Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel

Koropak.co.id, 25 January 2022 13:28:37
Penulis : Eris Kuswara
Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Gado-Gado, Karedok dan Pecel

 

Koropak.co.id - Siapa yang tidak kenal dengan Gado-gado, karedok, dan pecel. Ketiga makanan tradisional dari Indonesia ini sama-sama memakai sayuran dan menggunakan bumbu kacang.

Sehingga, tidak mengherankan sekali jika masih banyak orang yang menganggap bahwa ketiganya merupakan makanan yang sama. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan gado-gado, karedok, dan pecel ini?

Dilansir dari bobo.id, Gado-gado merupakan salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang terkenal hingga ke luar negeri. Bahkan, gado-gado sendiri sering disebut sebagai salad orang Indonesia dikarenakan mirip seperti hidangan salad yang ada di luar negeri.

Gado-gado ini terdiri dari berbagai macam campuran, baik itu yang masih segar maupun yang sudah direbus. Untuk makanan yang masih segar itu di antaranya kubis atau kol, mentimun dan potongan tomat.

Sementara untuk makanan yang direbus di antaranya taoge, kentang dan telur. Selain itu, Gado-gado juga biasanya dinikmati dengan kerupuk udang atau emping.

Sedangkan untuk bumbunya terbuat dari kacang tanah yang digoreng, kemudian ditumbuk lalu dimasak dengan santan, cabai, gula jawa, daun salam, kecap, dan cuka.

 

 


Baca : Sejarah Nasi Uduk, Makanan Tradisional Khas Betawi

Selanjutnya Karedok merupakan makanan khas Sunda Jawa Barat. Sama halnya seperti gado-gado, bahan campuran dari makanan ini juga terbuat dari sayuran.

Namun yang membedakannya adalah karedok berisi sayuran segar yang tumbuh di sekitar rumah masyarakat Sunda di Jawa Barat. Mulai dari kacang panjang, taoge, kubis atau kol, mentimun dan daun kemangi.

Kemudian untuk bumbu kacangnya sendiri terbuat dari campuran kacang tanah, cabai, kencur, bawang putih, gula jawa, garam, terasi dan air asam.

Jika karedok berasal dari Jawa Barat, lain lagi dengan pecel. Pecel ini merupakan makanan tradisional khas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Untuk sayuran yang ada pada pecel biasanya sudah direbus terlebih dulu, sehingga sayurannya pun terlihat layu dan berbeda dengan karedok yang menggunakan sayuran segar.

Pembuat pecel juga bisa menggunakan sayuran apa saja yang biasa ditemukan di sekitar rumah maupun di pinggir sawah. Mulai dari kangkung, bayam, ubi jalar, daun beluntas, dan daun pegagan.

Sementara untuk bumbu kacangnya, harus memiliki rasa yang manis dan asam, akan tetapi juga pedas dan gurih. Selain itu, bumbu kacang pada pecel juga biasanya bisa disimpan untuk dimakan berkali-kali. Hal itu tentunya berbeda dengan bumbu karedok yang dibuat segar dan tidak bisa disimpan lama.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Kilas Sejarah Mengapa Aceh Pernah Berstatus Daerah Istimewa

Koropak.co.id, 07 December 2022 07:16:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Aceh - Provinsi Aceh atau yang dikenal juga dengan julukan Serambi Mekkah ini menjadi salah satu daerah di bumi Nusantara yang memiliki sejarah panjang, termasuk juga terkait dengan kebijakan otonomi khusus di Indonesia. 

Selain itu, tak dapat dipungkiri juga bahwa Aceh menjadi tempat penyebaran agama Islam di Nusantara yang pada saat itu dibawah kepemimpinan kerajaan Samudera Pasai.

Dalam perjalanannya, Aceh resmi dijadikan sebagai Daerah Istimewa pada 7 Desember 1959 dan Status pemberian daerah istimewa yang diberikan kepada Aceh melalui keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1959, yang isi keistimewaannya meliputi agama, peradatan, dan pendidikan.

Namun Aceh sendiri mendapatkan statusnya sebagai Daerah Istimewa Aceh terjadi pada 26 Mei 1959 dengan sebutan lengkapnya Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Predikat yang didapatkannya itu pun membuat Aceh memiliki hak-hak otonomi luas. Status itu juga dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965.

Kemudian terkait dengan aturan Aceh sebagai daerah yang memiliki otonomi khusus atau daerah istimewa, pemerintah juga kembali menerbitkan aturan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 dengan keistimewaan Aceh meliputi penyelenggaraan kehidupan beragama, adat, pendidikan, dan peran ulama dalam penetapan kebijakan Daerah.

Sementara itu, berdasarkan sejarahnya, Aceh sendiri diketahui merupakan daerah incaran bangsa barat. Kondisi tersebut mulai terlihat dalam penandatanganan Traktat London dan Traktat Sumatera, yang dilakukan antara Inggris dan Belanda. Pasalnya mereka juga ingin menguasai Sumatra.

Pada saat Belanda menyatakan perang dengan Aceh dalam Perang Sabi hingga berhasil memenangkan peperangan tersebut, membuat Aceh secara administrasi masuk ke dalam Hindia Timur Belanda sebagai provinsi.

Sehingga, sejak 1937-an Aceh pun berubah menjadi keresidenan dan berlaku hingga kekuasaan kolonial di Indonesia berakhir. Selanjutnya saat peperangan dengan Jepang yang terjadi pada 1942-an, peperangan itu pun berakhir dengan menyerahnya Jepang pada Sekutu pada 1945-an. 



Baca: Legenda Gajah Putih dalam Tari Guel Khas Gayo Aceh


Pada masa kemerdekaan, sumbangan Aceh dinilai sangat besar, sehingga Presiden Soekarno pun menjulukinya sebagai Daerah Modal. Pada masa revolusi kemerdekaan juga, Keresidenan Aceh pada awal 1947-an berada di bawah daerah administratif Sumatra Utara. 

Namun dengan adanya agresi militer Belanda yang dilakukan terhadap Indonesia, membuat Keresidenan Aceh, Langkat, dan Tanah Karo ditetapkan menjadi Daerah Militer yang berkedudukan di Kutaradja (sekarang Banda Aceh) dengan Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1948 yang menetapkan Sumatra menjadi 3 provinsi otonom, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan, Aceh sendiri masuk ke bagian Provinsi Sumatra Utara. 

Akan tetapi pada akhir 1949-an, Keresidenan Aceh dikeluarkan dari Provinsi Sumatra Utara, sehingga statusnya pun ditingkatkan menjadi Provinsi Aceh. Berselang satu tahun kemudian atau tepatnya pada 1950-an, Aceh sempat kembali menjadi karesidenan.

Perubahan tersebut saat itu sampai menyebabkan terjadinya gejolak politik yang berakibat dengan terganggunya stabilitas keamanan. Keinginan Aceh untuk kembali menjadi provinsi ditanggapi pemerintah hingga dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956. 

Bahkan, guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, melalui misi Perdana Menteri Hardi yang dikenal dengan Missi Hardi, pada 1959-an dilakukan pembicaraan terkait gejolak politik. 

Dengan keputusan Perdana Menteri Nomor I/MISSI/1959, maka pada 26 Mei 1959-an, Provinsi Aceh berstatus sebagai Daerah Istimewa yang memiliki hak-hak otonomi luas dalam bidang agama, adat, dan pendidikan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menapaki Perjalanan Panjang Andong dan Keberadaannya Kini

Koropak.co.id, 06 December 2022 15:25:21

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Yogyakarta - Andong, dikenal sebagai salah satu alat transportasi tradisional dengan jenis kereta kuda khas Nusantara yang dapat ditemui di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Solo Raya. 

Keberadaan andong di wilayah tersebut, tentunya tidak terlepas dari area kekuasaan Kerajaan Mataram yang kini lebih dikenal sebagai Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat dengan pusat pemerintahan di Kotagede, Yogyakarta.

Diketahui secara historis, awal mula terciptanya andong sendiri tidak jauh dari keberadaan kereta kencana yang pada masa itu banyak digunakan raja-raja Mataram beserta keturunan dan kerabatnya. 

Diceritakan pada zaman dahulu, kereta kencana tersebut hanya dapat dikendarai oleh para priyayi atau bangsawan kelas tertinggi di Jawa. Bahkan hampir setiap priyayi di Jawa memiliki Kereta Kencana tersendiri sebagai tunggangannya.

Dengan kereta kencana itulah, para priyayi biasanya akan mengunjungi masyarakat di pelosok desa. Oleh sebab itulah, masyarakat secara langsung seringkali melihat kereta kencana yang berlalu-lalang ketika para bangsawan melakukan kunjungan. 

Selain itu, dulunya kusir andong juga merupakan simbol status seorang priyayi Jawa yang terhormat dan kaya raya, khususnya di Yogyakarta. Mereka pun dahulu dikenal sebagai priyagung atau orang besar dikarenakan kekayaan yang dimilikinya, namun sekarang hidup sebagai rakyat biasa.

Di sisi lain, andong yang masih menghiasi jalanan di Yogyakarta kini telah berubah fungsi. Selain sebagai alat transportasi turisme dan bakul pasar, disana andong juga menjadi sarana kegiatan kesenian, dan aksesori rumah dan hotel.

Manggala Yudha Keraton Yogyakarta, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat yang menaruh perhatian terhadap perkembangan andong menyatakan bahwa istilah andong sendiri sebenarnya hanya ada di Yogyakarta. Bahkan ia juga menjelaskan bahwa andong pada awalnya bukan kereta kuda. 

"Bentuk andong waktu itu lebih pendek, akan tetapi tetap beroda dua. Sebab, yang jelasnya jalan di kota Yogyakarta saat itu sempit dan penumpangnya pun hanya satu orang. Namun sekarang hampir semua bentuk andong berubah menjadi kereta, meskipun sebutannya tetap andong," kata Yudhaningrat.


Baca: Menguak Sejarah Kedaton Ambarrukmo di Yogyakarta


Berdasarkan sejarahnya, keberadaan andong di Yogyakarta sendiri dimulai dari berdirinya Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Diceritakan kala itu para Raja Mataram Islam menggunakan andong sebagai kendaraan pribadinya.

Kemudian pada awal abad ke-19 hingga abad 20, andong pun menjadi salah satu penanda status sosial priyayi keraton. Penanda status itu dimulai ketika keraton dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Saat itu, rakyat biasa juga tidak boleh menggunakan andong dan hanya bisa menggunakan gerobak sapi atau dokar. 

Selanjutnya pada masa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono VIII, masyarakat umum sudah bisa menggunakan andong. Akan tetapi penggunaan andong oleh masyarakat kala itu masih terbatas. Pasalnya saat itu, andong hanya digunakan oleh raja hingga ke bawahnya di tingkat wedana untuk menuju desa. 

Namun di sisi lain sejak itu, pembuatan andong semakin marak. Setidaknya ada dua perusahaan pembuat andong asal Belanda yang ada di Indonesia, yaitu Barendsch di Semarang dan Yo Hap di Yogyakarta. Setelah munculnya dua perusahaan Belanda, pelan-pelan pembuatan andong dipelajari kaum pribumi. 

Tapi dikarenakan masih sulit, membuat harganya menjadi mahal. Sehingga para pemodalnya pun menjadi priyai-priyai baru. Setelah itu di Yogyakarta, banyak bermunculan pengusaha andong yang pada waktu itu boleh disebut seperti pengusaha taxi. Bahkan beberapa dari mereka lantas menyewakan andong tersebut.

Andong tersebut mereka sewakan sebagai alat transportasi penumpang atau juga untuk mengangkut barang-barang dagangan. Dengan andong, status sosial mereka pun menjadi meningkat. 

Sayangnya dalam perkembangannya, kini andong semakin lama semakin terdesak oleh keberadaan angkutan modern seperti bus kota dan taksi. Akibatnya, usaha para priyayi itu pun tak bisa dipertahankan dikarenakan tak kuat dalam membiayai perawatan yang waktu itu relatif mahal.

Pada 1990-an, jumlah andong yang tercatat di Yogyakarta mencapai sekitar 700 buah. Akan tetapi jumlah itu terus menurun disebabkan banyak yang dijual keluar Yogyakarta. Seperti, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membeli 50 andong. Di sisi lain ada juga yang masih mempertahankan andong miliknya. Bahkan ada yang usianya mencapai ratusan tahun. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Armada yang Tak Lepas dari Kelahiran TNI Angkatan Laut

Koropak.co.id, 05 December 2022 12:21:46

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Setiap tanggal 5 Desember di Indonesia diperingati sebagai Hari Armada Republik Indonesia, dan tahun ini merupakan Peringatan Hari Armada Republik Indonesia yang ke-77 tahun. 

Berdasarkan sejarahnya, Armada Republik Indonesia sendiri diketahui tidak terlepas dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia yang diikuti dengan kelahiran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL). 

Berbicara mengenai sejarah TNI-AL, sejarahnya dimulai pada 22 Agustus 1945 dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

Kemudian setelah itu, BKR pun berkembang menjadi beberapa divisi dan salah satu divisi awalnya adalah BKR Laut yang meliputi wilayah bahari atau laut dan dibentuk pada 10 September 1945 oleh administrasi kabinet awal Presiden Soekarno. 

Pembentukan BKR Laut itu jugalah yang menjadi tonggak penting bagi kehadiran Angkatan Laut di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. 

Adapun yang menjadi pelopor pembentukan BKR Laut, adalah para tokoh bahariawan veteran yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine selama masa penjajahan Belanda dan veteran Kaigun selama masa pendudukan Jepang. 

Selanjutnya potensi yang memungkinkan untuk menjalankan fungsi Angkatan Laut seperti kapal-kapal dan pangkalan, merupakan faktor lain yang mendorong terbentuknya BKR Laut meskipun Angkatan Bersenjata Indonesia kala itu belum terbentuk. 

Lalu, terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.



Baca: Sejarah Peringatan Hari Perhubungan Darat Nasional


Diketahui pada saat itu, sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, dan kapal-kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang juga diperdayakan. Selain itu, untuk personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik Indonesia yang baru terbentuk. 

Sementara itu, untuk struktur organisasi sendiri mulai disusun sesuai dengan kebutuhan matra laut sejak masa TKR Laut. Tercatat sejumlah struktur organisasi yang disusun kala itu, diantaranya polisi tentara laut, kesehatan, pangkalan, korps armada, dan korps marinir. 

Setelah itu pada 25 Januari 1946, TKR Laut pun berubah nama menjadi Tentara Republik Indonesia Laut (TRI Laut). Namun pada 19 Juli 1946, TRI Laut kemudian diubah namanya menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang selanjutnya disahkan bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi ALRI di Lawang, Malang. 

Setelah kuantitas unsur armada semakin besar dan kualitasnya semakin modern dan canggih, sebuah Komando Armada akhirnya dibentuk. Organisasi Komando Armada ALRI tersebut didirikan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Nomor A. 4/2/10 tertanggal 14 September 1959. 

Pembentukan Komando Armada ALRI sendiri diresmikan pada 5 Desember 1959 oleh KSAL Komodor Laut R.E. Martadinata, dan tanggal 5 Desember inilah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Armada. 

Di sisi lain, berdasarkan Keputusan Panglima ABRI Nomor: Kep.171/II/1985 tertanggal 30 Maret 1985, Armada RI secara resmi dibagi menjadi dua kawasan wilayah kerja, yaitu Armada RI Kawasan Timur dan Armada RI Kawasan Barat.

Pembagian wilayah kerja itu juga secara bertahap melaksanakan Dispersi kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang pada awalnya semua berada di Armada Timur, dan sebagian di Dispersi ke Armada Barat. Hal itu dilakukan guna menyikapi perkembangan zaman dan tuntutan tugas semua wilayah kerja.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


3 Desember 1994; PlayStation Pertama Kalinya Diluncurkan di Jepang

Koropak.co.id, 03 December 2022 15:14:53

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Sejak mulai memasuki abad ke-21, dunia game terus mengalami kemajuan terutama dengan hadirnya PlayStation. Kehadiran PlayStation ini juga sekaligus menjadi titik awal konsol permainan grafis era 32-bit tersebut.

Berdasarkan sejarahnya, PlayStation untuk pertama kalinya diluncurkan di Jepang pada 3 Desember 1994. Kemudian setelah itu diluncurkan di Amerika Serikat pada 9 September 1995 dan Eropa pada 29 September 1995. 

Di sisi lain, kehadiran PlayStation juga dinilai mengalahkan Nintendo yang telah berjaya selama bertahun-tahun lamanya di samping pesaing lainnya, seperti Sega dan Atari.

Diketahui, konsol game revolusioner tersebut ditemukan oleh Ken Kutaragi yang pada saat itu menjadi karyawan perusahaan Sony. Pada awalnya, pria yang semasa sekolahnya menjadi salah satu siswa terpandai itu mulai tertarik pada konsol permainan pada 1980-an hingga ia memperoleh ide untuk membuat konsol sendiri.

Namun sayangnya, gagasannya kala itu tidak disetujui oleh petinggi Sony, hingga membuat perusahaan Nintendo yang tidak lain merupakan saingan besar Sony saat itu mendekati Ken untuk membuat sebuah chip konsol permainan.



Baca: 82 Tahun Lalu, Serial Kartun Woody Woodpecker Mulai Ditayangkan


Ken pun menyetujuinya. Akan tetapi pihak Sony mengetahui hal tersebut, sehingga membuat Ken ditegur hingga hampir dipecat dari pekerjaannya. Chip yang berhasil dibuatnya saat itu adalah SPC700.

Tak lama kemudian, CEO Sony saat itu, Norio Ohga meminta Ken untuk menyempurnakan pekerjaannya dan Ken pun menyambutnya dengan melakukan riset terhadap Super NES CD, yaitu aplikasi di dalam PlayStation.

Pada akhirnya di tahun 1994, perusahaan Sony secara resmi meluncurkan produk PlayStation. Tak pelak, produk itu pun langsung mendominasi pasaran dunia game. Bahkan sampai dengan Mei 2004, tercatat Sony telah memproduksi sekitar 100 juta PlayStation. 

Dikarenakan prestasi yang diraihnya tersebut, Ken pun pada akhirnya diangkat untuk memimpin Sony Entertainment pada 1997-an. Sementara itu, tercatat PlayStation sendiri sampai dengan saat ini telah mengalami beberapa kali revolusi. 

Dimulai dari PlayStation 1 berwarna putih, PSone sebagai modifikasi dari PlayStation 1, PlayStation 2 berwarna hitam, PlayStation 3 hitam, PlayStation 4 yang juga berwarna hitam hingga keluaran terbaru PlayStation 5.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Bakti Pekerjaan Umum yang Dilatarbelakangi Pertempuran di Gedung Sate Bandung

Koropak.co.id, 03 December 2022 07:21:50

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jakarta - Peristiwa bersejarah yang terjadi di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat pada 3 Desember 1945 menjadi latar belakang diperingatinya Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU).

Peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum yang diperingati setiap 3 Desember itu berawal dari pertempuran yang terjadi di Gedung Sate Pasca kemerdekaan Indonesia atau tepatnya pada 3 Desember 1945.

Berdasarkan sejarahnya, kala itu Pasukan Belanda masih menyerang Indonesia dan salah satu serangannya terjadi Gedung Sate Bandung. Kendati Gedung Sate Bandung bisa dipertahankan, namun banyak nyawa yang gugur dalam pertempuran melawan Pasukan Belanda pada masa itu. 

Diketahui mereka yang gugur dalam pertempuran di Gedung Sate Bandung tersebut diantaranya Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu dan Soerjono. Sebelumnya, pada 4 Oktober 1945, para pemuda sudah menyiapkan senjata untuk melawan Sekutu yang masuk ke Bandung. 

Pertempuran pun tak terelakkan hingga membuat kacau kantor Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Setelah itu, pertempuran kembali terjadi pada 24 November 1945 dan saat itu Gerakan Pemuda Pekerjaan Umum mempertahankan Gedung Sate dengan diperkuat satu Pasukan Badan Perjoangan yang memiliki persenjataan cukup lengkap.

Namun pada 29 November 1945, pasukan itu ditarik dari Markas Pertahanan Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Kemudian di awal bulan Desember atau tepatnya pada 3 Desember 1945, sekitar pukul 11.00 WIB, Pasukan Tentara Sekutu (NICA) mengepung Gedung Sate dengan persenjataan lengkap dan modern.



Baca: Peringatan 51 Tahun HUT KORPRI 2022, Begini Sejarah Berdirinya


Saat itu, Gedung Sate dijaga dan dipertahankan oleh 21 pemuda yang merupakan petugas dari Gerakan Pemuda Pekerjaan Umum. Mereka pun berjuang sekuat tenaga dalam mempertahankan Gedung V dan W yang merupakan kantor Pusat Departemen Pekerjaan Umum pertama setelah Indonesia merdeka.

Pada pukul 14.08 WIB, pertempuran 3 Desember 1945 di Gedung Sate berakhir. Akan tetapi dalam pertempuran itu, tujuh pegawai PU gugur dan jenazah mereka juga tidak ditemukan sampai dengan sekarang.

Sementara itu, Peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum Tahun 2022 merupakan peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum yang ke-77. Selain itu, ada banyak acara yang digelar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memperingati Hari Bakti Pekerjaan Umum 2022.

Berbagai acara yang digelar itu seperti perlombaan cerdas cermat, desain infografis, hingga karya tulis inovatif. Selain itu juga, turut digelar pertandingan olahraga untuk memperingati Hari Bakti PU ke-77, mulai dari voli, basket, tenis meja, hingga bulu tangkis.

Sedangkan untuk kegiatan sosial yang digelar, diantaranya donor darah, PUPR peduli, hingga webinar. Rangkaian kegiatan tersebut sudah digelar sejak November dan berakhir pada 3 Desember 2022. 

Peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum ini digelar untuk mengenang jasa para pemuda dalam mempertahankan Gedung Sate sekaligus untuk menumbuhkan semangat dalam membangun infrastruktur yang merata.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Baguette, Roti Khas Perancis yang Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO

Koropak.co.id, 02 December 2022 07:11:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Baru-baru ini, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan Roti baguette khas Perancis sebagai warisan budaya dunia. 

UNESCO sendiri menetapkan tradisi pembuatan Roti baguette khas Perancis dengan status sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Diketahui, roti khas Perancis ini memiliki bentuk yang panjang dengan bagian luarnya yang keras namun lembut di bagian dalam. Berdasarkan sejarahnya, roti ini sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Perancis.

Biasanya orang-orang yang keluar dari toko roti atau boulangerie sambil mengapit baguette di lengan mereka sudah menjadi pemandangan umum yang sering dijumpai di Perancis. Federasi Nasional Toko Roti Perancis juga menyebutkan bahwa lebih dari enam miliar baguette diproduksi setiap tahunnya di negeri pusat mode tersebut.

Lantas, bagaimana sejarah dari baguette khas Perancis ini? 

Meskipun terkesan sudah ada sejak lama di Perancis, namun baguette secara resmi baru mendapatkan namanya pada 1920-an. Hal itu diawali dengan pengesahan Undang-Undang (UU) yang mengatur spesifikasi khusus roti tersebut, yaitu memiliki berat minimal 80 gram dan panjang maksimal 40 sentimeter.

Loic Bienassis dari Institut Sejarah dan Budaya Pangan Eropa mengatakan bahwa pada awalnya baguette dianggap sebagai produk mewah yang dimakan oleh kalangan borjuis dan aristokrat. Adapun untuk kelas pekerja pada masa itu biasanya memakan roti khas pedesaan yang lebih awet dan mudah untuk disimpan. Kemudian setelah itu konsumsinya semakin meluas, dan daerah pedesaan pun mulai menggemari baguette pada 1960-an dan 70-an.



Baca: Serabi Kalibeluk, Kudapan Tradisional Berukuran Jumbo Khas Batang


Meskipun begitu, sejarah awal mengenai baguette tersebut masih belum pasti. Karena, ada sebagian sumber juga yang mengatakan bahwa roti panjang seperti itu sudah umum ditemukan pada abad ke-18. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pengenalan oven uap oleh August Zang, tukang roti asal Austria pada 1830-an menjadi cikal-bakal kelahiran baguette modern.

Sementara itu, ada salah satu kisah populer mengenai asal-usul baguette yakni, saat Napoleon memerintahkan pembuatan roti untuk dibuat secara tipis dan memanjang. Hal itu dilakukan dengan alasan agar bisa lebih mudah untuk dibawa oleh para tentara. 

Di sisi lain, ada juga yang mengaitkan baguette dengan pembangunan metro (jalur kereta bawah tanah) di Paris pada akhir abad ke-19. Dimana baguette sendiri diyakini lebih mudah disobek dan dibagikan, sehingga membuatnya lebih praktis dan menghindari pertengkaran yang nantinya bisa terjadi antara pekerja. 

Seiring berjalannya waktu, pada awal 2021 menjadi angin segar bagi komunitas pembuat roti Perancis yang mengajukan permohonan status Warisan Budaya Takbenda (WBTb) untuk baguette kepada UNESCO. Di satu sisi, pemberian status WBTb untuk baguette juga menjadi angin segar di tengah situasi pengrajin roti Perancis yang kini penuh dengan tantangan.

"Ini adalah pengakuan bagi komunitas pembuat roti dan koki patisserie. Baguette adalah roti yang terbuat dari bahan dasar tepung, air, garam, ragi, dan savoir-faire (kecakapan) perajin," ucapnya.

Sementara itu, setidaknya sejak 1970-an, Perancis telah kehilangan sekitar 400 toko pengrajin roti per tahun. Dari 55.000 (satu per 790 penduduk), kini menjadi 35.000 (satu per 2.000). Diketahui, penurunan yang terjadi ini disebabkan oleh penyebaran toko roti industri dan supermarket luar kota di daerah pedesaan. Sedangkan di saat yang bersamaan, penduduk kota lebih memilih roti sourdough, dan juga beralih dari baguette ham ke burger


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peringatan 51 Tahun HUT KORPRI 2022, Begini Sejarah Berdirinya

Koropak.co.id, 29 November 2022 07:17:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 29 November diperingati sebagai Hari Koprs Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Diketahui, KORPRI sendiri merupakan wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia. 

Tercatat, anggota KORPRI terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Miliki Daerah (BUMD), perusahaan dan pemerintah desa. 

Sejarah berdirinya KORPRI berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 82 Tahun 1971 tentang KORPRI dan diperkuat juga dengan Keppres Nomor 24 Tahun 2010 tentang Anggaran Dasar KORPRI. Tahun ini, KORPRI pun berusia ke-51 tahun terhitung sejak berdirinya pada 1971-an. 

Lantas, bagaimana sejarah awal berdirinya Hari KORPRI ini?

Berdasarkan sejarahnya, awal mula diperingatinya Hari KORPRI ini sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, hampir sebagian besar pegawai pemerintahan Hindia Belanda itu merupakan kaum bumi putera yang kedudukannya ditempatkan di kelas bawah. 

Akan tetapi saat peralihan kekuasaan, seluruh mantan pegawai pemerintahan Hindia Belanda pun bekerja di pemerintahan Jepang yang berkedudukan sebagai pegawai pemerintah. Hingga pada akhirnya Pasukan Jepang berhasil dipukul mundur oleh sekutu.

Indonesia pun kemudian memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, seluruh pegawai pemerintah Jepang itu dijadikan sebagai Pegawai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 



Baca: Korpri Berkontribusi, Melayani, dan Mempersatukan Bangsa di Tengah Pandemi


Selanjutnya, setelah pengakuan kedaulatan RI yang terjadi pada 27 Desember 1949-an, seluruh pegawai RI, pegawai RI non Kolaborator, dan pegawai pemerintah Belanda digabungkan menjadi Pegawai RI Serikat. 

Hingga pada akhirnya di tanggal 29 November 1971-an, Presiden Soeharto menetapkan pendirian KORPRI dengan membuat Kepres yang didalamnya memaparkan bahwa KORPRI merupakan satu-satunya wadah atau organisasi untuk menghimpun serta membina semua pegawai RI yang ada di luar kedinasan sesuai dengan Pasal 2 ayat 2.

Namun sayangnya, setelah resmi terbentuk, KORPRI justru dijadikan sebagai salah satu alat kekuasaan dan alat politik untuk melindungi pemerintah pada masa Orde Baru. 

Hal itu sebagai tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1975 yang didalamnya membahas tentang Partai Politik serta Golongan Karya. Setelah era Reformasi, KORPRI menjadi organisasi yang netral dan tidak berpihak terhadap partai politik tertentu.

Tahun ini, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia atau HUT KORPRI Tahun 2022 yang ke-51 tahun, pemerintah secara resmi telah merilis tema dan logo peringatannya. Untuk tema HUT KORPRI 2022 adalah "KORPRI Melayani, Berkontribusi, dan Berinovasi untuk Negeri". 

Tema tersebut memiliki makna sebagai harapan bagi para anggota KORPRI agar tetap bersemangat dalam bekerja dan berkontribusi melayani kepentingan publik serta mewujudkan fungsinya sebagai perekat persatuan bangsa dan sebagai prasyarat pembangunan nasional.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Berawal dari Kerajaan Kanjuruhan, Lahirlah Kabupaten Malang

Koropak.co.id, 28 November 2022 15:09:59

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Timur - Era kerajaan Hindu-Buddha secara teori mulai terdengar sejak awal Masehi hingga abad ke-16. Temuan sejumlah prasasti yang ada di Jawa Timur, seolah menjadi bagian dari catatan sejarah perkembangan peradaban yang ada di bumi Nusantara. 

Diketahui, prasasti tersebut juga menunjukkan eksistensi dari kerajaan besar di Jawa Timur. Salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha itu adalah Kerajaan Kanjuruhan. 

Kerajaan Kanjuruhan sendiri diyakini menjadi Kerajaan Hindu-Buddha tertua di Jawa Timur. Bahkan, kerajaan ini diperkirakan muncul sekitar akhir abad ke-7 hingga pertengahan abad ke-8.

Berdasarkan catatan sejarahnya, umur dari Kerajaan Kanjuruhan yang berada di Malang, Jawa Timur itu bahkan sama dengan Kerajaan Tarumanegara yang ada di Jawa Barat. Bukti dari keberadaan Kerajaan Kanjuruhan bisa ditemukan pada prasasti Dinoyo pada 682 Saka atau 760 Masehi. 

Prasasti Dinoyo merupakan bagian dari peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang diidentifikasi berdiri pada abad 6 dan 7 Masehi. Disebutkan dalam prasasti itu, bahwa raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang paling terkenal adalah Gajayana. 

Sayangnya, kerajaan ini tidak lama berkembang setelah berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Saat ini, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan sendiri yang bisa dijumpai adalah Candi Badut dan Candi Karangbesuki yang berada di Malang.

Disebutkan juga bahwa raja-raja yang memimpin kerajaan Kanjuruhan pada masanya yaitu Raja Dewasimha, Sang Liswa yang pada akhirnya mendapat gelar Gajayana. Di masa kepemimpinan Gajayana inilah, Kerajaan Kanjuruhan mengalami masa kejayaannya. 

Bahkan, kekuasaan kerajaan itu meliputi lereng timur dan barat Gunung Kawi, hingga ke sisi barat kekuasaannya yang mencapai area Pegunungan Tengger Semeru. Setelah Raja Gajayana meninggal, Kerajaan Kanjuruhan selanjutnya dipimpin oleh Pangeran Jananiya yang tidak lain merupakan menantu dari Gajayana.

Secara turun-temurun Kerajaan Kanjuruhan itu diperintah oleh raja-raja dari keturunan Raja Dewa Singha yang semua rajanya terkenal akan kebijaksanaan, keadilan, serta kemurahan hatinya. Oleh karena itulah raja-raja tersebut sangat dicintai Rakyat Kanjuruhan.

Sementara itu, para ahli menduga bahwa Kerajaan Kanjuruhan erat hubungannya dengan Kerajaan Kalingga (Holing) yang berada di Jawa Tengah. Bahkan menurut berita dari Tiongkok sekitar 742 s.d 755 masehi, Raja Kiyen yang saat itu berkuasa memindahkan ibu kota Holing ke Jawa Timur. 


Kemunculan Kerajaan Kanjuruhan juga diketahui dari Prasasti Dinoyo bertuliskan huruf Kawi dengan bahasa Sanskerta yang berangka tahun 760 masehi. Di dalam Prasasti Dinoyo itu diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruhan awalnya diperintah oleh Raja Dewashimha. 

Akan tetapi setelah meninggal dunia, ia pun kemudian digantikan oleh putranya bernama Limwa atau yang dikenal sebagai Gajayana. Gajayana sendiri memiliki seorang putri bernama Uttajana yang menikah dengan Jananiya.



Baca: Sejarah Kawasan Pecinan Dari Magelang hingga Malang


Dari Prasasti Dinoyo itu jugalah diketahui bahwa Raja Gajayana yang beragama Siwa memerintah kerajaannya dengan adil, sehingga membuat ia dicintai oleh rakyatnya. Di bawah kekuasaannya jugalah, Kerajaan Kanjuruhan mencapai puncak keemasannya. 

Kerajaan Kanjuruhan mengalami perkembangan yang pesat dalam berbagai bidang mulai dari bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, hingga seni budaya. Kemudian untuk wilayah kekuasaannya juga meliputi daerah Malang, lereng timur dan barat Gunung Kawi, serta ke utara hingga pesisir laut Jawa. 

Selama masa pemerintahan Gajayana jugalah, peperangan, pencurian, dan perampokan jarang terjadi dikarenakan sang raja selalu bertindak tegas sesuai hukum. Pada masa pemerintahannya, Raja Gajayana juga membuat sebuah tempat suci pemujaan yang sangat bagus untuk memuliakan Resi Agastya. 

Selain itu, ia juga turut membangun arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok. Bersamaan dengan pentasbihan bangunan suci itu, Raja Gajayana menganugerahkan sebidang tanah, sapi, kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan sebagai penjaga kepada para pendeta. 

Setelah Gajayana mangkat, kekuasaan pun jatuh ke tangan putrinya, Uttajana yang menikah dengan Pangeran Jananiya dari Paradeh. Meskipun begitu, semua raja Kerajaan Kanjuruhan terkenal akan kebijaksanaan dan kemurahan hatinya. 

Namun sayangnya keberadaan Kerajaan Kanjuruhan tidak bertahan lama. Pada awal abad ke-10, ketika Rakai Watukura dari Mataram Kuno berkuasa, Kerajaan Kanjuruhan jatuh dan berada dalam kekuasaannya. 

Setelah itu, para penguasa Kerajaan Kanjuruhan pun menjadi raja bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan atau bangsawan penguasa tempat tertentu.

Pada masa itu, wilayah kekuasaan dari Kanuruhan tersebar cukup luas meliputi daerah Landungsari di barat hingga Pakis di timur serta dari Polowijen di utara hingga Turen di selatan. 

Wilayah dari Kanjuruhan dan Kanuruhan ini jugalah yang kemudian menjadi kewukuan Tumapel, Kerajaan Singhasari hingga menjadi wilayah Malang raya saat ini. 

Para ahli sejarah pun pada akhirnya memandang, munculnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini telah berkembang menjadi Kota Malang. Kemudian tahun penemuan prasati pada abad ke-7 juga dipakai sebagai Hari jadi Kabupaten Malang. 

Adapun untuk nama Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan banyak digunakan sebagai simbol-simbol kemegahan bangunan di Kabupaten dan Kota Malang. Seperti di Kabupaten Malang, terdapat sebuah stadion yang diberi nama Stadion Kanjuruhan. Sedangkan di Kota Malang terdapat Stadion Gajayana.

 

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Alasan Orang Indonesia Suka Serba Gorengan

Koropak.co.id, 27 November 2022 12:10:40

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hampir kebanyakan orang Indonesia saat ini menyukai gorengan atau makanan berminyak. Bahkan bisa dikatakan, gorengan tersebut tidak pernah absen menjadi camilan baik itu teman secangkir kopi atau segelas teh manis hangat.

Selain itu, jika kalian berkeliling rumah makan di berbagai penjuru Nusantara, pastinya menu makanan yang digoreng selalu saja menjadi menu utamanya. Mulai dari ayam goreng, ikan goreng, Cumi goreng, udang goreng, bakso goreng, tempe dan tahu goreng, hingga selevel sayur kol pun digoreng.

Tapi tahukah kalian bahwa sebenarnya cara memasak makanan dengan cara menggoreng itu ternyata bukanlah karakter asli masakan orang Nusantara?

Berdasarkan sejarahnya, geliat makanan yang digoreng tersebut ternyata baru muncul di bumi Nusantara sejak 200 tahun terakhir. Lantas, seperti apa perjalanannya? 

Dilansir dari laman Historia, teknik memasak makanan dengan cara menggoreng itu sebenarnya berasal dari kebudayaan Tionghoa. Bahkan untuk kuali dan alat penggorengannya pun dibawa oleh orang-orang Tionghoa ke Nusantara.

Thomas Holmann dalam bukunya "The Land of the Five Flavors: a Cultural History of Chinese Cuisine" menyebutkan bahwa menggoreng merupakan salah satu teknik memasak yang sudah lama dikenal oleh orang Tionghoa, termasuk didalamnya teknik Stir-Fry atau Jian Chao dan Deep Fry atau Zha.

Hal itu pun turut diaminkan juga oleh pakar kuliner Nusantara, William Wongso dan Kevin Soemantri yang saat itu diinterview oleh Jurnalis Vice. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi pembeda saat awal-awal teknik tersebut masuk ke Nusantara hanyalah jenis minyak yang dipakainya.

Jika orang Tiongkok menggunakan minyak babi saat menggoreng makanan, lain halnya dengan orang Indonesia yang menggunakan minyak kelapa yang saat itu juga masih banyak diproduksi oleh industri rumahan.

Teknik menggoreng Jian Chao sendiri dikenal dengan teknik menumis makanan di atas sedikit minyak dengan api yang bersuhu tinggi. Sedangkan Zha merupakan teknik mencelupkan makanan ke dalam genangan minyak goreng, sama halnya saat menggoreng kudapan.



Baca: Menguak Asal Mula Sate Madura dan Kisah Arya Panoleh


Sebelum teknik menggoreng tersebut diadopsi oleh orang-orang Nusantara, awalnya mereka memasak makanan dengan cara mengeringkan, memanggang, merebus, mengasinkan, dan mengukus atau diasap. Hal ini pun tercatat di dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno maupun Bali kuno. 

Seperti dalam prasasti Rukam yang ditemukan di Temanggung dari abad ke-10 yang menyebutkan bahwa hidangan makanan, daging, dan ikan pada saat itu dimasak dengan cara dipanggang dan diasinkan. Lalu, apa yang menjadi alasan orang Indonesia menyukai mengoreng makanan hingga menyantap gorengan?

Diketahui, alasan pertamanya dikarenakan melimpahnya bahan baku berupa minyak kelapa sawit. Jauh sebelum Industri kelapa sawit menjamur seperti saat ini, orang-orang Nusantara pada masa itu masih memproduksi minyak kelapa secara tradisional.

Dikatakan bahwa makanan bergoreng sudah beredar di masyarakat Indonesia sejak abad ke-19. Hal itu sebagaimana dicatatkan dalam Serat Centhini (1814) yang menyebutkan bahwa pada saat itu hidangan makanan untuk sajian upacara pernikahan di Keraton Surakarta cukup beragam mulai dari makanan yang dibakar, dikukus, diasap hingga digoreng.

Selanjutnya, Peneliti LIPI, Rucianawati mengatakan bahwa budidaya minyak kelapa sendiri telah berkembang sejak awal abad ke-20. Jika pada masa itu orang-orang Nusantara masih memproduksi secara tradisional, maka pengusaha Eropa dan Tionghoa sudah menghasilkan minyak kelapa dengan mesin modern.

Hal ini turut diperkuat dalam catatan Justus van Maurik, seorang pengusaha Kolonial yang melawat ke Jawa pada abad ke-19. Saat itu, ia menyaksikan sudah banyaknya pedagang berseliweran dan warung kecil di pinggir jalan yang menghidangkan berbagai sajian makanan, termasuk ikan goreng dan ikan asap.

Sementara untuk alasan kedua, dikarenakan memang rata-rata makanan berminyak itu enak dan gurih. Penulis dan editor Boga dalam laman vice, Kevin Soemantri juga mengatakan bahwa makanan yang bisa dibilang enak adalah makanan yang memainkan sebanyak mungkin pancaindra. 

Dengan memakai indikator ini, gorengan pun menjadi makanan yang menang banyak dikarenakan dia minimal berhasil memainkan tiga indra lewat suara atau bunyi "kriuk", rasanya yang guring, dan teksturnya yang garing.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Akulturasi Budaya Indonesia-Cina, Lahirlah Wedang Ronde

Koropak.co.id, 26 November 2022 12:11:09

Eris Kuswara


Koropak.co.id - Kudapan hangat yang bisa menaikkan suhu tubuh tentunya sangat cocok sekali untuk menenami suasana di musim hujan yang terjadi beberapa hari ini. 

Tentunya, ada banyak sekali pilihan makanan atau minuman yang bisa dikonsumsi saat musim hujan, dengan citarasanya yang nikmat. Salah satunya adalah "Wedang Ronde".

Dengan ciri khas rasanya yang manis, kenyal, dan hangat, membuat kudapan yang satu ini sangat cocok sekali untuk disantap saat udara dingin seperti sekarang.

Selain itu, rasa manis yang berasal gula merah dan tekstur kenyal dari bola-bola ketan pada kudapan ini sangat cocok dan pas di lidah. Belum lagi sensasi hangat dari kuah jahenya yang semakin menambah cita rasa di udara yang dingin saat musim hujan.

Lantas, bagaimana sejarah atau asal usul dari wedang ronde ini?

Berdasarkan sejarahnya, wedang ronde pertama kalinya populer di daerah Jawa Tengah seperti di Solo, Salatiga dan Yogyakarta. Sehingga saat Anda berkunjung daerah-daerah tersebut, Anda akan dapat dengan mudah menemukan penjual Wedang Ronde.

Kata wedang berasal dalam bahasa Jawa, yang berarti minuman hangat. Sedangkan Ronde sendiri menyadur dari bahasa belanda yaitu Rond atau Rondje (jamak) yang berarti bulat.



Baca: Wedang Uwuh Memang Ampuh, dari Yogyakarta ke Banyak Negara


Kendati pertama kalinya populer di Jawa, akan tetapi sebenarnya wedang ronde merupakan salah satu hasil pencampuran budaya Indonesia dan Tiongkok. Sementara itu, di Tiongkok sendiri nama kudapan yang satu ini disebut dengan Tangyuan.

Diceritakan bahwa konon pada zaman dahulu kala, ketika Indonesia masih disebut sebagai Nusantara, para pedagang memperkenalkan minuman hangat ini. Kemudian setelah itu, masyarakat Nusantara pun mulai berinovasi dengan membuat minuman dengan berbahan dasar jahe yang masih banyak ditemukan di daerah Jawa. 

Oleh karena itulah, kuah Wedang Ronde pun sangat khas dengan perpaduan gula jawa dan jahenya. Sedangkan di Tiongkok sendiri ternyata terdapat sejarah mengenai asal usul Tangyuan. 

Dilansir dari laman Wikipedia, diceritakan pada masa Dinasti Han, hiduplah seorang dayang kerajaan bernama Yuanxiao. Saat itu, Yuanxiao sangat ingin bertemu dengan kedua orangtuanya namun dilarang oleh pihak kerajaan.

Hingga pada akhirnya seorang menteri yang mengetahui hal itu dan ingin menolong Yuanxiao dengan cara menyuruhnya membuat Tangyuan sebanyak mungkin. Pada akhirnya, dayang itu pun berhasil membuat Tangyuan sebagai persembahan para dewa yang biasa dirayakan saat festival lampion atau Dongzhi Festival. 

Sehingga, sejak saat itulah Tangyuan semakin dikenal dan menjadi cemilan populer masyarakat Tiongkok. Sementara untuk wedang ronde, biasanya dibuat dari bahan dasar ketan putih, tepung tapioka, dan garam untuk adonan bulatnya yang kenyal. 

Sedangkan untuk isian adonan bulat yang kenyal pada wedang ronde itu hanya berupa kacang tanah, gula Jawa dan sedikit gula pasir. Kemudian untuk kuahnya, terdapat jahe, gula Jawa dan daun pandan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


82 Tahun Lalu, Serial Kartun Woody Woodpecker Mulai Ditayangkan

Koropak.co.id, 25 November 2022 15:18:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini, tepatnya 25 November 1940 silam, serial animasi berjudul Woody Woodpecker resmi ditayangkan untuk pertama kalinya. Diketahui, orang yang bertanggung jawab atas ketenaran Woody Woodpecker sendiri adalah Walter Lantz dan George Pal yang keduanya merupakan teman baik.

Menariknya, setelah tayang pertama kali pada 25 November 1940, serial animasi ini sempat berada di nomor 46 dalam daftar TV Guide dari 50 Karakter Kartun Terbesar Sepanjang Masa pada 2002 dan 2003. 

Tak hanya itu saja, setahun berikutnya atau tepatnya pada 2004, Woody Woodpecker juga berada di urutan ke-25 dalam daftar The 50 Greatest Movie Animals versi Animal Planet.

Dengan ketenaran yang dimilikinya itu jugalah membuat karakter ini telah direferensikan dan dipalsukan di banyak program televisi dunia. Mulai dari The Simpsons, American Dad!, South Park, The Fairly OddParents, Family Guy, Seinfeld, Robot Chicken, Three's Company, hingga Flash Toons. 

Di sisi lain, Woody Woodpecker juga merupakan maskot resmi dari Universal Studios. Tercatat, pada 1998 dan 1999-an, Woody juga bahkan muncul di Tim Formula Satu Williams. Kemudian di tahun 2000, ia resmi menjadi maskot Tim Balap Motor Honda. 

Sementara dari 1982 s.d 1996, balon Woody Woodpecker sudah menjadi bahan pokok Parade Hari Thanksgiving Macy. Di Brasil, Woody menjadi karakter kartun ikonik dan sangat populer. Woody juga pertama kalinya muncul dalam film pendek, Knock Knock bersama Andy Panda dan ayahnya. 

Debut Woody Woodpacker juga merupakan awal dari karier besarnya. Sejak saat itu jugalah, Walter Lantz terus membuat Woody hingga muncul di film dan film pendek baru untuk Universal. Sementara itu, Shamus Culhane mengubah Woody secara signifikan serta memberi Woody desain ulang ikoniknya. 



Baca: Kartun dari Masa ke Masa, Sejak Kapan Mulai Dibuat?


Bahkan Shamus juga memberi Woody ciri-ciri yang lebih jelas hingga membantu dengan kuat dalam membangun sifat Woody sebagai penggemar makanan besar. Hal tersebut berubah ketika veteran Disney, Dick Lundy mengambil kursi direktur. 

Kemudian di era 50-an, atas perintah Universal, Woody pun akhirnya "dilunakkan" menjadi karakter yang lebih heroik. Meskipun begitu, apapun yang terjadi Woody Woodpecker sendiri merupakan ikon kartun sepanjang zaman, dan tidak ada yang bisa melupakan gaya khas saat sang burung pelatuk itu tertawa.

Nama Woody Woodpecker juga sampai diabadikan dalam Hollywood Walk of Fame. Selain beragam penghargaan yang didapatkannya, kartun ini juga memiliki hal-hal menarik yang berbeda dari karakter kartun lainnya. 

Ya, Woody pernah menjadi bintang dari sejumlah seri buku komik yang diterbitkan di seluruh dunia. Seperti pada 1942-an, Woody Woodpecker pertama kalinya muncul bersama Andy Panda dan Oswald the Rabbit dalam New Funnies. 

Pada akhirnya, Woody pun behrasil menjadi bintang New Funnies yang mengarah ke komik solo Woody Woodpecker, yaitu Walter Lantz Woody Woodpecker. 

Selain komik, Woody juga tampil dalam beberapa video game, diantaranya Woody Woodpecker Racing (2000), Woody Woodpecker in Crazy Castle 5 (2002), dan Woody Woodpecker In Waterfools (2010).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Hari Guru Nasional dan Momen Terbentuk Organisasi PGRI

Koropak.co.id, 25 November 2022 07:14:32

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Berdasarkan sejarahnya, Hari Guru Nasional sendiri mulai ditetapkan pada 1994-an. 

Di sisi lain, sejarah Hari Guru Nasional ini juga ternyata tidak terlepas dari momen terbentuknya organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). 

Namun jika ditelisik lebih jauh lagi, sejarah perjuangan guru sendiri sudah dimulai sejak masa Hindia Belanda dengan munculnya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912-an.

Selain itu, Peringatan Hari Guru Nasional ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Kepres RI) Nomor 78 Tahun 1994, dan dalam aturan tersebut diputuskan bahwa tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Dilansir dari laman pgri.or.id, organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) berdiri pada 1912-an. Pada masa itu, organisasi tersebut bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah.

Dengan memiliki latar pendidikan yang berbeda-beda, pada umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Dalam perjalanannya, tentu tidak mudah bagi PGHB untuk memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial, dan latar belakang pendidikan yang berbeda.

Namun sejalan dengan keadaan itu, berkembang juga organisasi guru baru lainnya di samping organisasi guru yang bercorak keagamaan dan kebangsaan. Organisasi guru baru itu diantaranya, Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), dan Hogere Kweekschool Bond (HKSB).

Kemudian ada juga organisasi lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang didalamnya beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh itu jugalah yang pada akhirnya mendorong para guru pribumi untuk memperjuangkan persamaan hak dan posisinya dengan pihak Belanda.

Hasilnya, Kepala HIS yang dulunya selalu dijabat oleh orang Belanda, akhirnya satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Di sisi lain, semangat perjuangan mereka juga semakin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan.

Bahkan saat itu perjuangan guru juga tidak lagi sebagai perjuangan perbaikan nasib dan kesamaan hak dan posisinya dengan Belanda, akan tetapi juga telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriakan "Merdeka".



Baca: Hari Guru Nasional 2020, Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar


Selanjutnya pada 1932-an, nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) resmi diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini pun mengejutkan pemerintah Belanda, dikarenakan kata "Indonesia" yang mencerminkan semangat kebangsaan yang sangat tidak disenangi oleh Belanda.

Sebaliknya, kata "Indonesia" ini justru sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Memasuki masa pendudukan Jepang, segala organisasi pun dilarang dan sekolah ditutup. Akibatnya Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitasnya.

Pada 24 s.d 25 November 1945, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai kaum guru untuk terlaksananya penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia di Surakarta. 

Melalui kongres ini jugalah, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat untuk dihapuskan. 

Di dalam kongres ini jugalah, pada 25 November 1945 atau tepatnya 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) secara resmi didirikan.

Dengan semangat memekik "Merdeka" yang bertalu-talu, dan di tengah bau mesin pemboman tentara Inggris atas studio Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, mereka pun secara serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan.

Ketiga tujuan itu diantaranya mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan, dan membela hak dan nasib khususnya guru dan umumnya para buruh.

Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan bahwa dirinya bersatu di dalam satu wadah yakni PGRI. Jiwa pengabdian, tekad perjuangan, dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis juga terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI.

Sedangkan dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, PGRI juga tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang bersifat unitaristik, dan independen.

Oleh karena itulah, sebagai penghormatan kepada guru, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahirnya PGRI pada 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: