kalimbubu, sembuyak atau senina. Jadi, bisa dikatakan juga bahwa posisi orang Karo pada saat upacara berlangsung itu tergantung dari tujuannya. 

Untuk kalimbubu sembuyak sendiri memiliki posisi prioritas petani, maka posisi unsur lain pun tentunya tidak akan berani untuk mendahului dalam kegiatan apapun termasuk makan. Posisi ini juga diyakini sebagai pembawa berkat, sekaligus juga sebagai pembawa ridho dari Tuhan. 

Selain itu, kelompok pemberi perempuan, atau yang disebut juga sebagai kalimbubu sembuyak ini sangat dihormati di lingkungan masyarakat suku Karo. Kemudian untuk kalimbubu bena-bena, merupakan kelompok perempuan yang sudah melewati sekurang-kurangnya tiga generasi hingga dianggap sebagai senior. 

Pada umumnya kelompok ini sudah menjadi bagian pemberi perempuan dari awal generasi. Lalu, ada juga kalimbubu simajek lulang, yakni orang-orang yang berperan sebagai pendiri kampung dan pada umumnya selalu diundang saat diadakan pesta-pesta adat di Tanah Karo. 



Baca: Sarsar Lambe, Tradisi Bertarung Adat Karo


Ada juga kalimbubu simupus atau simada dareh, yakni pihak pemberi perempuan yang berasal dari generasi Ayah atau pihak yang semarga dari ibu kandung. Jenis kalimbubu ini biasanya dikategorikan berdasarkan kekerabatan dari perkawinan. 

Sementara itu, untuk kalimbubu senina berada pada golongan kalimbubu simupus yang berperan sebagai juru bicara bagi kelompok-kelompok semarga kalimbubu simupus. Sebagai bagian dari golongan kalimbubu di suku Karo, seseorang pun memiliki hak untuk dihormati oleh anak berunya. 

Selain itu juga, ia berhak untuk memberikan perintah dan menerima bagian dari mahar dalam sebuah perkawinan dari anak berunya. Sebagai golongan dari kalimbubu juga, maka dia akan memiliki tugas serta kewajiban yang harus dilakukan. 

Biasanya untuk tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakannya itu di antaranya, menjaga perdamaian antar anak beru terutama jika ada yang sedang berselisih, memberi saran-saran jika diminta anak berunya, dan meminjamkan serta mengenakan pakaian adat jika ada dalam acara adat. 

Diketahui, anak beru sendiri merupakan bagian dari pihak pengambil perempuan atau bisa dikatakan juga sebagai penerima perempuan untuk diperistri. Anak beru ini memiliki tugas untuk mendamaikan jika ada perselisihan di keluarga Kalimbubu. Sehingga, itulah alasannya mengapa Anak beru di sebut juga sebagai halim moral.

Anak beru ini juga dikategorikan menjadi dua golongan yakni anak beru tua dan anak beru taneh. Yang membedakan kedua golongan ini adalah jika anak beru tua merupakan pihak penerima perempuan, dalam tingkatan nenek moyang. Sedangkan anak beru taneh merupakan penerima perempuan pertama saat sebuah kampung selesai dibangun atau didirikan. 

Dalam pelaksanaan acara adatnya, anak beru memiliki tugas dan kewajiban seperti mengatur jalannya pembicaraan musyawarah, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk pesta, mengawasi semua harta milik kalimbubu-nya, hingga menjadi juru damai bagi pihak kalimbubu-nya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tari Sarama Datu, Ritual Sakral dari Etnis Mandailing

Koropak.co.id, 27 November 2022 15:11:58

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Setiap daerah di Indonesia mempunyai jenis tarian yang berbeda-beda dengan ciri khasnya masing-masing. Salah satunya tarian yang dimiliki oleh suku atau etnis Mandailing, Sumatra Utara. 

Ya, etnis Mandailing sendiri mempunyai beberapa tarian tradisionalnya dengan ciri khasnya tersendiri dan sering dipertunjukkan dalam berbagai upacara dan kegiatan adat di masyarakat. Salah satunya adalah tari Sarama Datu.

Tari Sarama Datu merupakan tarian yang pada awal mulanya sering digunakan atau dilakukan untuk meminta sesuatu melalui kuasa roh. Dalam prakteknya, tarian ini hanya dilakukan oleh satu orang penari saja yang dinamakan Sibaso.

Untuk satu orang penarinya yang dinamakan Sibaso itu diambil dari tokoh Shaman dalam religi lama orang Mandailing yang disebut dengan Si Pelebegu.

Biasanya, tarian ini juga akan diiringi dengan lagu ensambel dengan musik sambilan Sibaso atai Gordang Sambilan yang seolah-olah seperti meminta bantuan atau pertolongan pada begu atau roh-roh halus untuk mengabulkan permohonannya. 

Jenis tarian ini sering dipakai saat terjadi banyak musibah di Mandailing, seperti hujan yang menguyur secara terus menerus, bencana kekeringan, hingga penyakit menular. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, hanya Sibaso saja yang bisa berkomunikasi dengan roh halus melalui tariannya.

Di masa lalu, upacara ritual Paturun Sibaso (Marsibaso) atau disebut juga pasusur begu ini diselenggarakan saat terjadi musibah besar seperti mewabahnya penyakit kolera dan musim kemarau, atau sebaliknya musim penghujan yang berkepanjangan.

Musibah besar itu tentunya mengganggu aktivitas penduduk setempat yang hingga pada akhirnya akan menimbulkan kelaparan, dikarenakan habisnya persediaan padi atau beras sebagai makanan pokok mereka.



Baca: Mengenal 14 Tradisi yang Sudah Tidak Ditemukan Lagi di Etnis Mandailing


Sehingga, untuk mengatasi Bala Na Godang atau bencana besar itu, mereka pun meminta pertolongan begu atau roh-roh leluhur melalui perantaraan Sibaso. Sebab, menurut keyakinan mereka. konon dahulu hanya Sibaso inilah yang dapat berkomunikasi dengan begu.

Konon dahulu, upacara ritual Paturun Sibaso ini dilaksanakan di alaman bolak atau Halaman Luas dari Bagas Godang atau Istana Raja. Upacara ritual ini juga akan dihadiri oleh Raja, Namora Natoras, Si Tuan Najaji atau Penduduk Setempat dan seorang tokoh supranatural bernama Datu yang memiliki peranan sangat besar, terutama untuk memimpin pelaksanaan upacara-upacara ritual. 

Kala itu, datu tersebut dipandang sebagai "Gudang Ilmu" dikarenakan ia memiliki berbagai macam kearifan tradisional atau Traditional Wisdom yang sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup komunitas huta atau banua.

Dalam pelaksanaannya, akan disediakan makanan khusus untuk Sibaso, yaitu parlaslas yang diletakkan di atas sebuah nampan yang diantaranya berisi Garing atau Ikan Jurung yang dibakar dan Pege atau Lengkuas, serta Ngiro atau Air Nira di dalam Tanduk Ni Orbo atau Wadah yang terbuat dari tanduk kerbau. 

Setelah Gordang Sambilan dimainkan dengan Gondang atau Repertoar Musik khusus bernama Mamele Begu, Sibaso pun akan menari-nari hingga kemudian mengalami kesurupan atau Trance. Dalam keadaan kesurupan inilah, Sibaso akan meminta makan dan minum. 

Setelah diberi makan dan minum, Sibaso pun akan kembali menari-nari. Lalu, tak lama kemudian sang Datu menghampiri Sibaso untuk memberitahukan adanya suatu peristiwa Bala Na Godang atau Musibah Besar yang sedang melanda penduduk.

Sang Datu juga turut memohon kepada Sibaso agar berkenan menanyakan apa penyebab dan bagaimana solusinya kepada begu, dikarenakan penduduk sudah tidak mampu lagi untuk mengatasinya. Setelah itu, Sibaso pun akan memberitahukan apa penyebab dan bagaimana caranya mengatasi musibah besar itu kepada sang Datu. 

Setelah memberi tahu, Sibaso akan terjatuh dan tidak sadarkan diri atau pingsan hingga beberapa saat kemudian ia pun tersadar kembali seperti semula dengan keadaannya yang sama sebelum upacara ritual tersebut dimulai.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lebih Dekat dengan Tenun Troso dari Jepara

Koropak.co.id, 26 November 2022 15:10:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - Kabupaten Jepara merupakan daerah yang berada di Jawa Tengah dan sangat berkembang dalam sektor kerajinan. Tak hanya terkenal dengan kerajinan kayu ukir atau mebel khas Jeparanya, di Kabupaten ini juga masih menyimpan banyak lagi kerajinan lain yang berkembang.

Mulai dari batik, keramik, monel, patung kayu, rebana hingga yang tidak kalah menariknya adalah kerajinan tenun ikat tradisional khas dari Jepara yang dikenal dengan nama tenun troso.

Mungkin banyak yang mengira bahwa tenun khas daerah itu hanya ada di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Bali, tentunya itu salah besar. Karena sebenarnya, kerajinan kain tenun juga bisa ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk salah satunya di Jepara. 

Bahkan, bisa dikatakan juga produksi tenun di Kabupaten Jepara ini tenyata tergolong tinggi. Ya, sesuai dengan namanya, tenun ini berasal dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 

Desa ini jugalah yang kini menjadi sentra dari kerajinan tenun tersebut. Yang mana, profesi sebagai pengrajin tenun di desa tersebut tentunya menjadi mata pencaharian utama untuk masyarakat Desa Troso.

Sementara itu, jika mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, diketahui awal mula kemunculan tenun di desa itu sendiri berasal dari tokoh yang dihormati di desa tersebut, yaitu Ki Senu dan Nyi Senu.

Diceritakan saat itu Nyi Senu memiliki keterampilan dalam membuat kain tenun. Disana, mereka pun kerap menggunakan kain buatannya sendiri dalam acara besar. Tak disangka, kain yang dikenakan itu pun membuat warga Desa Troso tertarik hingga pada akhirnya Nyi Senu mengajarkan mereka cara pembuatan kainnya.

Perlahan namun pasti, keterampilan yang diajarkan Nyi Senu itu pun mulai banyak dikuasai oleh warga desa sampai diwariskan secara turun temurun. Sehingga pada akhirnya, kerajinan ini seakan menjadi identitas khas warga Troso sampai menjadikannya sebagai mata pencaharian.



Baca: Mengenal Sarung Tenun Kresesek Khas Pulau Sumbawa


Saat berkunjung ke Desa Troso, pastinya kalian pun akan menemukan banyak sekali rumah-rumah yang sedang melakukan proses pengerjaan kain tenun. Entah itu proses pengerjaan kainnya maupun proses pewarnaannya. 

Tak hanya itu saja, bunyi hentakan mesin tenun tradisional juga seakan tidak ada habisnya untuk terus menjalin benang-benang menjadi kain tenun yang cantik. Selain itu, di setiap sisi jalan juga kalian bisa sangat mudah menemukan toko-toko penjual kain tenun.

Sebagai kain tenun buatan tangan sendiri yang mengedepankan kualitas dan detail estetikanya, maka pembuatan kain tenun ini pun bisa memakan waktu selama berhari-hari, atau bahkan juga berminggu-minggu untuk dapat menghasilkan kualitas terbaik.

Untuk proses pembuatannya sendiri akan dimulai dengan pengetengan dan pewarnaan benang. Setelah itu, benang tersebut akan dijemur dan ditata sesuai motif. Kemudian benang akan ditarik dengan alat bum satu persatu, lalu dilanjutkan dengan proses pencucukan. Setelah proses itu selesai, barulah kain ini bisa ditenun.

Setidaknya ada dua motif otentik dari kain khas Troso yang pertama kali dibuat, yaitu motif lompong (talas) dan motif daun cemara. Namun seiring berjalannya waktu, secara perlahan motif-motif lain pun dikembangkan oleh warga dengan cerita atau filosofinya yang berbeda-beda.

Berdasarkan data dari laman Pemerintahan Desa Troso, hingga 2020, sebanyak 115 motif kain tenun khas Troso sudah dipatenkan. Sementara untuk jumlah total pekerja yang ada kini mencapai ribuan orang.

Di sisi lain, sampai dengan saat ini kerajinan tenun di Desa Troso terus mengalami perkembangan meskipun terkadang juga mengalami berbagai hambatan. Selain itu juga, untuk pangsa pasarnya pun kini sudah mencapai berbagai wilayah di Indonesia dengan alat produksi yang juga terus berkembang. 

Pengrajin juga bisa menerima pesanan kain sesuai dengan motif dari daerah lain atau motif yang sesuai dengan keinginan. Menariknya lagi, ternyata Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga menjadi orang yang menggemari tenun khas Bumi Kartini ini.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengenal Tarian Kontemporer di Indonesia

Koropak.co.id, 23 November 2022 15:06:02

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tahukah kamu? Tarian yang ada di Indonesia sendiri dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tari tradisional dan tari kontemporer.

Berbicara mengenai tari kontemporer, saat ini keberadaan seni tari tersebut masih dipertahankan. Bahkan seiring berjalannya waktu, seni tari kontemporer itu juga sudah memiliki banyak sekali pengembangan.

Tari kontemporer sendiri merupakan jenis tarian yang tidak memikirkan pakem atau aturan tertentu yang ada di dalam tradisi tari pada umumnya. Selain itu, tari kontemporer juga lebih banyak memadukan unsur tradisi dengan unsur modern. 

Meskipun begitu, tari kontemporer juga tidak akan menghilangkan jiwa dari tari tradisi tersebut. Sehingga, tari kontemporer bisa juga diartikan sebagai kombinasi tari tradisional dengan tari modern tanpa menghilangkan jiwa dari tari tradisional itu sendiri.

Jadi bisa dikatakan bahwa tari kontemporer tidak sepenuhnya menggunakan unsur modern saja, akan tetapi juga ada unsur tradisional yang ditunjukkan di setiap gerakan tariannya. 

Namun di sisi lain, tari kontemporer juga tidak bisa sepenuhnya disebut tari tradisional dikarenakan di dalamnya terdapat unsur modern yang ditunjukkan dari setiap gerakan atau iringan musik yang digunakannya.

Biasanya, tari kontemporer ini menggunakan iringan musik campuran alat musik tradisional dan alat musik modern. Dengan demikian, tari kontemporer itu pun akan lebih mudah menyesuaikan dengan tren yang ada saat ini, bersifat bebas, dan tidak memiliki aturan baku dalam setiap gerakan yang ada dalam tariannya.



Baca: Tari Barong dan Metamorfosis Reog Ponorogo


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kontemporer diartikan pada waktu yang sama atau masa kini. Dengan begitu, tari kontemporer pun bisa diartikan sebagai suatu tarian yang bisa menggambarkan keadaan masa kini, dan ketika diciptakan akan memiliki ketentuan diluar tarian pada umumnya.

Adapun beberapa karakteristik atau ciri-ciri tari kontemporer yang dapat membedakannya dengan tari modern diantaranya, pola gerakan dari tari kontemporer diketahui lebih bebas dibandingkan tari tradisi. Kemudian tari kontemporer juga tidak terikat dengan aturan yang sudah ada. 

Selain itu, untuk gerakan yang digunakan dalam tariannya juga tidak harus mendasar pada tari tradisional. Selanjutnya, tata tariannya diciptakan sesuai dengan suasana pada saat penciptaan. 

Sementara untuk musik yang digunakan, merupakan kombinasi alat musik modern dan tradisional, dan kostum yang digunakan pun tidak harus sesuai dengan aturan kostum tari tradisi. 

Tari kontemporer juga memiliki beberapa tujuan di dalamnya, diantaranya sebagai sarana hiburan, media pendidikan, tujuan artistik, hingga media komunikasi. Sementara itu, setidaknya ada beberapa contoh tari kontemporer dari Indonesia yang sudah dikenal oleh masyarakat banyak. 

Biasanya, tari-tari kontemporer ini dipertunjukkan ketika acara penyambutan, hiburan, dan media ekspresi seniman. Salah satunya seperti, tari Barong-Barongan yang merupakan tari kontemporer dari Bali dengan pencipta tariannya yaitu seorang seniman bernama I Wayan Dibia. 

Ada juga Tari Yapong yang diciptakan oleh seniman tari bernama Bagong Kussudiarjo. Tari Yapong ini digunakan untuk merayakan ulang tahun kota Jakarta ke-450 tahun. Kemudian ada juga Tari Cak Rina yang sudah dikenal luas sejak 1972-an. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari, Sardono W. Kusumo. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sebab Musabab Orang Batak Dianugerahi Suara Emas

Koropak.co.id, 23 November 2022 07:13:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Utara - Mungkin semua orang juga mengetahui jika Suku Batak atau Orang Batak, Sumatra Utara dikenal sebagai maestro-nya dunia tarik suara. Sehingga banyak sekali deretan public figure yang berasal dari kalangan Suku Batak. 

Makanya, tidak mengherankan sekali jika di setiap audisi dan kontes tarik suara, sudah dipastikan orang Batak akan selalu hadir sebagai kontestannya. Bahkan biasanya orang Batak juga sudah pasti mampu memegang tiket juara.

Kalian tentunya sudah akrab dengan nama-nama penyanyi tenar seperti Judika Sihotang, Sammy Simorangkir, Viky Sianipar, Petra Sihombing, Rita Butarbutar, hingga yang saat ini tengah naik daun Lyodra Margareta Ginting, semua nama penyanyi tersebut merupakan orang Batak.

Lantas, apa yang membuat banyak orang Batak ini memiliki "Suara Emas" dan pandai bernyanyi?

Diketahui bahwa hal utama yang membuat orang Batak ini mempunyai suara yang merdu itu tercermin juga dari cara berbicara orang Batak yang cenderung lantang. Dengan mereka terbiasa berbicara dengan suara yang keras dan nada yang meninggi itulah, secara tidak langsung vokal mereka pun menjadi ikut terlatih. 

Karena setidaknya juga suara yang lantang tersebut bisa mendukung aspek power ketika bernyanyi. Berdasarkan sejarahnya, pada zaman dahulu orang Batak tinggal di dataran Tinggi, atau tepatnya berada di sekitar bukit barisan. Selain itu, hampir semua wilayah tanah Batak juga dikelilingi oleh pegunungan.

Dikarenakan pada saat itu pemukiman penduduk masih sepi, maka untuk memanggil orang yang jaraknya 10 kilometer sekalipun, mereka pun harus berteriak sekeras-kerasnya. Sehingga saat itu ada interaksi dari kedua pihak dengan suara lantang, keras, nyaring yang hingga lama kelamaan kedengaran merdu.

Kemudian dari segi biologis, menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli menyebutkan bahwa orang Batak memiliki kepala yang rongga sinusnya meliputi pita suara, dan pernafasan yang lebih besar dari suku lain.

Dengan demikian, hal itu pun memungkinkan proses tarik suara lebih leluasa hingga membuat kualitas vokal seperti resonansi dan tone suaranya pun cenderung lebih enak untuk didengar.

Selain itu, berdasarkan cerita dari orang-orang berdarah Batak, khususnya mereka yang beragama nasrani, kebanyakan dari mereka sudah dilatih bernyanyi sejak kecil untuk bernyanyi di gereja. 



Baca: Orang Batak Punya Lapo Tuak, Bukan Sekadar Tempat Rehat


Mereka juga bahkan sudah mulai mendapatkan dasar-dasar olah vokal. Biasanya, latihan yang mereka lakukan itu baik secara duo, trio, maupun grup vokal. 

Dengan latihan yang terus menerus dilakukan selama di gereja, ditambah juga dengan pengenalan pada teknik-teknik vokal inilah yang secara tidak langsung membuat orang Batak lebih terlatih untuk bernanyi. Khususnya bagi mereka yang tergolong aktif mengikuti latihan ini di gereja.

Ditambah lagi, ketika sedang berkumpul, entah itu kumpul keluarga atau kumpul bersama kawan-kawan di lapo, orang Batak juga senang sekali bernyanyi. Saat berkumpul, lantunan nada yang indah pun pastinya sering muncul untuk meramaikan suasana. 

Di sisi lain, mereka juga kerap melakukan improvisasi dan harmonisasi ketika bernyanyi secara kelompok. Untuk mencurahkan apa yang mereka rasakan, orang Batak juga kerap menuangkannya melalui sebuah nyanyian, terlebih lagi ketika sedang bersama-sama.

Pasalnya, semua kehidupan orang Batak juga kerap dituangkan dalam bentuk lagu, mulai dari kelahiran, menjadi anak remaja, dewasa, sukses, pernikahan, percintaan, silsilah, pujian, alam lingkungannya, profesinya, marganya, namanya, hingga meninggal pun tetap ada lagu yang berhubungan dengan hal itu. 

Pada intinya, setiap suka maupun duka, orang Batak selalu mencurahkannya dalam bentuk nyanyian. Sehingga secara tidak sadar, pada akhirnya banyak orang Batak yang menjadi composer lagu "tidak resmi" dikarenakan ia mampu menciptakan lagu dan alunan not secara tersendiri.

Dengan dipadukan oleh kondisi alam dan kebiasaan yang selalu tidak pernah lepas dari dunia tarik suara, tentunya suara merdu yang dimiliki orang Batak itu merupakan anugerah yang tak ternilai dari Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Bahkan falsafahnya juga sudah ada jauh sebelum ada agama di dunia dan Indonesia. Orang Batak akan senantiasa bersyukur kepada Tuhan sang pencipta dengan falsafahnya "Debata Mula Jadi Nabolon".

Ada juga pendapat yang menarik mengenai alasan mengapa orang Batak ini mempunyai suara yang bagus. Alasannya  karena orang Batak juga hobi minum tuak, minuman beralkohol khas Batak yang hampir tak pernah ketinggalan ketika ada kegiatan berkumpul. 

Menurut kepercayaan mereka, tuak yang mereka minum itu bisa membuat tenggorokan menjadi hangat, hingga membuat suaranya menjadi lebih merdu. Tuak juga akan membuat semangat untuk bernyanyi akan semakin bergelora. Maka, tidak heran jika mereka pun mampu menyanyi hingga larut malam bahkan 24 jam nonstop.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Silu, Alat Musik Tradisional Khas Bima yang Keberadaannya Semakin Langka

Koropak.co.id, 22 November 2022 07:15:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id, NTB - Indonesia memiliki banyak sekali alat musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah. Menariknya lagi, masing-masing daerah di Indonesia itu juga memiliki alat musik tradisional dengan beragam bentuk dan ciri khasnya tersendiri.

Salah satunya adalah alat musik tradisional yang berasal dari daerah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal dengan nama "Silu". Alat musik yang termasuk dalam jenis aerofon tipe hobo ini memiliki lidah lebih dari satu. 

Untuk lidah pada silu itu sendiri disebut dengan pipi silu, dan terdiri dari empat lidah. Di daerah Bima ada pembagian alat musik. Di daerah Bima terdapat pembagian golongan alat musik, dan silu termasuk ke dalam golongan ufi yaitu sebuah alat musik tiup. 

Sementara itu, ada golongan alat musik lain yang disebut dengan bo-e yaitu untuk alat musik pukul dengan tangan seperti rebana. Kemudian ada juga Ko–bi untuk alat musik petik seperti gambo (gambus), lalu golongan toke, untuk alat musik yang dipukul dengan alat pemukul, seperti genda (gendang).

Kemudian golongan yang terakhir adalah Ndiri, untuk alat musik gesek seperti biola mbojo (biola Bima). Biasanya bahan untuk membuat silu sendiri adalah kayu sawo, perak dan daun lontar. Menariknya lagi, pada silu sendiri tidak ada ornamen-ornamen, dan warna yang digunakannya juga adalah warna asli. 



Baca: Mendedah Madihin, Sastra Lisan yang Terancam Punah


Di sisi lain, dalam pembuatan silu juga tidak ada ukuran yang standar. Pasalnya di dalam membuat silu, yang diutamakan adalah produksi suaranya. Seiring berjalannya waktu, saat ini silu dan pemain atau peniup silu sudah semakin langka untuk ditemukan di Bima. 

Oleh karena itulah, diperlukan upaya yang serius untuk melestarikan dan melakukan proses Re-Generasi terhadap alat musik dan peniupnya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan melatih anak-anak muda, para pelajar dan membentuk sanggar-sanggar seni budaya Bima-Dompu di setiap sekolah-sekolah. 

Selanjutnya bisa ditindaklanjuti dengan megundang seniman dan peniup silu dan sarone untuk mengajari para pelajar sebagai salah satu program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. 

Tak hanya itu saja, mereka juga harus diberikan honor yang sepadan agar ada rangsangan untuk terus membina dan mendidik anak-anak generasi Bima yang mencintai budayanya.

Silu ini juga memiliki fungsi sebagai pembawa melodi dalam ansambel musik Bima yang pada umumnya terdiri dari silu, gong, dan gendang. Biasanya silu juga dipergunakan untuk mengiring tari-tarian istana Bima pada upacara Maulid Nabi, upacara pelantikan raja, khitanan, dan upacara-upacara lain yang berlangsung di istana. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


ABC Lima Dasar, Pemainan Simpel yang Mengasah Kecepatan Berpikir

Koropak.co.id, 20 November 2022 15:19:59

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Tengah - ABC Lima Dasar merupakan permainan tradisional yang terbilang sangat simpel untuk dimainkan. ABC lima dasar juga menjadi permainan zaman dulu yang sangat populer bagi anak-anak di era 90-an.

Dilansir dari laman budaya-indonesia.org, permainan tradisional ini berasal dari Jawa Tengah (Jateng). Sementara itu, alasan permainan yang satu ini terbilang simpel dikarenakan untuk memainkan ABC lima dasar tidak memerlukan bantuan alat-alat lainnya. 

Dalam permainannya, setiap pemainnya akan menggunakan lima jarinya untuk bermain. Menariknya lagi, dalam permainan ABC lima dasar ini juga setiap pemain diharuskan untuk berpikir cepat.

Sebelum permainan di mulai, biasanya semua peserta akan terlebih dahulu menyepakati tema apa yang akan di gunakan pada permainan ABC lima dasar, seperti nama-nama hewan, buah, kota, dan lain sebagainya. 

Setelah ditentukan, selanjutnya setiap pemain pun akan mengeluarkan lima jarinya secara bersamaan sembari mengucapkan "ABC lima dasar". Kemudian setelah itu satu orang pemain biasanya akan bertugas untuk menghitung jumlah jari yang di keluarkan semua pemain dengan menggunakan huruf. 

Selanjutnya setelah penghitungan berakhir, maka setiap pemain pun harus menyebutkan sesuatu yang berawalan dengan huruf terpilih sesuai dengan tema yang ditentukan. Contohnya, semua jari yang keluar dari semua pemain sebanyak 10 huruf alfabet dan huruf kesepuluh itu adalah "H".

Maka, huruf inilah yang akan menjadi huruf awalan dari sesuatu sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Seperti tema hewan, maka pemain bisa menyebut harimau, hamster, hiu, dan lainnya.



Baca: Permainan Tradisional Petak Jongkok, Ada Sejak Zaman Belanda


Bagi pemain yang menjawab paling lambat atau bahkan tidak menjawab sekali, pemain itu pun biasanya akan dikenakan hukuman sesuai dengan kesepakatan bersama yang ditentukan di awal permainan. Untuk memainkan permainan ABC lima dasar ini, bisa dilakukan lebih dari dua orang pemain.  

Kendati merupakan permainan yang terbilang simpel, namun jangan salah, ABC lima dasar ini ternyata memiliki manfaat untuk mempercepat kinerja berfikir otak. Tak hanya itu saja, keterampilan bahasa anak-anak juga semakin terasah dengan memainkan permainan yang satu ini.

Kenapa? Alasannya karena anak-anak dituntut untuk bisa menghapal huruf dengan cepat dan menyenangkan. Terlebih lagi permainannya dilakukan secara bersama-sama dengan menyebutkan huruf sesuai jari yang diacungkan secara berulang-ulang.

Sehingga dengan demikian anak-anak pun nantinya akan mengenal kosakata baru dari berbagai kelompok nama-nama dari tema permainan tradisional itu, seperti benda, hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, permainan ini juga dapat digunakan sebagai media belajar bagi anak-anak dalam menguasai kata dengan cepat untuk menyebutkan nama sesuai huruf yang telah ditentukan. 

Selain itu, anak-anak juga akan belajar untuk berlomba dalam mengatakan kata dengan cepat dan tepat di permainan ABC lima dasar sesuai tema yang telah ditentukan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: