Melihat Ragam Budaya dan Kerajinan Indonesia di Finance Track Presidensi G20

Koropak.co.id, 16 February 2022 12:52:37
Penulis : Eris Kuswara
Melihat Ragam Budaya dan Kerajinan Indonesia di Finance Track Presidensi G20

 

Koropak.co.id - Dalam pelaksanaan kegiatan Finance Track Presidensi G20 yang digelar sepanjang Februari 2022 ini, Indonesia menampilkan keanekaragaman budaya dan kerajinan khas bumi Nusantara kepada dunia internasional.

Sekretaris Pokja Logistik Bidang Finance Track G20, Rudy Rahmaddi memaparkan bahwa pihaknya ini memberikan manfaat dan dampak dari pertemuan G20 terhadap ekonomi lokal, baik yang berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), termasuk juga dengan budaya setempatnya.

"Itulah yang ingin kita capai juga. Selain itu, pemanfaatan tema 'Harmony in Diversity' dalam penyelenggaraan kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan pariwisata Indonesia. Sehingga setelah penyelenggaraan G20 berakhir, diharapkan dapat mendorong wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia," Rudy saat memaparkan persiapan 2nd FCBD & 1st FMCBG G20 secara virtual sebagaimana dihimpun Koropak dari berbagai sumber, Rabu 16 Februari 2022.

Diketahui,acara 2nd FCBD Meeting dilaksanakan pada 15 hingga 16 Februari 2022. Sedangkan untuk 1st FMCBG G20 digelar pada 17 hingga 18 Januari 2022 yang dilaksanakan di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, dan diikuti oleh kurang lebih 175 peserta yang hadir secara fisik.

"Panitia penyelenggara tentunya telah menyiapkan gerai UMKM yang menunjukkan ragam kerajinan Indonesia yang bersifat ramah lingkungan seperti batik, aksesoris perak, hingga kerajinan hasil limbah kayu dan tumbuhan," ucapnya.

Pihaknya juga kemudian mempersiapkan pertunjukan wayang blenchong, program sosial seperti lari dan sepeda dengan tema Kampung Betawi, penyuguhan sejarah stadion GBK, memperkenalkan lagu keroncong, hingga pemberian souvenir khas UMKM Indonesia seperti tenun dan kopi.

 


Baca : Jadi Presidensi KTT G20, Jokowi Undang Para Pemimpin Negara ke Bali

"Untuk acara persembahan budaya Wayang Blenchong ini juga kita kaitkan dengan tema Presidensi G20 recover together, recover stronger. Sementara itu, untuk kemanfaatan aspek logistik bagi Presidensi G20 ini juga bertujuan untuk memberikan pesan bahwa Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," jelasnya.

Selanjutnya dalam acara itu juga turut mengenalkan dan mendorong produk UMKM Indonesia yang sudah berstandar dan berorientasi ekspor.

Lalu, memberikan pesan bahwa basis ekonomi Indonesia saat ini disokong oleh UMKM yang sangat potensial dalam rantai perdagangan internasional serta mendorong pertumbuhan sektor jasa di berbagai sektor melalui belanja pemerintah yang produktif.

Adapun pada acara 2nd FCBD Meeting ini, membahas mengenai communique drafting yang akan dipimpin oleh G20 Finance and Central Bank Deputy Indonesia selama dua hari.

Sedangkan pada 1st FMCBG membahas enam agenda, yang terdiri dari global economy and health, international financial architecture, financial sector issue, suistanble finance, infrastructure dan international taxation.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Itenas Bandung Kenalkan Budaya Sunda pada Mahasiswa Internasional

Koropak.co.id, 06 December 2022 12:12:41

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung memperkenalkan budaya Sunda kepada mahasiswa di sejumlah kampus di wilayah Bandung Raya, Senin 5 Desember 2022.

Kegiatan ke-11 dan 12 yang merupakan bagian dari program Building Relationships, Intercultural Dialogue, and Global Engagement (BRIDGE): Exploration of Sundanese Culture 2022 digelar secara langsung di Ruang 14301 Kampus Itenas dengan mengangkat topik Kriya (Desain Interior).

Kegiatan tersebut dihadiri mahasiswa internasional dari perguruan tinggi se-Bandung Raya, meliputi 2 mahasiswa Institut Teknologi Nasional, 22 mahasiswa Universitas Padjadjaran, 9 mahasiswa Telkom University, dan 5 mahasiswa Universitas Kristen Maranatha.

Selanjutnya 4 mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, 4 mahasiswa Universitas Widyatama, 15 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, dan 6 mahasiswa Politeknik Negeri Bandung. 

Sementara untuk mahasiswa internasional yang berpartisipasi berasal dari Jerman, Rwanda, Jepang, Korea, India, Saudi Arabia, Kazakhstan, Gambia, Filipina, Malagasy, Timor Leste, China, Malaysia, Thailand, Afghanistan, Mesir, Uzbekistan, Rusia, Tajikistan, dan Ghana.

Dosen Itenas, Jamaludin yang hadir sebagai narasumber juga turut membawa 10 buah kerajinan khas Sunda yakni boboko atau bakul tempat mencuci beras dan menyimpan nasi untuk dijadikan sebagai buah tangan bagi mahasiswa yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

"Kegiatan memperkenalkan budaya Sunda kepada mahasiswa internasional di Bandung Raya ini juga digelar dalam rangka promosi budaya lokal khususnya budaya Sunda. Selain itu, kegiatan ini juga turut memberikan wadah bagi mereka untuk membangun jejaring," kata Jamaludin belum lama ini.

Jamaludin menambahkan, dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan dapat terbangun kepekaan sosial terhadap budaya khususnya yang ada di Kota Bandung. Tidak hanya mahasiswa internasional, kegiatan kali ini juga turut diikuti mahasiswa asal Indonesia di sejumlah kampus di Bandung Raya. 

"Kita juga ingin menumbuhkan engagement sosial dan budaya mereka di Bandung Raya sebagai bagian dari membangun soft diplomasi. Di sisi lain, kegiatan ini juga merupakan bagian dari program Building Relationships, Intercultural Dialogue, and Global Engagement (BRIDGE) Exploration of Sundanese Culture yang turut dilaksanakan oleh belasan kampus lainnya," tambahnya.



Baca: Masuk MURI, Mahasiswa UMP Main Kentongan Terbanyak


Sementara itu, Kepala Konsorsium Kantor Urusan Internasional (KUI) Itenas, Dyah Asri H. Taroepratjeka mengungkapkan, tujuan dari program BRIDGE: Exploration of Sundanese Culture 2022 adalah untuk mempromosikan local culture and wisdom khususnya budaya Sunda kepada mahasiswa Internasional yang berdomisili di Bandung Raya.

"Melalui program BRIDGE ini, kami berharap bisa memberikan dampak yang positif baik itu untuk mahasiswa maupun perguruan tinggi. Mulai dari bertambahnya jumlah mahasiswa asing di Indonesia, peningkatan reputasi internasional bagi perguruan tinggi penyelenggara, hingga sebagai prototipe MBKM untuk mahasiswa internasional," ungkap Dyah Asri dalam keterangannya.

Diketahui, program BRIDGE: Exploration of Sundanese Culture 2022 sendiri dilaksanakan berdasarkan Indikator Kerja Utama (IKU) Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 754/P/2020 sebagai alat ukur kinerja perguruan tinggi yang adaptif dan berbasis luran lebih konkret sekaligus juga merupakan alat ukur dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). 

Salah satu parameter IKU yang perlu dicapai tersebut adalah jumlah mahasiswa asing. Maka dari itulah, Konsorsium Kantor Urusan Internasional (KUI) Bandung mengadakan kegiatan bersama untuk berbagi sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perguruan tinggi dengan melakukan kegiatan kolaborasi Building Relationships, Intercultural Dialogue, and Global Engagement (BRIDGE).

Kemudian untuk para mahasiswa asing yang menempuh studi di 10 perguruan tinggi anggota konsorsium KUI Bandung tersebut nantinya akan mengikuti kegiatan selama delapan minggu dengan melakukan eksplorasi budaya Sunda sebagai bagian dari diplomasi.

Program yang sudah berjalan sejak 29 Oktober dan akan berakhir pada 10 Desember 2022 mendatang di Universitas Kristen Maranatha ini digelar setiap Sabtu dengan sesi teori dan praktikumnya masing-masing selama 2 x 50 menit.

Tak hanya itu saja, program ini juga digelar guna memberikan wadah bagi mahasiswa Internasional untuk membangun komunikasi dan jejaring dengan sesama mahasiswa internasional lainnya di kampus dan menumbuhkan engagement sosial dan budaya mereka di Bandung Raya sebagai bagian dari upaya membangun soft diplomacy.

Dengan demikian diharapkan program ini nantinya bisa memiliki output berupa meningkatnya IKU 2 bagi masing-masing perguruan tinggi, yakni jumlah mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus dan IKU 6 terkait dengan kerjasama universitas dengan universitas Mitra yang termasuk ke dalam peringkat 100 QS WUR by subject serta jumlah mahasiswa asing yang berkegiatan di kampus yang dapat diakui untuk pemeringkatan QS dan THE.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Festa 2022, Ajang Tumbuhkan Potensi Ekonomi dan Budaya Kawasan Yogyakarta Selatan

Koropak.co.id, 05 December 2022 15:09:25

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Dalam rangka menumbuhkan potensi ekonomi dan budaya di kawasan Yogyakarta Selatan, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogyakarta menggelar Festival Jogja Kota (Festa) tahun 2022 yang dilaksanakan di Embung Giwangan mulai dari 2 s.d 4 Desember 2022.

Festival Jogja Kota 2022 yang digelar kali ini merupakan tahun kedua festival ini diselenggarakan. Festa tahun 2022 kali ini juga turut dimeriahkan oleh pertunjukan dan musik dari DJ Dylan, kabaret show, Musik Angkringan, Udara Band, Rubah di Selatan, FLKFSTVLS, Evan Loss hingga The Rain. 

Menariknya lagi, setiap sore harinya, festival yang terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dipungut biaya alias gratis itu juga menghadirkan sesi diskusi interaktif terkait film dan Yogya masa depan dalam Afternoon Tea.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Aman Yuriadijaya menjelaskan bahwa kegiatan Festa 2022 yang digelar di Embung Giwangan tersebut sebagai awal atau proses pemanasan ke depan sebagai lokasi taman budaya. 

"Sehingga sebagai taman budaya, diharapkan nantinya embung ini bisa menjadi satu pusat kegiatan budaya yang dimanfaatkan masyarakat Kota Yogyakarta. Selain itu, kekuatan ekosistem apapun termasuk budaya juga sudah seharusnya menempatkan interaksi semua pihak sebagai bagian untuk berdialog," jelas Aman belum lama ini.

Aman menambahkan, termasuk juga dengan membangun semangat berkolaborasi dan jejaring guna menguatkan sistem budaya dan hal itu turut ditunjukan dalam Festa 2022 dengan kolaborasi yang melibatkan 14 kemantren. Kemudian dibuat menjadi 4 klaster kawasan cagar budaya yaitu Kraton, Kotabaru, Kotagede dan Pakualaman.

"Dengan demikian, antar kemantren ini bisa menjadi satu kesatuan dan hal itulah yang kami namakan dengan kolaborasi. Kolaborasi ini nantinya akan memperkuat daya saing dan kekuatan karakternya pun bisa menjadi lebih optimal, sehingga tentunya akan menjadi daya tarik," tambahnya.



Baca: Amukti Zamrud Nuswantara, Ajang Perekat Keberagaman yang Ada di Yogyakarta


Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti menuturkan, empat kawasan cagar budaya di Kota Jogja tersebut juga tentunya memiliki potensi masing-masing, dan festival ini pun mencoba untuk semakin mengasah potensi tersebut melalui kemantren-kemantren yang ada.

"Jogja punya empat kawasan cagar budaya yang sangat luar biasa. Keempatnya menunjukkan budaya dan sosio culture. Inilah yang kita coba ekspose melalui potensi-potensi yang ada di kemantren-kemantren tersebut," tutur Yetti.

Yetti mengungkapkan pihaknya juga melakukan klasterisasi, dikarenakan masing-masing kemantren juga tidak berjalan sendiri namun berkolaborasi sesuai dengan klaster kawasan cagar budaya yang disebutnya sebagai jagongan.

"Untuk potensi produk kuliner dan kreatif dari kolaborasi kemantren itu, akan dikemas dalam warung kota. Kemudian untuk Jagongan Kraton sendiri merupakan kolaborasi dari Kemantren Kraton, Ngampilan, Wirobrajan, Mantrijeron, Gedongtengen dan Tegalrejo," ungkapnya. 

Dalam kesempatan itu, Yetti juga mencontohkan, Jagongan Kraton yang menampilkan potensi produk kuliner, mulai dari nasi gurih dan endog abang. Selanjutnya Jagongan Pakualaman, yang merupakan kolaborasi dari Kemantren Pakualaman, Gondomanan dan Mergangsan dengan potensi yang dimilikinya yaitu produk jamu, kerajinan bambu dan keris.

"Sedangkan untuk Jagongan Kotabaru, merupakan kolaborasi Kemantren Gondokusuman, Jetis dan Danurejan yang misalnya menampilkan potensi produk wayang uwuh hasil kreasi daur ulang sampah seperti kertas kemasan. Terakhir ada Jagongan Kotagede yang merupakan kolaborasi Kemantren Umbulharjo dan Kotagede yang menampilkan jamu dan blangkon. Semua produk itu dapat dibeli pengunjung dalam festival ini," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kenalkan Batik Depok Melalui Ethnic Fashion Festival

Koropak.co.id, 05 December 2022 07:10:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Jawa Barat menggelar kegiatan bertajuk "Pesona Depok Ethnic Fashion Festival" yang dilaksanakan di Main Hall Mal Pesona Square Depok selama dua hari berturut-turut mulai dari 3 s.d 4 Desember 2022. 

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisporyata) Kota Depok, Dadan Rustandi mengatakan bahwa festival dilaksanakan sebagai upaya dalam melestarikan budaya khususnya yang ada di Kota Depok, Jawa Barat. 

"Festival itu juga dilaksanakan sebagai upaya dalam meningkatkan ekonomi kreatif dengan menghadirkan para desainer di Kota Depok. Jadi dengan adanya acara ini, para desainer dapat mengenalkan batik Depok dengan pakaian yang dihasilkan," kata Dadan dalam pembukaan Pesona Depok Ethnic Fashion Festival belum lama ini.

Dadan menambahkan, dalam event tersebut pihaknya turut menghadirkan Ketua Umum Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Ahmad Dahlan sebagai narasumbernya yang menyampaikan perkembangan budaya di Kota Depok, baik itu dari pakaian, bahasa, maupun kebiasaan. 



Baca: Lestarikan Wastra Nusantara Melalui Pagelaran Fesyen Bersama Desainer Edward Hutabarat


"Kami tentunya berharap, masyarakat yang hadir dalam festival ini bisa lebih mengetahui lagi tentang budaya di Kota Depok sekaligus juga menikmati wisata di Kota Depok," tambahnya. 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Pengembangan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Disporyata Kota Depok, Christine Desima Arthauli mengungkapkan, untuk rangkaian festival kali ini dimeriahkan dengan peragaan busana daerah hasil karya sejumlah desainer. 

"Setidaknya ada sebanyak 18 desainer ikut berpartisipasi baik dari Kota Depok dan luar daerah yang siap go nasional dan internasional dengan hasil pakaiannya yang dibuat," ungkap Christine.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Lestarikan Wastra Nusantara Melalui Pagelaran Fesyen Bersama Desainer Edward Hutabarat

Koropak.co.id, 03 December 2022 12:14:27

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) beberapa waktu lalu menggelar kegiatan bertajuk "Tenun Nusantara: Menjaga Tradisi untuk Bumi Lestari".

Kegiatan yang digelar di Kawasan Candi Borobudur tersebut tersaji dalam bentuk pagelaran fesyen dan pameran tenun dengan menggandeng desainer kawakan, Edward Hutabarat yang juga dikenal sebagai sosok dengan kepakaran wastra Nusantaranya. 

Edward Hutabarat pun sukses menggelar presentasi karyanya yang mengangkat eksplorasi kain tenun Nusantara khas Sumba. Dalam pagelaran itu, koleksi tenun yang ditampilkan merupakan hasil kerja sama Edward Hutabarat dengan para artisan lokal yang begitu menginspirasinya sejak ia melakukan perjalanan ke tanah Sumba, yakni sekitar 20 tahun silam.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid menjelaskan bahwa kegiatan fashion show yang diselenggarakan itu merupakan kegiatan yang penting dan baik sekali untuk mengangkat sekaligus mengampanyekan kearifan lokal dengan cara kekinian. Bahkan baginya hasil karya Edward Hutabarat itu sangat penting ditampilkan. Terlebih lagi, hasil karyanya dengan mengangkat budaya Nusantara, salah satunya Sumba.

"Yang beda dari fashion show kali ini dikarenakan mengangkat hasil karya kerajinan Nusantara. Kami berharap ke depannya akan terus bermunculan hasil-hasil karya nusantara. Selain itu, Kemendikbudristek juga akan mendukung dan selalu terbuka dalam hal pelestarian budaya. Asalkan apa yang akan dimunculkan dan pesannya itu harus kuat," jelas Hilmar dalam rilis Kemendikbudristek di Jakarta, Jumat 2 Desember 2022.

Sebagaimana halnya wastra Nusantara lain yang sarat akan nilai budaya yang tinggi, kain tenun Sumba juga memiliki keindahan mulai dari motif yang variatif hingga nilai filosofis yang harus tetap dijaga. Hal itulah yang membuat Edward Hutabarat selalu menjaga pakem dari kain tersebut ketika mengembangkannya.



Baca: Pendopo Fashion Show Angkat Keindahan Kain Sikka


Di sisi lain, Edward juga menilai pentingnya pakem tersebut dikarenakan Kain Sumba dan juga kain-kain peradaban dari kepulauan lainnya adalah Kain Peradaban. Kain itu diciptakan untuk melengkapi sebuah seremoni, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. 

"Dibalik keindahan kain tenun ini juga, ada serangkaian proses yang panjang dan tidak mudah. Hal ini jugalah yang turut merepresentasikan kesabaran penenun lokal dalam membuat kain tenun itu. Mulai dari memintal sendiri benang dari kapas hingga nantinya menjadi kain. Ada satu proses yang disebut Kabakil yaitu teknik akhir dalam menyelesaikan sehelai Kain Sumba yang dikerjakan dengan arah tenunan berlawanan dan dipelintir," jelas Edward.

Edward juga mengungkapkan bahwa proses itu memiliki fungsi dalam melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kainnya, sehingga kain tenun yang melalui proses ini nantinya akan memiliki keluaran kain yang sangat rapi. 

"Kain tenun dengan Kabakil inilah yang menjadi nilai spesial dari kain tenun Sumba, karena tidak semua penenun juga bisa membuat Kabakil dan diperlukan keahlian khusus untuk membuat itu," ungkapnya.

Diketahui, Kabakil ini jugalah yang merepresentasikan judul dari gelaran fesyen Edward Hutabarat kali ini. Selain itu, nuansa di dalamnya pun seakan menyuarakan semangat untuk menjaga eksistensi kain Nusantara agar keindahannya tidak terlepas dari identitas budaya bangsa layaknya Kabakil yang melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain yang menghasilkan motif yang indah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peringati 60 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang, UBL Gelar Japan Festival

Koropak.co.id, 01 December 2022 13:26:33

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Dalam rangka mengenalkan Budaya Jepang ke warga Jakarta dan sekitarnya, Universitas Budi Luhur (UBL), Jakarta, menggelar kegiatan Japan Festival bertajuk "Building Harmony and Peace", Kamis 1 Desember 2022.

Kegiatan yang juga digelar dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia-Jepang ini setidaknya melibatkan ratusan siswa dari SMP, SMA dan SMK se-Jabodetabek untuk berkompetisi cosplay Jepang. 

Tak hanya itu saja, Japan Festival juga turut melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal dengan makanan khas Jepang yang disajikan seperti Sushi, Sashimi, Onigiri, Ramen dan lain sebagainya. 

Rektor Universitas Budi Luhur (UBL), Wendi Usino mengatakan bahwa dengan diselenggarakannya acara festival Jepang ini, diharapkan generasi muda bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan tentang kebudayaan Negeri Sakura itu. Karena menurutnya, budaya Jepang yang baik itu bisa diadopsi. 



Baca: Amukti Zamrud Nuswantara, Ajang Perekat Keberagaman yang Ada di Yogyakarta


"Tentunya saya juga merasa bangga dengan acara ini, yang mana kita disini bisa memahami budaya dari Jepang. Selain itu, kita juga sama-sama belajar dari kulinernya, budayanya, dan lain sebagainya. Intinya, kami berharap agar kedepannya bisa menyelenggarakan kegiatan budaya dari negara lain seperti Korea Selatan, Belanda dengan sama-sama belajar budayanya," kata Wendi belum lama ini. 

Sementara itu, Perwakilan Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Mika Suzuki juga turut mengapresiasi kegiatan Jepang Festival yang diselenggarakan UBL. Bahkan ia juga mengaku, kegiatan ini bisa menjadi sarana bagi generasi muda untuk saling belajar antar budaya.

"Melalui kegiatan ini, tentunya kita bisa saling belajar budaya Indonesia-Jepang. Mulai dari segi bahasa, keilmuan, makanan, dan lain sebagainya. Saya juga suka dengan acara ini, sukses untuk acara Japan Festival Universitas Budi Luhur. Terima kasih semuanya," tandas Mika.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Amukti Zamrud Nuswantara, Ajang Perekat Keberagaman yang Ada di Yogyakarta

Koropak.co.id, 01 December 2022 07:15:33

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Dikenal sebagai Kota Pelajar, membuat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tujuan banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menimba ilmu. Tidak hanya duduk di bangku sekolah atau kampus, bahkan mereka turut menjalin komunikasi dan interaksi bersama dengan orang dari berbagai daerah dan masyarakat DIY itu sendiri.

Sebagai upaya dalam merekatkan hubungan antar masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia itulah, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar Pentas Seni Budaya Nusantara Tahun 2022 bertajuk "Amukti Zamrud Nuswantara" yang dilaksanakan di Monumen Serangan Umum 1 Maret pada Kamis 1 Desember 2022.

Diketahui, tajuk tersebut memiliki makna mengagungkan keindahan Nusantara yang beraneka budaya kekayaan alamnya. Pentas Seni Budaya Nusantara Tahun 2022 itu juga mempersembahkan penampilan adat dari 34 provinsi di Indonesia. 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan bahwa kegiatan yang diikuti kalangan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia ini, menjadi media sekaligus kesempatan yang bagus untuk bisa lebih merekatkan hubungan masyarakat agar bisa lebih guyub dan lebih toleran.



Baca: Cara Pemkab Kediri Bangun Digitalisasi Seni


"Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, masyarakat dari berbagai daerah itu pun bisa saling memahami, atau paling tidak bisa menjaga diri lebih aman dan nyaman. Kegiatan ini juga dilaksanakan dengan tujuan untuk membangun pemahaman bersama, terutama terkait etnis dan budaya," kata Dian Lakshmi Pratiwi belum lama ini. 

Dian Lakshmi menyebutkan bahwa Pentas Seni Budaya Nusantara 2022 ini juga memang dilatarbelakangi dengan adanya keanekaragaman suku, budaya, agama, ras, golongan serta menganut prinsip nilai-nilai kebersamaan yang terdapat dalam dasar Negara Pancasila. Sehingga dengan adanya kegiatan ini, diharapkan nantinya tidak hanya muncul kedekatan antar mahasiswa, akan tetapi juga terbangun kedekatan dengan warga Yogyakarta.

"Melalui kegiatan ini diharapkan nantinya bisa lebih terkoneksi, dan mampu membangun hubungan yang baik juga dengan masyarakat. Oleh karena itulah, kami mencoba untuk mengenalkan semua mahasiswa di Yogyakarta, kepada masyarakat. Sehingga jika terjadi sesuatu, bisa enak juga komunikasinya," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Dian Lakshmi juga mengharapkan agar DIY bisa menjadi rumah bersama, dan DIY juga bisa menjadi Indonesia mini yang nyaman dan aman. 

"Kami berharap Yogyakarta bisa menjadi rumah bersama, dan ruang yang nyaman untuk belajar. Sebab bagaimanapun juga kebudayaan menjadi bagian penting dan salah satu pendekatannya dengan diplomasi yang bisa menghaluskan rasa. Kemudian bisa mendekatkan dengan komunikasi yang lebih nyaman, enak, tanpa harus memaksa," pungkasnya. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Cara Pemkab Kediri Bangun Digitalisasi Seni

Koropak.co.id, 30 November 2022 07:04:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Saat ini, kemajuan di bidang teknologi tentunya menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi para pelaku seni dan budaya. Sebagai upaya dalam mendukung kemajuan teknologi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri pun saat ini tengah berupaya mengoptimalkan infrastruktur internet dan digital.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4), Imam Mubarok menilai, di samping infrastruktur, kemampuan para pelaku seni dalam memanfaatkan kemajuan juga masih menjadi persoalan di Kediri. Pasalnya, tak dapat dipungkiri juga bahwa skill hingga pengetahuan para pelaku seni dan budaya dalam menguasai teknologi dan digitalisasi perlu ditingkatkan.

Alasan inilah yang membuat Bupati Kediri Hanindhito, melalui DK4 dan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu menggelar diskusi bersama pelaku seni dan budaya dari berbagai desa dan komunitas bertajuk "Tantangan dan Solusi Wajah Kebudayaan Kabupaten Kediri di Era Digital" di Kabupaten Kediri.

"Saat ini yang menjadi ancaman bagi pelaku seni dan budayawan adalah digital. Oleh karena itulah, SDM yang dimiliki saat ini perlu di-upgrade. Kemudian yang kedua adalah legalitas, tentunya kita akan memberikan rekomendasi pada Bupati Kediri untuk membantu legalitas seniman dan kebudayaan terkait dengan perizinan," kata Imam belum lama ini. 

Imam mengatakan bahwa di era digital saat ini, para pelaku seni didorong untuk tidak mengedepankan ego sektoral, melainkan  berkomitmen untuk bersatu dalam membangun kebudayaan di Bumi Panjalu. Selain itu, kebudayaan di Kabupaten Kediri juga akan maju apabila didukung dengan fasilitas serta infrastruktur digital dan internet yang disediakan oleh pemerintah kabupaten.



Baca: Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang


"Nantinya, Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri sendiri akan membuatkan web yang didalamnya merupakan peta kebudayaan. Jadi semua potensi di sana, nanti hanya tinggal klik dan semua data pun akan muncul. Sementara itu, berdasarkan data dari DK4, tercatat sebanyak 1.760 budaya dan seni sudah terdaftar di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri dan memiliki induk kebudayaan," katanya. 

Imam menambahkan, adapun untuk nomor induknya akan menjadi sesuatu hal yang penting, yakni sebagai legalitas terlebih lagi untuk menyambut beroperasinya bandara. Sementara itu, untuk menindaklanjuti instruksi bupati dalam memfasilitasi pelaku seni dan budaya, Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri, Sri Ilham Wahyu Subekti telah menyiapkan infrastruktur internet.

"Infrastruktur internet itu disiapkan untuk mendukung dibuatnya web dan media promosi digital lain, seperti live streaming. Menurut kami, bandwidth yang dimiliki Diskominfo sendiri cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di samping itu juga, kami telah menyiapkan 1.450 Mbps. Sedangkan, dalam penggunaan rutinnya hanya digunakan 350 Mbps. Jadi, apabila desa dan kecamatan serentak memakai (bandwidth), maka yang terpakai hanya 750 Mbps," tambahnya. 

Kepala Diskominfo Kabupaten Kediri, Sri Ilham Wahyu Subekti menuturkan, dengan rancangan web dan kecepatan internet tersebut, Bupati Kediri mendorong agar pelaku seni dapat menggunakan infrastruktur yang ada. Bahkan ia juga berharap ke depannya pelaku seni dan budaya di Kediri dapat lebih proaktif dalam mempromosikan budaya dan seni asli dari Kabupaten Kediri. 

"Hal ini termasuk juga dengan Petilasan Sri Aji Jayabaya, cerita panji, candi dan sejarah, serta pesona alam dari gunung yang dinilai mampu menunjang pariwisata di Kabupaten Kediri. Intinya, sesuai dengan instruksi Mas Dhito, teman-teman budayawan ini kita fasilitasi. Sehingga nanti publikasinya itu tidak hanya lokal, tapi mendunia. Jadi yang telah disiapkan oleh Mas Dhito ini bisa dimanfaatkan secara maksimal," katanya.

Selain bidang seni dan budaya, dalam kesempatan itu Ilham juga mengajak seluruh desa untuk terus mengembangkan potensinya dengan memanfaatkan infrastruktur yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengintip Wajah Baru Benteng Pendem Ngawi Jawa Timur

Koropak.co.id, 28 November 2022 12:09:55

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Benteng Van den Bosch, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem merupakan sebuah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi Kota, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Benteng Pendemi memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Hektare. Letak benteng ini juga sangat strategis dikarenakan berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun yang bermuara ke sungai Bengawan Solo. 

Tak hanya itu saja, dulu benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, sehingga dari luar membuatnya terlihat seperti terpendam. Guna menjaga kelestariannya sebagai bangunan cagar budaya, Benteng Pendemi ini pun direhabilitasi.

Kabarnya, baru-baru ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sendiri telah menyelesaikan rehabilitasi benteng yang dibangun pada 1840-an.

Di sisi lain, rehabilitasi yang dilakukan pada Benteng Pendemi ini juga sekaligus untuk meningkatkan potensi sektor pariwisata khususnya yang ada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Tercatat, rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi ini mulai dikerjakan sejak 10 Desember 2020 sebagai tindak lanjut Direktif Presiden Ir H Joko Widodo atau Jokowi setelah meninjau bangunan bersejarah itu pada Februari 2019 lalu. 

Diketahui juga bahwa saat ini pekerjaan konstruksi bangunan dari benteng tersebut 100 persen telah selesai dan siap untuk segera diresmikan sebagai destinasi wisata edukasi dan landmark kawasan heritage di Kabupaten Ngawi. 



Baca: Hampir Rampung, Benteng Pendem Diharapkan Jadi Wisata Edukasi


"Dikarenakan kawasan Benteng Pendem ini merupakan cagar budaya, jadi untuk penataannya harus dilakukan secara hati-hati. Hal itu dilakukan agar nilai kultural yang ada pada bangunan cagar budaya ini tetap terjaga dengan baik," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dalam rilisnya belum lama ini.

Sementara itu, untuk rehabilitasi kawasan pusaka Benteng Pendem tersebut dilaksanakan dengan mengadopsi Adaptive Reuse Concept. Artinya, rehabilitasinya dilakukan dengan mengembalikan fungsi bangunan cagar budaya dengan fungsi baru.

Kemudian juga seminimal mungkin mengubah bentuk bangunan lama dengan tetap menjaga nilai kultural. Untuk rehabilitasi Benteng Pendem Ngawi itu dilaksanakan selama 2020 s.d 2022 oleh kontraktor PT. Nindya Karya dengan melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur. 

Sedangkan untuk anggaran pekerjaan konstruksinya sendiri bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp125 miliar. Anggaran itu digunakan untuk merehabilitasi 13 bangunan di dalam kompleks benteng dan juga untuk penataan lanskap kawasan Inti Benteng seluas 4,8 hektare. 

Selain itu juga dilakukan penataan pedestrian kawasan, normalisasi parit, pekerjaan Mekanikal Elektrikal Plumbing (MEP), dan pembangunan bangunan pendukung. 

Sebagai informasi, kawasan wisata Benteng Pendem ini berada di area Yon Armed 12 milik Kementerian Pertahanan seluas 5,4 hektare yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari pusat kota Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Selanjutnya, bangunan cagar budaya ini juga tentunya bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Kabupaten Ngawi yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari Bandara Juanda atau Kota Surabaya via Tol Trans-Jawa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Akhir Pekan Ini, Riksa Budaya dan Kongres Bahasa Cirebon Digelar

Koropak.co.id, 27 November 2022 07:06:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menggelar kegiatan tahunan bertajuk Riksa Budaya sebagai upaya dalam melestarikan tiga kekuatan budaya di Jawa Barat yakni Melayu-Betawi, Priangan dan Cirebon.

Kegiatan yang digelar mulai Sabtu 26 s.d Ahad 27 November 2022 ini menampilkan keanekaragaman budaya Cirebon, mulai dari penampilan lima maestro tari topeng hingga kongres bahasa Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar dengan mengangkat budaya Melayu-Betawi yang melekat pada masyarakat Bekasi pada 25 Oktober 2022 lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menjelaskan bahwa dalam kegiatan Riksa Budaya kali ini, beragam budaya dari Cirebon akan ditampilkan, termasuk juga pagelaran lima maestro tari topeng yang tariannya diwarisi dari leluhur mereka.

"Jadi untuk lima tari topeng tersebut diantaranya, tari topeng Losari, Gegesik, Palimanan, Slangit dan Indramayu. Kelima maestro tari topeng dari kelima daerah itu juga akan tampil dalam satu panggung dengan menampilkan tari topeng ciri khas daerahnya masing-masing," jelas Agus, belum lama ini. 

Selain tari topeng dari lima maestro tari topeng, lanjut Agus, akan ditampilkan juga pagelaran wayang kulit dengan dalangnya yang merupakan siswa dari salah satu sekolah di Kota Cirebon. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa adanya regenerasi budaya di Kota Cirebon.



Baca: Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang


"Tak hanya pagelaran seni, kami juga menggelar Kongres Bahasa Cirebon. Pasalnya, kami menilai peran bahasa itu sangat penting dikarenakan bahasa itu sendiri merupakan identitas suatu bangsa. Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon juga saat ini sedang membumikan penggunaan Bahasa Cirebon melalui program Sedina Nyerbon," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Febriyani menambahkan, sebelumnya kegiatan Riksa Budaya sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan tahun ini kegiatan tersebut baru bisa kembali digelar

"Kegiatan Riksa Budaya ini dimulai di kampung adat Kranggan, Kota Bekasi yang mengusung tema Saling Tulungan yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2022 lalu dengan mengangkat budaya Melayu-Bekasi yang melekat dengan masyarakat Bekasi," tambah Febriyani.

Selanjutnya, kata Febriyani, Riksa Budaya pun dirangkaikan dengan kongres bahasa yang digelar di Cirebon pada Sabtu (26/11) s.d Ahad (26/11). Kemudian setelah itu rencananya Riksa Budaya berikutnya akan digelar di Sukabumi, Jawa Barat pada Desember 2022 mendatang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Tembus Batas Kreativitas dengan Purnama

Koropak.co.id, 26 November 2022 10:07:05

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Forum Film Jawa Barat (FFJB) punya jurus jitu dalam upaya mengapresiasi karya-karya dari komunitas film. Gelaran Film Purnama namanya.

Inilah Gelar Film Purnama: Kebebasan Menembus Batas. Acaranya diadakan di Auditorium Bandung Creative Hub, Jalan Laswi Nomor 7, Kacapiring, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, pada Rabu 23 November 2022 lalu.

Mengusung tema "Menggali Potensi Daerah Sebagai Tema Film Indie", Film Purnama yang digelar FFJB sebagai wadah bagi komunitas film ini sudah dilaksanakan sejak 2013. Memang beberapa tahun terakhir sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun kali ini kembali bangkit.

Kegiatan film yang diputar di bulan purnama itu menghadirkan pemutaran dan diskusi film dengan moderator mumpuni. Mereka mengupas berbagai karya hingga memberikan banyak pencerahan untuk para peserta.

Turut hadir, mewakili Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, dan narasumber dari Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk serta Dosen Binus dan Multimedia Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Iwan Urban.

Ketua Forum Film Jawa Barat (FFJB), Irwan Zabonk menjelaskan bahwa Film Purnama merupakan wadah pemutaran film-film yang dihasilkan oleh komunitas film khususnya di Jawa Barat. Tercatat, setiap bulannya Purnama memutar sekitar 5 s.d 8 film.

"Awalnya Film Purnama ini digelar di Dago Tea House. Namun setelah pandemi Covid-19, kegiatannya pun dipindahkan dan digelar di Auditorium Bandung Creative Hub. Tak hanya pemutaran film, di Purnama ini juga turut diadakan diskusinya," jelas Irwan sebagaimana rilis yang diterima Koropak, Sabtu 26 November 2022.

Irwan menambahkan, untuk film yang diputar dalam Purnama sendiri mayoritasnya adalah film pendek. Akan tetapi, tidak semua film yang dikirimkan ke panitia di putar di Purnama. Sebab sebelum diputar di Purnama, pihaknya akan melakukan seleksi atau kurasi untuk film-film yang dikirimkan.

"Seperti di bulan ini, ada sekitar 18 karya film yang dikirim ke panitia. Namun setelah proses seleksi, kami hanya menampilkan tujuh film terlebih dahulu. Sementara untuk sisanya nanti," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Irwan juga mengungkapkan bahwa Purnama ini merupakan bentuk apresiasi dari FFJB terhadap karya-karya yang dihasilkan komunitas film. Bahkan rencananya, di akhir tahun pihaknya akan menggelar awarding. 

"Dari sekian karya film yang masuk, pada awarding itu panitia akan memilih 10 karya dan lima diantaranya akan mendapatkan penghargaan. Respons dari komunitas film di Jabar untuk Purnama ini juga alhamdulillah cukup banyak. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film yang dikirimkan ke panitia," ungkapnya.



Baca: Film "Pamali" dan Potensi Budaya Sunda


Irwan menuturkan, meskipun bukan lembaga resmi, namun FFJB sendiri tetap menjadi kualitasnya. Sehingga, untuk film yang tayang di Purnama memang merupakan hasil seleksi. 

Soal anggaran, kata dia, FFJB sempat mendapatkan dana dari Pemprov Jabar sebagai bentuk apresiasi pada masa pemerintahan Wakil Gubernur, Deddy Mizwar.

"Saat ini bantuan tersebut sudah tidak ada, makanya biaya penyelenggaraan Purnama ini masih mengunakan dana swadaya dari komunitas film," tuturnya.

Meskipun begitu, dia berharap, yang terpenting pihaknya ingin acara tersebut bisa terus berlanjut. Bahkan kata dia, dia ingin kegiatan tersebut seperti festival film-film lainnya yang umurnya hingga puluhan tahun.

"Seperti Festival Film Jogja yang digagas Garin Nugroho, usianya saat ini sudah hampir 20 tahun," tuturnya.

Tentang minat masyarakat terhadap film, Irwan menilai, saat ini minat tersebut terus berkembang. Terlebih lagi dengan hadirnya media sosial dengan konten-konten videonya yang lebih banyak. Sehingga hal tersebut tentunya bisa memicu karya film yang lebih bagus lagi.

"Terlebih lagi dengan ditunjang teknologi saat ini. Karena sekarang, pakai handphone saja sudah bisa bikin video. Makanya dengan dukungan teknologi yang mumpuni, saya yakin komunitas film akan terus bangkit," ujarnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi sekaligus Panitia FFJB dari Laboratorium Film Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom UNISBA), Askurifai Baksin, menyatakan bahwa FFJB merupakan wadah untuk berkreasi dan memberikan ruang publikasi bagi komunitas film khususnya di Jawa Barat. 

"Sejatinya film itu bukan hanya untuk diproduksi, akan tetapi juga harus dipublikasikan. Selain itu, film juga merupakan produk komunikasi audio visual. Dengan dukungan teknologi yang mudah dan canggih saat ini, tentunya pembuatan film pun bisa menjadi lebih berkembang," ucap Askur.

Askur menilai generasi muda juga seolah kembali menemukan semangatnya dengan kehadiran teknologi saat ini. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karya film bagus yang dihasilkan dan dikirimkan di Purnama kali ini. 

"Intinya, kami berharap kondisi ini bisa memajukan perfilman Indonesia, khususnya di Jawa Barat," harapnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:



Semarak Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya 2022 di Desa Jatibarang

Koropak.co.id, 26 November 2022 07:13:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Setelah beberapa tahun tertunda, Pemerintah Desa (Pemdes) Jatibarang akhirnya kembali mengadakan Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya Tahun 2022 yang dilaksanakan di Desa Jatibarang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis 24 November 2022.

Adat sedekah bumi dan karnaval budaya yang di mulai dari halaman Kantor Desa Jatibarang ini secara langsung bisa menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan. Salah satunya adalah dengan dilakukannya kegiatan adat istiadat.

Masyarakat pun tampak begitu antusias dalam mengikuti dan meramaikan adat sedekah bumi dan karnaval budaya. Pasalnya kegiatan itu dimeriahkan dengan acara tumpengan, baritan, do'a tahlilan, tausiyah, pawai karnaval adat, kesenian daerah, pagelaran Seni budaya Sandiwara Purbasari dari Losarang Indramayu, hingga pengundian hadiah dooprize.

Kuwu Desa atau Kepala Desa Jatibarang, Agus Darmawan mengatakan bahwa Adat Sedekah Bumi dan Karnaval Budaya ini digelar sebagai bentuk rasa syukur dari warga desa Jatibarang atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wata'ala berupa kesuburan pertaniannya yang makmur dan kesehatan dengan harapan semua warga desa Jatibarang bisa mendapat keberkahan dan terhindar dari segala macan mara bahaya.

"Sedekah Bumi ini merupakan adat budaya tahunan yang dilaksanakan sebagai tanda dimulainya masa bercocok tanam oleh para petani. Acaranya pun akan diawali dengan Tumpengan atau Baritan yaitu do'a bersama dari seluruh masyarakat yang hadir," kata Agus.



Baca: Simak Keseruan Festival Etnis Alas Gayo


Agus menambahkan, setelah itu dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin oleh Ustaz Karmadi, dimana masyarakat setempat akan membawa makanan dan minuman serta hasil pertanian yang di kumpulkan dalam satu tempat sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

"Acara pun dilanjutkan dengan ceramah keagamaan yang di sampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Darut Tahfidz Jatibarang, Ustaz Munawir. Kemudian setelah tausiyah, ditutup dengan do'a yang dipimpin oleh pengasuh pondok pesantren Petuah Jatibarang, Ustaz Masruhin," tambahnya.

Adapun untuk Karnaval budaya dan keseniannya, dilaksanakan di sepanjang Jalan Mayor Dasuki. Beragam budaya dan kesenian ditampilkan oleh peserta perwakilan dari tujuh Rukun Warga (RW) yang ada di Desa Jatibarang. 

"Mulai dari arak-arakan, hasil bumi, patung, tumpeng raksasa, seni musik tarling, singa depok, kuda ronggeng dan berbagai kreasi seni budaya lainnya memeriahkan karnaval budaya di Desa Jatibarang," pungkasnya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ketika Empat Negara Mendaftarkan Kebaya Jadi Warisan Budaya, Indonesia Bagaimana?

Koropak.co.id, 25 November 2022 12:09:23

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta -  Kebaya dikenal sebagai pakaian tradisional wanita yang menjadi warisan budaya dan populer di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. 

Baru-baru ini, dikabarkan bahwa Singapura akan mendaftarkan kebaya untuk masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO, melalui upaya multinasional bersama dengan 3 negara lainnya yakni Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. 

Dewan Warisan Nasional (NHB) Singapura menyebutkan, langkah yang dilakukannya ini akan menjadi nominasi multinasional pertama bagi Singapura untuk Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Pihaknya pun menjadwalkan untuk diserahkan penawarannya pada Maret 2023 mendatang.

CEO NHB, Chang Hwee Nee menjelaskan, kebaya adalah pakaian tradisional wanita yang populer di beberapa negara tersebut. Melalui langkah tersebut, pihaknya pun meyakini bahwa kebaya dapat mewakili dan mempromosikan pemahaman lintas budaya yang akan terus aktif diproduksi dan dikenakan oleh banyak komunitas di kawasan Asia Tenggara.

"Kebaya itu sendiri telah, dan terus menjadi aspek sentral dalam representasi serta tampilan warisan budaya dan identitas Melayu, Peranakan dan komunitas lainnya di Singapura. Selain itu, kebaya juga merupakan bagian integral dari warisan kami sebagai kota pelabuhan multikultural dengan hubungan lintas Asia Tenggara dan dunia," jelas Chang Hwee Nee, Kamis 24 November 2022.

Chang Hwee Nee menambahkan bahwa pendaftaran bersama yang dilakukan itu juga merupakan bentuk multikulturalisme dan akar bersama dengan kawasan ketiga negara tersebut. Bahkan Malaysia sendiri telah mengusulkan dan mengoordinasikan nominasi multinasional dan gagasan tersebut serta dibahas sebagai bagian dari rangkaian rapat kerja di antara sejumlah negara pada 2022.

"Baik Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand juga sudah setuju untuk bekerja sama dalam nominasi. Namun kami juga menyambut negara lain untuk bergabung dalam nominasi itu. Pasalnya, antara Agustus dan Oktober, NHB mengadakan enam diskusi kelompok terarah dengan 48 peserta untuk mencari pandangan tentang nominasi itu," tambahnya. 



Baca: Sejarah Kebaya hingga Pendaftaran ke UNESCO


Diskusi itu juga, lanjut Chang Hwee Nee, termasuk melibatkan praktisi budaya, perwakilan asosiasi budaya dan peneliti dalam pembuatan dan pemakaian kebaya. Kemudian mulai dari 1 hingga 3 November, perwakilan dari NHB dan masyarakat juga telah menghadiri lokakarya yang diselenggarakan oleh Malaysia di Port Dickson. 

"Di mana dalam lokakarya itu, mereka mendiskusikan nominasi tersebut, termasuk terkait apa yang harus disertakan dalam pengajuannya. Tak hanya itu saja, NHB juga akan mengatur inisiatif penjangkauan publik dari Januari s.d Maret 2023 untuk meningkatkan kesadaran akan nominasinya," ucapnya. 

Selanjutnya UNESCO sendiri akan menilai nominasi berdasarkan definisi warisan budaya takbenda, dan seberapa baik masing-masing dari empat negara itu akan memastikan promosi dan transmisi praktik terkait kebaya. Setelah itu diharapkan hasil nominasinya akan diumumkan pada akhir 2024 mendatang.

"Kerajinan dan praktik terkait kebaya ini ditambahkan ke inventaris warisan budaya takbenda NHB pada Oktober 2022, dan bergabung dengan elemen lainnya seperti budidaya anggrek dan pembuatan kecap dalam daftar 102 lokal terkuat," ujarnya.

Sementara itu, dibalik langkah yang dilakukan Singapura dan 3 negara Asia Tenggara lainnya untuk mendaftarkan kebaya sebagai salah satu daftar warisan budaya takbenda UNESCO itu, sebenarnya sudah digaungkan oleh Indonesia dalam beberapa waktu terakhir melalui Kebaya "Goes to UNESCO". 

Tak hanya itu saja, komunitas pecinta kebaya di Indonesia juga bahkan mengharapkan agar Indonesia menempuh jalur single nation dalam pengajuan kebaya sebagai warisan budaya ke UNESCO, dan bukan dilakukan secara bersama-sama dengan Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. 

Bukan tanpa alasan, mereka sendiri menilai apabila kebaya diakui oleh banyak negara, maka mungkin saja kebaya tersebut nantinya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dan tidak lagi menjadi bagian dari jati diri bangsa.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: