Mengintip Simbol Pembentukan Alam Semesta dari Karinding

Koropak.co.id, 12 January 2022 14:57:43
Penulis : Eris Kuswara
Mengintip Simbol Pembentukan Alam Semesta dari Karinding

 

Koropak.co.id - Alat musik tradisional Indonesia tentunya sangatlah beragam dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing. Salah satu alat musik tradisional yang ada di Nusantara dan menarik untuk dibahas adalah Karinding.

Diketahui, di beberapa wilayah di Indonesia, alat musik ini dimainkan dengan sebutan yang berbeda-beda. Namun Karinding sendiri lebih dikenal sebagai alat musik khas dari Sunda Jawa Barat.

Dengan bentuknya yang kecil dan juga sederhana, membuat alat musik yang satu ini pun masuk ke dalam jenis idiofon atau lamelafon.

Berdasarkan sejarahnya, Karinding ternyata sudah hadir sejak enam abad yang lalu dan alat musik tradisional ini juga memiliki usia yang lebih tua dari alat musik kecapi.

Dilansir dari berbagai sumber, pada zaman dahulu, Karinding sendiri sering digunakan sebagai perlengkapan upacara adat atau ritual. Meskipun begitu, di masa sekarang pun masih ada yang menggunakan alat musik tersebut untuk mengiringi pembacaan rajah.

Karinding terbagi ke dalam tiga ruas, yang pada bagian ruas pertamanya berada di ujung yang digunakan untuk mengetuk agar memperoleh resonansi pada bagian tengah.

Kemudian ada bagian ruas tengah yang memiliki guratan dan akan bergetar saat diketuk oleh jari. Terakhir, ada ruas ketiga pada bagian kirinya yang dijadikan sebagai pegangan.

Untuk dapat memperoleh suara yang indah, maka Karinding pun harus ditiup dan dikombinasikan dengan diketuk atau ditepuk pada bagian tengahnya. Selain itu, diketahui juga bahwa suara yang dihasilkan dari alat musik ini pun tergantung dari olahan rongga mulut, lidah dan napas.

Karinding juga mengenal gender dan karinding yang digunakan perempuan itu terbuat dari bambu dengan bentuk seperti susuk sanggul yang dapat disimpan dengan cara disisipkan pada sanggul.

 

 


Baca : Kujang Pusaka dan Lambang Keagungan

Kemudian untuk karinding laki-laki terbuat dari pelepah kawung yang berukuran lebih pendek. Alat musik tersebut juga dapat disimpan di tempat tembakau atau rokok.

Pada umumnya, Karinding mempunyai panjang 10 centimeter dan lebar 2 centimeter. Namun hal itu juga tergantung dengan fungsi pemakaiannya, sebab ukuran yang berbeda dapat mempengaruhi bunyi yang nantinya akan dihasilkan.

Sementara itu, perbedaan cara mengetuknya juga bisa menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Bahkan dari sebuah alat musik yang sederhana ini, bisa memperoleh bunyi yang berbeda seperti bass, gong, saron bonang, kendang dan melodi.

Konon, Karinding juga berfungsi sebagai pemikat hati pasangan. Sebab di masa itu, Karinding telah diperkenalkan sejak anak-anak sebagai alat permainan dan saat sudah beranjak remaja, antara laki-laki dan perempuan saling sahut-menyahut dengan nada yang khusus.

Kemudian setelah menikah, alat musik tersebut juga dapat digunakan guna membantu petani dalam mengusir hama. Menurut filosofinya, Karinding sering dianggap simbol tentang alam semesta, lingkungan, dan juga spiritual.

Cara membunyikan Karinding dengan cara ditabuh dan diketuk juga menyimbolkan teori pembentukan alam semesta. Kemudian getaran alat musiknya juga menggambarkan sebuah tanda kehidupan, termasuk dengungan suara yang dihasilkan alat musik tersebut.

Dalam bentuknya yang sederhana, Karinding dianggap sebagai arahan untuk tetap yakin, sabar dan sadar. Saat memukul atau mengetuk alat musik itu harus yakin dan sabar, sehingga nantinya dapat menimbulkan bunyi atau suara serta menyadari bahwa suara yang keluar itu merupakan suara alat musik dan bukan suara kita.

Di dalam Karinding juga terdapat pula norma-norma ketuhanan, kemanusiaan, kemasyarakatan, hukum waktu, hukum menetapkan kenegaraan serta menentukan demografi kependudukan.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Sinamot, Uang Mahar yang Terkenal Sangat Mahal

Koropak.co.id, 26 September 2022 12:09:33

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Sumatra Utara - Tradisi pernikahan di Indonesia tidak akan dapat dipisahkan dari yang namanya mahar atau seserahan. Bukan cuma dijadikan sebagai syarat sah dalam prosesi nikah, mahar juga bisa diartikan sebagai lambang kesungguhan mempelai pria mempersunting pengantin wanita. 

Tradisi di masyarakat Batak satu di antaranya. Mahar menjadi bagian penting dari prosesi perkawinan. Sinamot nama tradisi ini. 

Tradisi Sinamot tidaklah murah. Ini jadi perlambang keseriusan seorang pria. Bagi orang Batak, Sinamot sudah menjadi tradisi dari orang batak sejak zaman nenek moyang.

Seperti diketahui, bagi Suku Batak, wanita merupakan makhluk yang sangat dimuliakan. Mereka tak hanya dihormati dan disayangi, akan tetapi juga diperjuangkan. Sehingga, bagi pria yang ingin meminangnya, membutuhkan lebih dari usaha agar bisa menjadikan seorang wanita Batak sebagai istrinya.

Sinamot juga merupakan harga atau uang yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada pihak mempelai wanita ketika mereka akan melaksanakan pernikahan. Dalam adat Batak, sinamot sendiri wajib diberikan kepada pihak mempelai wanita sebagai tanda membeli atau mengambil anak wanita untuk dijadikan sebagai pendamping hidup mempelai pria tersebut.

Tak hanya sebagai syarat sah nikah, sinamot juga merupakan ambang perjuangan. Karena di Batak sendiri, takkan ada seorang ayah atau orang tua yang rela anaknya diboyong tanpa realisasi berupa sinamot oleh seorang pria.

Sehingga sinamot juga seolah menjadi bukti nyata yang paling kelihatan, terutama kepada keluarga besar, tentang kesungguhan pria. Makanya, begitu Sinamot rampung diberikan, keluarga pun akan merasa lega dan puas. Hal itu juga menjadi indikasi jika sang wanita mendapatkan pria yang baik dan mau berjuang untuknya.

Sementara itu, untuk jumlah sinamot juga ada tingkatannya. Jika sang anak perempuan yang akan dinikahi itu tamat sekolah atau sarjana, maka harganya pun akan berbeda. Contohnya, jika mempelai wanitanya merupakan seorang sarjana, maka harganya mulai dari sekitar Rp25 juta ke atas.



Baca: Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan


Akan tetapi, jika sang mempelai wanitanya hanya tamat sekolah, biasanya harganya Rp10 juta ke bawah. Intinya, semakin tinggi pendidikan wanita yang akan dinikahi, maka harganya pun akan semakin tinggi. Sehingga, harga mempelai wanita itu tergantung pada pendidikannya.

Tak hanya pendidikan, ada faktor lainnya yang menjadi perhitungan besaran uang sinamot diantaranya, pekerjaan mempelai wanita saat ini, jarak tempat tinggal antara wanita dan pria serta status dalam silsilah keluarga.

Kemudian juga faktor status sosial keluarga, reputasi atau citra mempelai wanita di masyarakat, dan status rupa (semakin cantik calonnya, semakin mahal pula sinamotnya). Selain itu, tidak ada rumus pasti juga terkait penghitungan uang sinamot.

Namun untuk jumlah dan proses pemberian sinamot juga ditentukan berdasarkan pertimbangan oleh kedua keluarga calon pengantin. Biasanya akan dilakukan secara bertahap melalui acara adat marhata sinamot. Sinamot itu juga bukan ditujukan kepada mempelai wanita, melainkan diberikan kepada orangtua wanita melalui proses negosiasi kedua keluarga.

Tak hanya itu saja, uang sinamot juga bukan untuk membeli sepeda motor, smartphone, atau berfoya-foya. Akan tetapi sinamot berfungsi untuk membiayai keperluan adat pesta. Di sisi lain, harga sinamot sendiri bisa saja turun dan  tergantung kepada pihak wanita. 

Saat pihak pria datang ke rumah pihak wanita, maka keluarga dari pihak pria harus ikut serta ke rumah pihak wanita. Setelah sinamot sudah diserahkan kepada pihak wanita, maka wanita yang akan dinikahi bisa dibawa ke rumah pria yang akan mempersunting wanita tersebut.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Enam Tradisi Unik Mencari Jodoh di Indonesia

Koropak.co.id, 25 September 2022 12:36:10

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Di zaman yang serba modern ini, ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh. Bisa dari situs internet, aplikasi smartphone, dan masih banyak lagi cara yang lainnya.

Namun, bagi masyarakat tradisional di Indonesia, mereka justru memiliki cara tersendiri untuk bisa mendapatkan jodohnya. Pasalnya, dalam kehidupan masyarakat tradisional, ternyata urusan jodoh diatur dan dilakukan dalam sebuah ritual atau upacara yang sudah menjadi tradisi turun temurun. 

Ada banyak sekali tradisi unik yang dilakukan masyarakat tradisional di Indonesia untuk mencari jodoh. Apa saja tradisi unik dalam mencari jodoh yang ada di Indonesia itu?

1. Omed-Omedan (Bali) 

Bisa dikatakan bahwa Omed-omedan merupakan tradisi mencari jodoh yang cukup ekstrem di Indonesia. Dalam bahasa Bali, Omed-omedan berarti saling tarik menarik. Peserta yang mengikuti tradisi ini adalah laki-laki dan perempuan dengan rentan usia antara 17 s.d 30 tahun dan wajib mengenakan pakaian berwarna putih. 

Kemudian untuk syarat lainnya, para peserta belum menikah atau tidak sedang menstruasi. Sementara itu, untuk teknisnya, peserta akan dibagi menjadi dua kelompok, setelah itu dilanjutkan dengan aksi dorong mendorong oleh perwakilan salah satu kubu. Dalam prosesinya, peserta juga diperbolehkan untuk berpelukan bahkan berciuman dengan lawan jenis dan hal itu pun dilakukan secara bergiliran bagi semua peserta. 

Biasanya, jika ada peserta yang saling tidak suka, mereka akan mencoba untuk menghindar meski berisiko terdorong. Setelah acara selesai, pasangan yang telah berpelukan atau berciuman bisa langsung berjodoh. Akan tetapi jika belum berjodoh, mereka bisa mengikutinya lagi tahun depan.

2. Berempuk (Sumbawa)

Di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), kaum pria harus bertarung terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan jodoh. Sebelum bertarung, biasanya pria Sumbawa akan berkumpul, kemudian setelah itu setiap dua orang akan melakukan pertarungan yang berlangsung dalam tiga ronde.

Namun mereka akan bertarung dengan tangan kosong agar banyak yang menonton, terutama wanita lajang. Pertarungan dengan tangan kosong itu juga dilakukan dengan tujuan untuk menarik perhatian wanita lajang. 

Sayangnya, terkadang ada perkelahian lanjutan kendati acara sudah selesai. Meskipun tradisi ini terbilang cukup ekstrem, namun tradisi berembuk masih hidup sampai dengan saat ini. 

3. Tarian Emaida Yibu (Papua)

Papua juga mempunyai tradisi unik dalam mencari jodoh yang dilakukan melalui tarian Emaida Yibu atau tarian dalam rumah adat. Tarian ini biasanya dilakukan Suku Mee yang akan membangun rumah dari kayu dan bambu.

Nantinya, para pria dan wanita akan menari-nari di dalam rumah tersebut. Menariknya, dalam tarian ini juga mereka akan saling menarik perhatian lawan jenis hingga pada akhirnya mereka bisa menemukan tambatan hatinya.



Baca: Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan


4. Gredoan (Banyuwangi) 

Tradisi Gredoan menjadi ajang pencarian jodoh bagi suku Osing. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini sendiri terbuka dan berlaku bagi siapa saja, baik itu perjaka, gadis, duda, maupun janda sekalipun. Kata Gredoan sendiri berasal dari bahasa Osing, yaitu Nggridu yang berarti goda atau menggoda. 

Gredoan juga bisa diartikan sebagai cara yang lebih baik bagi gadis, perjaka, duda, atau janda untuk saling mengenal. Selain itu, para pelaku tradisi Gredoan dari Suku Osing ini juga percaya bahwa berkenalan melalui gredoan akan berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. 

Saat ini, tradisi gredoan hanya dilakukan setahun sekali, yakni pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang biasa disebut oleh masyarakat Suku Osing dengan sebutan Mauludan. 

5. Kabuenga (Wakatobi) 

Kabuenga merupakan tradisi mencari jodoh khas Wakatobi yangh terbilang unik. Sebab, tradisi ini akan mempertemukan laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dalam kegiatan jual beli. Diketahui dalam sejarahnya, tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Buton. 

Tradisi ini berawal dari banyaknya pemuda yang memilih untuk merantau dan jarang bertemu dengan gadis setempat. Oleh karena itulah, sebagai solusinya digunakanlah Kabuenga untuk mempertemukan mereka. Dalam pelaksanaannya, para wanita akan menjual liwo, sejenis makanan khas Wakatobi dengan mengenakan pakaian adat dan konde. 

Nantinya, para pria pun akan datang dan bisa membeli dagangan para gadis itu. Dari pertemuan itulah, proses perkenalan di antara mereka pun dimulai. Jika sang pria tertarik dengan sang wanita, ia bisa langsung mendatangi kediaman wanita tersebut.

6. Kamomose (Buton Tengah) 

Masyarakat Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara juga memiliki tradisi unik dalam mencari jodoh yang dinamakan dengan Kamomose. Pada umumnya, tradisi ini diperuntukkan bagi remaja yang masih sendiri atau jomblo. Dalam pelaksanaannya, sekelompok wanita akan berjajar saling berhadapan di malam hari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Kemudian di tengah-tengah mereka juga akan disediakan sebuah baskom yang terdapat lilin menyala. Nantinya, para pemuda yang mengikuti Kamomose, harus memiliki kacang tanah yang biasa dijual oleh warga sekitar. Selanjutnya, mereka harus bergantian dan berkeliling sembari melempar kacang tersebut ke dalam baskom. 

Dalam tradisi kamomose, jika pemuda itu tertarik dengan salah satu gadis, maka dia akan melempar kacangnya ke baskom yang dibawa wanita itu. Setelah itu, akan terjadi perundingan dengan pihak keluarga untuk meminta persetujuan. Apabila lamaran disetujui, maka hubungan keduanya bisa berlanjut hingga ke tingkat yang lebih serius.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menengok Tradisi Nyuguh Masyarakat Kampung Adat Kuta Ciamis

Koropak.co.id, 24 September 2022 16:20:44

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jawa Barat - Di akhir bulan Safar atau menjelang bulan Rabiul Awal, Warga Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis menggelar tradisi Nyuguh atau Hajat Bumi yang menjadi warisan leluhurnya secara turun temurun. 

Tradisi Nyuguh dilaksanakan dengan tujuan sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta yang dalam setahun ini telah memberikan rezeki yang sudah dilimpahkan dari hasil bumi. 

Berbagai kesenian tradisional biasanya akan ditampilkan dalam tradisi Nyuguh, seperti Gondang Buhun, ronggeng dan berbagai kesenian lainnya.

Prosesi tradisi Nyuguh ini akan dimulai dari Alun-alun Kampung Kuta dan warga pun akan membawa bekal serta mengarak dongdang yang berisikan hasil bumi seperti umbi-umbian serta aneka makanan khas seperti ketupat.

Uniknya, arak-arakan tersebut juga akan diiringi dengan Rengkong dan kesenian Dog-dog sampai ke tempat di ujung Kampung Kuta dekat Sungai Cijolang. Di lokasi itulah, warga pun selanjutnya menggelar acara doa bersama memanjatkan rasa syukur kepada sang pencipta dan setelah itu diakhiri dengan makan bersama di pinggir sungai.



Baca: Mandi Safar, Tradisi Sucikan Diri dan Penolak Bala Masyarakat Melayu


Tradisi Nyuguh ini juga memiliki hikmah tersendiri, yakni menjaga budaya warisan dan alam yang ada di Kampung Kuta. Tak hanya itu saja, tradisi Nyuguh juga sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang Kampung Adat Kuta.

Di sisi lain, tradisi Nyuguh juga mengandung makna dan filosofi yang bisa diambil, seperti menjaga dan melestarikan tradisi leluhur. sebagai tradisi dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, penolak bala, sekaligus sarana silaturahmi antar warga khususnya di Kampung Adat Kuta.

Di tahun ini, warga Kampung Adat Kuta kembali menggelar Tradisi Nyuguh setelah 2 tahun sebelumnya dilaksanakan secara sederhana. Pada 2022, tradisi Nyuguh yang dilaksanakan di area persawahan Kampung Adat Kuta, pada Kamis 22 September 2022 diawali dengan Gelar Budaya dan Pameran yang berlangsung sangat meriah.

Tradisi Nyuguh tahun ini dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Ciamis, Yana D Putra serta dihadiri oleh unsur Pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis hingga Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Kemendikbudristek).


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mandi Safar, Tradisi Sucikan Diri dan Penolak Bala Masyarakat Melayu

Koropak.co.id, 23 September 2022 15:37:34

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jakarta - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Selain itu, bagi sebagian masyarakat, bulan Safar merupakan bulan sial. Oleh karena itulah, saat memasuki bulan ini, biasanya masyarakat akan membersihkan diri dengan ritual yang disebut "Mandi Safar". 

Mandi Safar merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Melayu dan sudah ada sejak zaman dahulu. Tradisi ini merupakan kegiatan untuk membersihkan diri dan menyucikan hati sebagai penolak bala. Pada umumnya, tradisi ini dilaksanakan oleh sejumlah masyarakat pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Biasanya, tradisi Mandi Safar ini dilakukan secara ramai-ramai oleh masyarakat untuk menyucikan diri dan membersihkan hati. Mandi Safar juga merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat pada saat memasuki bulan Safar. Selain sebagai sarana pembersihan diri, Mandi Safar juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat Melayu.

Masyarakat sendiri percaya bahwa tradisi Mandi Safar bisa menjadi penolak bala untuk menghilangkan segala macam hal buruk, baik dari manusia dan juga alam yang dihanyutkan oleh air sungai yang mengalir. Lalu, bagaimana sejarah awal tradisi Mandi Safar ini?

Diketahui, upacara Mandi Safar sudah ada sejak 1950-an yang mulai dibawa oleh masyarakat Rupat Utara dari pesisir pantai Malaysia. Namun, tradisi itu sendiri sudah hadir di pesisir pantai Malaysia sejak 1920-an. Jika melihat sejarah awalnya, Mandi Safar dilakukan di rumah masing-masing. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat pun menjadikannya sebagai suatu upacara sakral yang dilakukan secara beramai-ramai. Sama halnya seperti tradisi lainnya yang menyebar di masyarakat, tradisi Mandi Safar juga memiliki beberapa perbedaan dalam pelaksanaannya. 

Ada yang percaya bahwa ritual ini mampu mencegah, bahkan menghilangkan segala macam hal buruk, wabah penyakit menular, hingga bencana atau musibah yang akan atau telah datang, khususnya di bulan Safar. 

Kepercayaan itu berkembang di kalangan masyarakat luas dikarenakan pada bulan tersebut, Alla SWT akan menurunkan 12 ribu macam ujian atau cobaan kepada umat manusia tepatnya di hari Rabu minggu terakhir bulan Safar. Itulah alasannya mengapa ritual tersebut biasanya dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Di sisi lain, ada juga yang menganggapnya sebagai tindakan bid'ah atau tindakan yang tidak boleh dilakukan, karena bertentangan dengan ajaran agama Islam. Di mana ritual Mandi Safar itu dinilai takhayul dan khurafat, serta mengandung unsur syirik.



Baca: Makna Tebu dan Pohon Pisang dalam Tradisi Nyorong Suku Samawa


Namun ada juga pendapat lainnya yang menyebutkan bahwa ritual ini dilaksanakan hanya untuk sekadar tradisi leluhur Islam yang perlu dijaga kelestariannya dengan tetap mengedepankan modifikasi Islami dan membuang unsur mistisme agar tidak bertentangan dengan ajaran Allah SWT.

Untuk proses persiapan Mandi Safar ini akan dimulai dari pagi hari, tepatnya setelah salat subuh di hari Rabu terakhir bulan Safar. Biasanya masyarakat akan terlebih dahulu menyiapkan peralatan berupa sehelai daun atau selembar kertas persegi (rajah) yang diserahkan pada tetua kampung yang dianggap memiliki ilmu agama lebih mumpuni dalam memimpin ritual tersebut.

Nantinya rajah yang sudah diserahkan kepada tetua kampung itu akan ditulisi ayat-ayat dengan menggunakan benda-benda keras seperti lidi yang dibuat menyerupai pensil dengan ujungnya yang dilancipkan, atau juga dengan tinta yang mudah luncur.

Setelah persiapan sudah selesai, proses selanjutnya adalah pelaksanaan ritual Mandi Safar yang dimulai dengan kegiatan zikir bersama memohon ampun dan ridha dari Allah SWT. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan arak-arakan yang diiringi kompang beserta delapan pasang anak yang merupakan perwakilan dari masing-masing desa.

Seperti pelaksanaan ritual Mandi Safar di Rupat Utara. Masyarakat akan melakukan arak-arakan menuju sumur tua yang letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Lapin. Sesampainya di tempat ritual, maka satu per satu tetua kampung, pemuka agama, serta pemerintah setempat pun akan menepuk tepung tawari anak-anak tersebut. 

Setelahnya, air wafa' akan disiramkan ke tubuh mereka dengan menggunakan centong dari tempurung kelapa. Jika ritual sudah selesai dilaksanakan, barulah setelah itu masyarakat yang hadir dalam kegiatan, diizinkan untuk mengambil air wafa' yang digunakan untuk membasuh muka dan rambut, namun ada juga yang sengaja membawa botol air kosong untuk nantinya diisikan air tersebut.

Bahkan, tak jarang juga ada beberapa masyarakat yang kemudian menjadikan rajah yang sudah dituliskan dan direndam air wafa' sebagai pajangan di depan pintu rumahnya dengan tujuan agar segala hal buruk dan penyakit tidak bisa masuk ke dalam rumah.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Misteri dan Ragam Akulturasi yang Mendiami Gunung Kawi

Koropak.co.id, 20 September 2022 15:35:55

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jawa Timur - Begitu mendengar nama Gunung Kawi disebut, yang pertama terlintas dalam kepala mungkin saja misterinya yang lekat sekali dengan hal-hal gaib. Apalagi namanya kalau bukan pesugihan?

Pesugihan di Gunung Kawi ini konon dapat mengundang kekayaan dan kejayaan bagi orang yang melakukannya. Namun hingga sekarang, tentunya kabar ini tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namanya yang lekat dengan pesugihan ini sudah kadung santer tersebar di kalangan masyarakat.

Melalui ritual-ritual khusus yang dilakukan di Gunung Kawi dipercaya dapat mendatangkan ragam rezeki. Keberhasilan ritual tersebut bergantung pada kepasrahan dan pengharapan tinggi pelakunya dalam memohonkan hajat, terutama jika menyoal kekayaan.

Mitos ini banyak diyakini oleh khalayak. Tempat yang kerap dijadikan lokasi ritual adalah Pesarean, dimana lokasi tersebut merupakan areal pemakaman yang dikeramatkan. Makam yang dimaksud adalah tempat Kanjeng Kyai Zakaria II dan juga Raden Mas Imam Soedjono dikebumikan.

Kedua tokoh tersebut dulunya merupakan bangsawan dan punya peran penting dalam melawan penjajah Belanda. Konon mereka adalah keturunan Kesultanan Mataram yang berjuang di bawah arahan Pangeran Diponegoro.



Baca : Mengintip Omah Demit Bekas Tempat Dinamit Era Belanda


Karena dikeramatkan, maka pengunjung yang hadir di sana tidak boleh bertindak sembarangan. Sebelum memulai ritual doa di makam, pengunjung diharuskan mandi dan keramas. Hal itu melambangkan kesucian.

Selain itu, pengunjung juga dianjurkan membawa sesaji atau uang untuk dibagikan kepada orang-orang di sana sebagai tindakan meraih berkah.

Namun terlepas dari kepercayaan tersebut, Gunung Kawi sejatinya adalah tempat yang indah dengan paduan akulturasi dua budaya; Jawa dan Tionghoa. Tak sedikit bangunan di sana yang berdiri dengan arsitektur Tionghoa kendati para pelayan kerap menggunakan pakaian adat Jawa.

Gunung Kawi juga punya masjid berarsitektur Demak , Vihara Dewi Kwan Im Kraton, serta Klenteng yang ramai dikunjungi. Bahkan aneka gelaran seni siap menunjukkan kebolehannya di hadapan para pengunjung.

Terlepas dari misteri pesugihan yang menggelayuti Gunung Kawi, tempat tersebut sejatinya dapat digunakan sebagai lokasi untuk menambah wawasan sejarah dan budaya Indonesia.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kelintang Perunggu Jambi, Peninggalan Perang Prajurit Tempasuk

Koropak.co.id, 16 September 2022 15:14:35

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jambi - Bagi masyarakat Jambi, kelintang perunggu merupakan alat musik yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupan. Namun, keberadaannya kini terancam punah. Padahal, hampir semua aspek kehidupan berkaitan dengan kelintang perunggu. 

Di Tanjung Jabur Timur, misalnya, kelintang perunggu pada awal terciptanya digunakan sebagai pengobatan, perkawinan, dan upacara lainnya. Alat tersebut terdiri dari 18 irama atau jenis pukulan. Setiap pukulannya memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Pada malam tari inai, contohnya, irama kelintang yang dimainkan akan berbeda. Kemudian saat pengobatan ritual makan di kelung atau mandi air asin juga jenis iramanya berbeda. Menariknya, nama-nama irama dalam alat musik tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti irama kedidi merupakan nama burung. Ada juga nama hewan, seperti siamang, tupai dan kambing. Selain iut, ada irama kedungkuk yang tak boleh dimainkan sembarangan, pasalnya irama ini dimainkan dalam pengobatan ritual mandi di kelung.

Biasanya masyarakat menganggap irama ini memiliki unsur magis. Bahkan, mereka yang hadir dalam ritual ini juga bisa kesurupan tepat saat irama kedungkuk dimainkan. Sementara untuk ritual makan di kelung, sudah lama tak diselenggarakan.

Kini, kesenian tersebut terancam punah. Salah satu penyebabnya adalah sudah tidak banyaknya lagi orang yang bisa memainkannya. Sedangkan para pemainnya saat ini banyak yang sudah uzur, sehingga alat musik pukul jarang ditampilkan. 



Baca: Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa Melahirkan Gambang Kromong


Menilik ke belakang, asal-usul seni musik ini tidak bisa lepas dari sejarah orang Melayu Timur. Mereka berasal dari kawasan Tempasuk, daerah Mindanao Filipina dan Sabah Malaysia, yang berdatangan ke Pantai Timur Sumatra. 

Kedatangan mereka tidak terlepas dari konflik Sultan Mahmud Syah III, penguasa Kesultanan Johor Pahang Riau dan Lingga dengan Belanda. Sultan Mahmud Syah III meminta bantuan kepada penguasa Tempasuk untuk menghadapi Belanda. Prajurit Tempasuk berhasil mengalahkan Belanda.

Setelah itu, orang-orang dari Tempasuk ada yang kembali ke daerahnya, namun ada juga yang menetap di Daik Lingga dan berlayar ke Pantai Timur Sumatra, seperti ke daerah Tanjung Jabung.

Saat berperang melawan Belanda, orang-orang Tempasuk itu ternyata tidak hanya membawa senjata saja, tapi juga turut membawa alat kesenian dari daerahnya yang dikenal dengan nama Kelintang Perunggu. 


Silakan tonton berbagai video menarik disini


Makna Tebu dan Pohon Pisang dalam Tradisi Nyorong Suku Samawa

Koropak.co.id, 15 September 2022 07:18:49

Eris Kuswara


Koropak.co.id, NTB - Suku Samawa yang menghuni wilayah barat dan tengah Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Nyorong yang dilangsungkan dalam pernikahan.

Nyorong merupakan proses hantaran dari pihak laki-laki kepada perempuan yang diiringi dengan kesenian khas Sumbawa "Ratib Rabana ode" dan "Rabalas Lawas". Dilaksanakan setelah beberapa rangkaian adat lain, seperti bajajag, bakatoan, basaputis, dan bada'. 

Bagi masyarakat Sumbawa, tradisi nyorong sangat penting sebagai tanda penghormatan. Barang-barang yang dihantarkan sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak pada saat basaputis atau penentuan jawaban pihak wanita. 

Biasanya barang-barang yang sudah disepakati dan ditetapkan itu seperti, Pipis Belanya (sejumlah uang belanja), Isi Peti (berupa emas perhiasan), Isi Lemari (pakaian si gadis, mulai dari sandal hingga sanggul rambut) dan Soan Lemar (berupa beras, gula, minyak, kayu bakar dan lainnya, termasuk kerbau atau sapi).

Semua barang itu juga digunakan untuk menopang prosesi perkawinan yang dilaksanakan di tempat mempelai wanita. Tradisi nyorong ini juga dilakukan untuk menjalin silaturahmi antara kedua keluarga dari masing-masing pengantin.



Baca: Terinspirasi dari Bahasa Sasak, Lahirlah Tari Oncer NTB


Upacara nyorong dilakukan secara ramai-ramai beserta rombongan dan tokoh masyarakat. Dalam prosesinya diiringi dengan alat musik tradisional khas Sumbawa. Saat pihak laki-laki tiba di rumah perempuan, rombongan akan ditahan dulu sebelum masuk. 

Kemudian salah satu dari tokoh masyarakat pun harus melantunkan lawas atau rabalas lawas dengan pihak perempuan, sehingga membuat suasana keakraban kedua belah pihak semakin terjalin. Setelah dilanjutkan penyerahan barang-barang kepada keluarga perempuan.

Adapun isi lawas yang dilantunkan merupakan kata sambutan dari masing-masing pihak atas kebahagiannya dalam menikahkan putra-putri mereka. Dalam tradisi nyorong ini juga terdapat simbol-simbol yang mengandung falsafah.

Pihak laki-laki akan melengkapi rombongan mereka dengan beberapa batang tebu yang melambangkan keperkasaan seorang laki-laki. Sedangkan di rumah calon pengantin wanita akan terlihat sebatang pohon pisang yang sesuai dengan simbol sebuah nasehat khas Sumbawa.

Nasehat khas Sumbawa itu berbunyi: "Mara Punti Gama Untung (contohilah daun pisang), Den Kuning No Tenri Tana (daun menguning tak tersentuh tanah), Mate Bakolar Ke Lolo (sampai matipun tetap bersama)". Dari sebatang pohon pisang itulah diharapkan kedua mempelai mampu meneladaninya dalam membangun rumah tangga.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Pompang, Alat Musik Bambu Khas Masyarakat Tana Toraja

Koropak.co.id, 14 September 2022 07:17:08

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sulsel - Tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, Sulawesi Selatan juga menyimpan kekayaan seni dan budaya yang memikat. Satu di antaranya adalah Pompang. Alat musik yang disebut juga Pa'pompang itu berkembang di masyarakat Toraja. 

Terbuat dari bambu, alat musik tersebut memiliki bentuk yang unik dan juga mampu menghasilkan suara bas yang lebih dominan. Oleh karena itulah, masyarakat setempat yang tinggal di Tana Toraja menyebutnya juga dengan nama Pa'bas.

Bentuknya hampir mirip dengan alat musik angklung dari Jawa Barat. Namun, cara memainkannya ditiup. Besar dan kecilnya ukuran bambu yang digunakan pada Pompang juga berpengaruh terhadap nada yang dihasilkan saat ditiup.  

Jika potongan bambunya kecil, maka pompang pun akan menghasilkan nada yang tinggi. Begitu pun sebaliknya. Pada umumnya, pompang dimainkan secara berkelompok. Berbeda dengan angklung, alat musik tiup Suku Toraja ini mampu mengeluarkan bunyi dengan jangkauan nada hingga dua setengah oktaf tangga nada. 



Baca: Saluang, Alat Musik Khas Minangkabau yang Menghipnotis


Meskipun tergolong sebagai alat musik tradisional, pompang bisa  dikolaborasikan juga dengan berbagai alat musik modern lainnya, seperti terompet, saksofon, hingga organ, atau piano saat mengiringi lagu.

Potongan-potongan bambu pada alat musik pompang tersebut akan dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa agar bisa menghasilkan bunyi atau nada. Setelah itu, potongan-potongan bambu diikat dengan rotan agar bisa lebih kuat dan menyatu.

Celah sambungan antarbambunya ditutupi dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan menjadi bulat dan tidak cempreng. Bambu yang dipilih untuk membuat alat musik ini harus tipis serta memiliki ruas yang panjang, tua, mulus, dan lurus. 

Untuk satu kelompok pompang, biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang anggota, termasuk yang bertugas sebagai peniup suling. Alat musik ini dipergunakan sebagai musik pengiring dalam kebaktian di gereja atau dalam pernikahan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Saluang, Alat Musik Khas Minangkabau yang Menghipnotis

Koropak.co.id, 13 September 2022 07:06:17

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Sumatra Barat - Ada banyak cara untuk mengusir sepi atau mengungkapkan perasaan hati. Salah satunya bisa melalui musik. Cara itulah yang dulu kala dilakukan Kalam, warga Nagari Singgalang Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. 

Untuk mengungkapnya isi hatinya, ia kala itu membuat alat bunyi-bunyian yang belakangan diberi nama saluang. Ternyata, alat tersebut disukai masyarakat dan bertahan hingga sekarang. Hal yang paling utama dalam memainkan alat musik saluang ini adalah cara meniup dan menarik nafasnya yang dilakukan secara bersamaan. 

Dengan begitu, peniup saluang pun dapat memainkan alat musik itu mulai dari awal sampai akhir lagu tanpa putus atau dikenal juga dengan circular breathing. Teknik yang dinamakan manyisiah angok ini sendiri dapat dikuasai dengan latihan yang berkesinambungan. 

Selain itu juga, tiap nagari di Minangkabau juga mengembangkan cara meniup saluang dengan cara yang berbeda-beda, sehingga masing-masing nagari di Minangkabau pun memiliki ciri khasnya tersendiri. 

Contohnya dari Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Untuk ciri khas dari Singgalang sendiri dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya juga nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Sedangkan, ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.



Baca: Genggong, Alat Musik yang Mulanya untuk Memanggil Kekasih


Konon, pada zaman dahulu, para pemain saluang ini memiliki mantra tersendiri yang berguna untuk menghipnosis penontonnya yang dinamakan "Pitunang Nabi Daud". Biasanya, permainan musik ini dapat dinikmati pada acara perkawinan, batagak rumah (Mendirikan Rumah), batagak pangulu, dan lainnya.

Warga Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang adalah yang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Alat musik yang termasuk dalam golongan alat musik suling ini memiliki cara pembuatan yang lebih sederhana, yakni cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. 

Biasanya, panjang saluang sendiri sekitar 40 s.d 60 centimeter, dengan diameternya sekitar 3 s.d 4 centimeter. Dalam pembuatannya, kita harus terlebih dahulu menentukan bagian atas dan bawahnya, agar nanti bisa menentukan pembuatan lubang. Apabila saluang terbuat dari bambu, maka bagian atas saluang merupakan bagian bawah ruas bambu. 

Kemudian untuk bagian atas saluangnya, diserut untuk dibuat meruncing sekitar 45 derajat sesuai dengan ketebalan bambu. Sementara itu, untuk membuat 4 lubang pada saluang ini, mulai dari ukuran 2/3 dari panjang bambu, yang diukur dari bagian atas. Sedangkan untuk lubang kedua dan seterusnya, berjarak setengah lingkaran bambu. 

Agar menghasilkan suara yang bagus, biasanya besar dan bentuk lubangnya harus bulat dengan garis tengah 0,5 centimeter. Berbicara mengenal asal usul nama saluang sendiri, secara etimologis, nama saluang diambil dari nama seruling panjang yang kerap kali dijadikan sebagai alat musik pengiring dalam pertunjukan musik Saluang jo Dendang-Saluang.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Ragam Lakon Blangkon, Bangsawan dan Rakyat Beda Cerita

Koropak.co.id, 12 September 2022 07:09:45

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya blangkon. Maklum, penggunaan ikat kepala itu sudah ada sejak awal terbentuknya budaya Jawa. 

Dahulu, masyarakat Jawa sudah memakai penutup kepala dari lilitan kain yang melingkar dengan bagian atasnya yang terbuka. Kemudian, istilah blangkon muncul untuk menyebut ikat kepala instan atau ikat kepala siap pakai.

Bagi masyarakat Jawa, blangkon bukan sekadar penutup kepala, namun memiliki banyak arti. Biasanya penutup kepala yang terbuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria ini dijadikan sebagai pelengkap busana tradisional Jawa.

Ada banyak versi yang mencerikatan tentang asal-usul blangkon. Salah satunya menjelaskan, sejarah kehadiran blangkon dicetuskan oleh Ki Ageng Giring, sesepuh keluarga Keraton Mataram. Pada zaman dahulu, para penyebar agama Islam yang masuk tanah Jawa memiliki rambut panjang dan mereka enggan memotong rambutnya karena dianggap sebagai anugerah.

Jika rambut dipotong, itu sama dengan mengingkari kehendak yang kuasa. Sementara dalam kebudayaa Jawa, tidak ada lelaki yang berambut panjang. Oleh karena itulah, Ki Ageng Giring mencetuskan untuk menutup rambut dengan ikat kepala. 

Seiring perkembangan zaman, ikat kepala itu akhirnya berubah nama menjadi blangkon. Mondolan atau bentuk bulat yang ada di belakang blangkon merupakan wujud ikatan rambut para penyebar Islam pada masa itu. Di Solo, mondolan tidak berbentuk bulat, melainkan sedikit gepeng dikarenakan para pengikut ajaran Islam di sana telah memotong rambutnya.



Baca: Festival Blangkon Solo, Sasar Anak Muda Cinta Budaya


Ada juga pendapat yang menuturkan bahwa kebiasaan memakai blangkon itu berawal dari akulturasi atau penyerapan budaya Hindu dan Islam oleh masyarakat Jawa. Pada masa itu, para pedagang Gujarat yang masuk ke Indonesia kerap melilitkan kain lebar dan panjang di kepala, dan dikenal dengan nama surban. Hal itu kemudian menginspirasi masyarakat Jawa untuk memakai ikat kepala seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab.

Ada juga kisah yang menceritakan bahwa awal mulanya penggunaan blangkon di Jawa saat terjadinya krisis ekonomi. Dulu, ikat kepala tidaklah permanen, sama halnya seperti surban. Namun semenjak adanya krisis ekonomi, kain pun menjadi barang yang langka atau sulit untuk ditemukan.

Melihat kondisi itu, para petinggi keraton memberi perintah kepada para seniman untuk membuat blangkon atau ikat kepala permanen. Blangkon tersebut menggunakan lebih sedikit lembaran kain dari biasanya, sehingga lebih hemat dan praktis.

Seiring berjalannya waktu, blangkon kini memiliki banyak fungsi, di antaranya menjadi penutup dan pelindung kepala hingga menjadi kelengkapan dari pakaian tradisional Jawa. Blangkon juga menjadi wujud karya seni yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan bentuknya yang indah.

Selain lebih praktis, blangkon juga digunakan untuk menunjukkan kelas sosial penggunanya. Pada masa lalu, blangkon banyak digunakan oleh para bangsawan dan orang-orang di lingkungan keraton. Adapun untuk masyarakat biasa, mereka tetap menggunakan iket atau udeng sebagai penutup kepalanya.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Titinggi Ula-Ali, Permainan Tradisional Sunda yang Jarang Ditemui

Koropak.co.id, 11 September 2022 12:27:02

Fauziah Djayasastra


Koropak.co.id, Jawa Barat - Ketika sore menjelang Magrib, anak-anak pada masanya masih berkeliaran di luar rumah untuk memainkan sebuah permainan berkelompok. Di antara sekian banyak permainan tradisional, titinggi ula-ali adalah pilihan yang cukup banyak dimainkan.

Titinggi ula-ali sendiri berasal dari Sunda. Nama itu merujuk pada bentuk permainannya yang menyerupai titinggi atau kaki seribu. Karena itulah dibutuhkan cukup banyak orang dan lahan yang luas untuk memainkan permainan ini.

Cara memainkan permainan ini adalah dengan berbaris memanjang, lalu kedua tangan saling memegang pundak teman-temannya sehingga membentuk barisan menyerupai titinggi. Orang paling depan disebut kepala, yang kedua disebut leher, sementara orang ketiga hingga mendekati ujung disebut badan, dan orang paling ujung disebut ekor.  

Sebelum memulai permainan, orang yang berfungsi sebagai kepala akan bertanya kesiapan para pemainnya. Ketika semua anggota telah menyatakan kesiapannya, para pemain akan berpegangan erat dan mengambil posisi sedikit agak berjongkok. 

Setelahnya, kepala akan mengajak yang lain berjalan maju. Mereka bergerak terbungkuk-bungkuk mengelilingi luasnya halaman. Aktivitas itu dilengkapi dengan iring-iringan kawih.



Baca: Permainan Tradisional Gatrik untuk Melatih Ketangkasan


Ketika sudah berkeliling sebanyak 3-4 kali, hap! orang yang bertugas sebagai kepala akan memungut dedaunan atau ranting kayu, tanpa berhenti maju atau memisahkan diri dari barisan. Kemudian daun atau ranting itu diserahkan kepada Sang Leher sambil berkata, "Ieu mihape hayam." ["Ini titip ayam."]

Dari leher, titipan itu diestafetkan kepada badan hingga ke ekor. Namun biasanya, ada saja orang yang membuang titipan tersebut sehingga tidak pernah sampai ke ekor. Kepala akan menanyakan titipan tersebut kepada leher. Leher akan mengonfirmasi jika hal itu sudah dititipkan. Begitu seterusnya hingga mencapai ekor. Namun ketika mencapai ekor, ekor akan menjawab jika titipan itu sudah dimakan elang, "Euweuh dihakan heulang." 

Mereka akan menyisir halaman untuk menemukan kembali daun atau ranting yang dibuang tadi. Begitu ditemukan, pemain harus berganti posisi, bagian ekor beralih menjadi kepala sedangkan kepala berubah menjadi leher.

Begitu seterusnya hingga semua pemain mendapatkan giliran menjadi kepala. Barulah saat itu permainan tradisional ini berakhir.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Mengintip Omah Demit Bekas Tempat Dinamit Era Belanda

Koropak.co.id, 10 September 2022 15:14:04

Fauziah Djayasastra

 

Koropak.co.id, Jawa Tengah - Tradisi dan kebudayaan suku Jawa kerap terdengar berkelindan dengan nuansa mistis. Daerah-daerah di Jawa punya tempat yang demikian kental dengan mistisisme. Salah satunya Omah Demit yang berlokasi di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Bangunan rumah itu cukup familiar bagi warga setempat dan terletak di atas bukit. Misterinya bukan disebabkan karena letaknya ada di ujung bukit, melainkan adanya kepercayaan jika bangunan tersebut tidak sembarang bisa dimasuki walau tampak di depan mata.

Rumah itu menjulang di antara bukit kapur yang popular diberi nama Bukit Patrum Photorium. Di sekelilingnya tumbuh tanaman rumput. Kawasan tersebut mulanya adalah pertambangan kapur yang aktif beroperasi pada masa kolonial.

Selain digunakan untuk bahan bangunan, kapur itu juga digunakan untuk pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun. Namun kini, bangunan tersebut sama sekali tidak bisa dikunjungi lantaran tak ada lagi jalan menuju rumah itu. Hal tersebut dikarenakan kawasan bukit yang sebelumnya tersambung telah ambrol akibat aktivitas pertambangan dan hanya menyisakan bukit berukuran 2x2 yang menopang rumah tersebut.



Baca: Istana Dalam Loka Sumbawa dan Spirit Syariat Islam


Kondisinya yang demikian, kian menambah kesan seram. Apalagi tak ada bangunan lain di sekitar rumah tersebut. Kabarnya, warga juga kerap mendengar suara-suara aneh atau penampakan di rumah ini. Barangkali karena itulah dinamakan Omah Demit atau Rumah Hantu.

Ketika pertambangan masih aktif di masa kolonial Belanda, rumah tersebut juga berfungsi sebagai tempat menyimpan dinamit. Saat itu Belanda memanfaatkan bahan peledak untuk proses menambang kapur, pun membangun rel otomotif untuk mengangkutnya.

Rel otomotif tersebut diketahui masih bisa dioperasikan hingga tahun 1980-an dan dialihfungsikan untuk mengangkut tebu menuju PG Gondong Winangun. Akan tetapi, bangunan tempat menyimpan dinamit mulanya ada dua, namun karena masyarakat setempat beralih menambang dengan cara manual, hal itu menghilangkan sebuah bangunan yang ada di atasnya.

Kini, walaupun warga benar-benar tak berani mengusik bangunan itu, tetapi kawasan perbukitan itu telah dibuka sebagai tempat wisata.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: