Beragam Nama Pasar Tempo Dulu, Sudah Ada Pasar Gelap

Koropak.co.id, 13 December 2021 14:50:12
Penulis : Eris Kuswara
Beragam Nama Pasar Tempo Dulu, Sudah Ada Pasar Gelap

 

Koropak.co.id - Selain ada Pasar Senen, Pasar Jumat, Pasar Pagi hingga Pasar Sore, ternyata di zaman dahulu juga terdapat Pasar Buah, Pasar Burung, Pasar Ikan hingga Pasar Gelap.

Seperti halnya di Solo, di bagian utara dan barat Pasar Gede ternyata ada sebuah pasar yang disebut Pasar Buah. Dengan berlatar belakang atap-atap khas Tionghoa di kawasan pecinan. Selain itu disana juga terdapat sebuah los modern yang panjang pada zamannya.

Selain didalam, ada juga pedagang yang mengambil lokasi diluar losa dengan mendirikan payung besar berbahan bambu dan dedaunan atau biasanya berbahan daun pisang kering (klaras) atau bisa juga dengan menggunakan daun kelapa kering (blarak).

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempoe Doeloe" menuliskan, pada umumnya penduduk Jawa merupakan pembeli sejati yang kurang mengerti tentang perdagangan. Sehingga itulah yang menjadi penyebabnya di sebuah pasar kala itu selalu ada keributan.

"Saat itu para penjual dan pembeli berusaha untuk saling menipu dan ditipu secara bergantian hingga seringkali menyebabkan perselisihan tiada akhir dan tanpa ada intervensi dari polisi," tulis Olivier.

Olivier juga menjelaskan, tercatat sejak ratusan tahun, ada sebuah tradisi yang sering dilakukan orang Jawa yakni memelihara burung berkicau didalam sangkar sebagai pelengkap properti dari lelaki Jawa selain istri, kendaraan dan keris.

Akibat banyak diperdagangkan, sehingga di banyak kota disediakanlah Pasar Burung atau terkadang juga pasar hewan yang didalamnya menjual aneka binatang peliharaan kecil seperti kelinci dan ikan hias.

Pasar Burung tentunya memiliki ciri khas yang hampir sama di berbagai kota. Bahkan juga memiliki nasib yang sama dikarenakan lokasinya dulu ditengah kota yang kemudian digeser ke pinggiran.

Sementara itu, Pasar Burung yang ada di Yogyakarta saat itu diduga pada awalnya merupakan bagian dari Pasar Beringharjo. Akan tetapi pasar itu pada tahun 1960-an dipindahkan ke Jalan Ngasem.

Seiring berjalannya waktu, dikarenakan pasar itu yang terlalu ramai dan sempit, maka pada tahun 2010 Pasar Burung itu pun direlokasi ke tempat yang lebih luas di Jalan Bantul Yogyakarta.

Selain Pasar Buah dan Burung, tentunya ada juga Pasar Ikan yang berada di sebuah pulau di muara Sungai Ciliwung, pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1846.

 

 


Baca : Mengenal Hari Pasar dalam Kalender Arab dan Jawa

Tercatat, Pasar Ikan sendiri merupakan westzijdse pakhuizen atau gedung tepi barat yang berasal dari tahun 1650. Namun kini sudah berubah menjadi Museum Bahari.

Gedung lama dengan tiang klasik yang cantik Pasar Ikan itu sudah dibongkar dan diganti bangunan baru. Menariknya, ada hal yang sama sekali tidak berubah dari lokasi yang sering tergenang banjir ini adalah bau ikannya yang menyengat dan mengganggu hidung.

Selain itu, di sisi lainnya juga sudah tidak ada lagi aliran air hingga jembatan disana juga sudah menghilang. Di Bandung, sama halnya seperti banyak kota lain, pasar utama di daerah tersebut terletak di kawasan pecinan yang secara alami biasanya menjadi pusat perdagangan di sebuah kota.

Diketahui, kompleks pasar yang diberi nama Pasar Baru dan dibangun pada tahun 1884 itu untuk membedakannya dengan Pasar Lama yakni Pasar Ciguriang yang sudah ada di Bandung sejak tahun 1812.

Di Pasar Baru tersebut terdapat los-los pasar yang dibangun dibelakang jajaran pertokoan di sepanjang jalan dengan gaya dan pandangan modern sesuai zamannya agar pasar itu terlihat bersih dan rapih. Menariknya, di sebelah kanan dan kiri pintu masuk pasar itu dibangun menara kecil dengan atap yang khas sebagai gerbang masuk.

Sementara di Surabaya, terdapat sebuah Pasar Glap yang terletak di tepian Kali Mas sebelah Jembatan Merah. Pasar Gelap itu berada di Gedung Putih yang dibangun pada tahun 1891 di ujung barat Kembang Jepun Kawasan Pecinan Surabaya.

Di dalam Pasar Gelap itu, ada gang-gang sempit yang kurang terang dan menjadi tempat bagi pedagang kecil berjualan berbagai macam barang.

Istilah dari Pasar Gelap itu bisa diartikan juga sebagai pasar yang menjual berbagai macam barang gelap atau ilegal dari hasil mengutil, mencuri hingga menyelundupkan.

Tidak jauh dari Pasar Gelap di Kampung Melayu atau yang kini berada di lokasi Jalan Kalimati ujung timur, pada zaman dahulu terdapat sebuah pasar barang besi yang disebut oleh Belanda dengan sebutan Dievenpassar atau Pasar Maling. Namun kini, baik Pasar Glap maupun Pasar Maling itu sudah tidak ada.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Komentar

Hari Bakti Postel; Kisah Perjuangan Merebut Kekuasaan Kantor PTT dari Jepang

Koropak.co.id, 27 September 2022 07:09:12

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Hari ini merupakan momentum perjuangan bidang pos dan telekomunikasi. Di tanggal ini, para pemuda berhasil merebut objek vital yang memengaruhi telekomunikasi Indonesia.

Itu sebabnya, setiap tanggal 27 September, negara memberi tanda peringatan Hari Bakti Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT) atau dikenal juga dengan sebutan Hari Bakti Postel. Peringatan ini sebagai pengingat peristiwa bersejarah pengambilalihan Kantor Pusat Jawatan PTT di Bandung.

Catatan sejarah menulis, di tahun proklamasi kemerdekaan, kantor PTT masih dikuasai oleh Pemerintahan Jepang. Pemuda kita tau akan hal itu. Mereka tak tinggal diam.

Para pemuda Indonesia yang dipelopori Angkatan Muda Pos, Telegrap, dan Telepon (AMPTT) berupaya melakukan pengambilalihan kantor PTT pada 1945. 

Lalu, bagaimana dengan sejarah lengkapnya?

Sejarah Hari Bakti Postel berawal dari AMPTT yang saat itu belum memiliki pengurus. Dengan dipelopori Soetoko, AMPTT pun menggelar pertemuan dengan para pemuda pada 3 September 1945. 

Selain Soetoko, pertemuan itu turut dihadiri Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, Nawawi Alif dan beberapa pemuda lainnya. Dalam pertemuan itu, mereka membahas kesepakatan untuk merebut Kantor Pusat Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari Pemerintahan Jepang.

Untuk merealisasikan pemindahan kekuasaan tersebut, Soetoko dan AMPTT menyepakati bahwa Kantor Pusat PTT harus sudah dikuasai Indonesia paling lambat akhir September 1945. Saat itu, AMPTT juga berusaha untuk melobi militer Jepang agar mereka mau menyerahkan kantor pusat PTT kepada pemerintah Indonesia. 

Namun upaya yang dilakukan AMPTT tak membuahkan hasil, pihak Jepang justru ingin penyerahan itu dilakukan oleh pihak Sekutu. Dengan alasan itulah, Soetoko dan AMPTT pun memiliki rencana untuk merebut Kantor PPT dari Jepang. 

Pada 23 September 1945, dalam proses perebutan Kantor PTT itu, Soetoko berunding dengan Ismojo dan Slamet Soemari serta memutuskan untuk meminta Mas Soeharto dan R. Dijar agar menuntut Jepang untuk menyerahkan kekuasaan Kantor PTT secara damai, dan mengancam akan melakukan kekerasan jika tidak mau menyerahkan. 

Soetoko pun meminta Mas Soeharto dan R. Dijar untuk menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada, untuk melakukan perundingan sekaligus mendesak agar Jepang menyerahkan pimpinan Jawatan PTT kepada Bangsa Indonesia pada 24 September 1945.

Lagi-lagi, perundingan yang dilakukan kala itu pun gagal dan hanya berujung pada kesepakatan kubu Jepang yang memperbolehkan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di halaman belakang kantor PPT di Jalan Cilaki.



Baca: Menguak Sejarah Car Free Day, Di Indonesia Digelar Pada 2007


Meskipun kesepakatan yang dilakukan tak membuahkan hasil yang baik bagi para pemuda PPT. Akan tetapi, para pemuda AMPTT tetap memanfaatkan momen itu untuk melakukan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di Tugu PPT.

Setelah pengibaran bendera Merah Putih di kantor PTT, AMPTT terus melakukan perundingan dengan Jepang. Akan tetapi dikarenakan perundingan yang dilakukan cenderung tak membuahkan hasil, para pemuda AMPTT pun akhirnya menyusun strategi untuk merebut secara paksa Kantor Pusat Jawatan PPT dari Jepang.

Pada 26 September 1945, Soetoko meminta Soewarno yang kala itu menjabat sebagai Komandan Cusin Tai dan Nawawi Alif,  untuk memimpin peruntuhan tanggul sekaligus juga mengepung kantor PTT. Dalam misi itu juga Soetoko ditetapkan sebagai ketua, dengan dibantu tiga wakil ketuanya meliputi Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar.

Selanjutnya. Soetoko menemui Mas Soeharto untuk memberitahukan rencananya yang akan dilaksanakan pada 27 September 1945. Pada malam harinya, anggota AMPTT mulai disebar untuk mempersiapkan senjata tajam, kendaraan bermotor, senjata api dan berbagai kebutuhan lainnya.

Pergerakan yang dilakukan AMPTT saat itu diorganisir secara matang dan diikuti juga oleh pada penduduk yang tinggal di dekat Kantor Pusat PTT. Namun sebelum melakukan aksinya pada 27 September 1945, Mas Soeharto dan R. Dijar kembali mengadakan perundingan dengan Pimpinan Jepang di Kantor Pusat PTT.

Sayangnya perundingan tersebut masih tetap mengalami kegagalan. Sehingga setelah itu, sebagaimana yang sudah direncanakan AMPTT dengan bantuan penduduk sudah mengepung dan siap dengan senjatanya masing-masing. 

Soetoko membagi dua bagian penyerbuan. Soewarno memimpin pasukan yang menghadapi tentara Jepang dan Nawawi mengomando massa. Setelah itu, mereka masuk ke dalam gedung PTT, dan berhasil membuat tentara Jepang tak berkutik dan menyerah serta meletakkan senjatanya.

Dalam penyerbuannya itu, Soetoko pun mengumumkan bahwa pada 27 September 1945, Mas Soeharto dan R. Dijar ditunjuk sebagai Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT Indonesia. Setelah itu, AMPTT juga melarang Jepang untuk masuk ke dalam lingkungan kantor. 

Meski penyerbuan saat itu sudah berakhir, AMPTT masih tetap melakukan penjagaan ketat di sekitar kantor demi menghindari serangan atau perebutan kembali yang dilakukan oleh Jepang. Peristiwa pengambilalihan Jawatan PTT dari tangan Jepang oleh AMPTT pada 27 September 1945 itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Bhakti Postel.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Jejak Teh Kejek, Teh Legendaris dari Garut

Koropak.co.id, 25 September 2022 07:27:47

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jawa Barat - Dodol dan Garut seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dimana ada dodol, disitu nama Garut tersemat.

Padahal sebetulnya bukan cuma dodol yang identik dengan Garut. Teh rakyat bernama "Teh Kejek" satu diantaranya. 

Teh dengan cita rasanya yang sangat khas ini memang banyak keistimewaan. Rasa yang unik dihasilkan dari proses produksi yang tak biasa. Memang, cara pengolahan dari teh kejek ini masih mempertahankan cara tradisional.

Diyakini muncul sejak awal 1900-an, proses pembuatan teh asli Garut ini masih memesona sampai dengan saat ini. Diketahui, kata kejek dalam bahasa Sunda sendiri berarti diinjak. 

Mari tengok cara membuat teh legendaris ini. Pertama, daun teh yang sudah disangrai lalu diinjak-injak di sebuah parit panjang dengan tujuan untuk  menyempurnakan proses pengeluaran getah daun teh. Hal itu juga dilakukan agar bisa mendapatkan hasil fermentasi yang lebih baik. 

Biasanya, para pengolah teh kejek ini akan menginjak daun teh layaknya seperti gerakan orang yang tengah berjalan di atas treadmill. Injak terus dengan penuh tenaga dan gembira.

Setelah diinjak, teh pun akan masuk dalam tahap pengeringan. Daun teh nantinya akan disimpan di atas tungku api. Setelah dikeringkan, untuk memastikan benar-benar kering, daun teh akan kembali di sangrai.

Kemudian setelah itu masuk pada proses pengayakan. Proses ini dilakukan untuk memisahkan daun teh dengan tangkainya. Namun dikarenakan jumlah pesanan teh yang semakin tinggi, biasanya pabrik tek juga akan menggunakan mesin untuk mempercepat proses produksinya.

Akan tetapi jangan salah sangka dulu, penggunaan mesin itu juga tetap tidak menghilangkan cara tradisionalnya dan hanya dipakai untuk mempercepat waktu produksinya saja. Untuk teh yang sudah selesai diproses pun selanjutnya akan didistribusikan ke pasar tradisional.

Proses pembuatan teh secara tradisional ini tentunya menjadi potret bagaimana masyarakat pedesaan masih mempertahankan tradisi mereka di tengah derasnya kemajuan zaman yang semakin berkembang pesat. 

Meski dalam kesederhanaannya, proses produksi teh secara manual ini tetap bisa menghasilkan teh dengan cita rasa khas yang membuatnya mampu bertahan sampai dengan saat ini. Lantas, bagaimana dengan sejarah dari teh kejek asli Garut ini?

Sayangnya, tidak ada data atau catatan yang pasti mengenai asal-usul dari teh kejek Garut. Akan tetapi, diduga pembuatan teh kejek sendiri muncul seiring dengan kemunculan usaha perkebunan teh Waspada pada 1865-an, yang dirintis oleh Karel Frederik Holle di daerah yang kini masuk wilayah Cikajang dan Cigedug.



Baca: Ada Cerita Jam Gadang di Balik Nikmat Teh Talua


Kala itu, Holle merekrut warga setempat yang dibantu juga dengan pekerja asal Tiongkok yang berpengalaman dalam pembudidayaan dan pengolahan teh menjadi siap seduh. Sehingga, ada kemungkinan bahwa teh kejek ini merupakan hasil kolaborasi antara Holle dan pekerja asal negeri tirai bambu itu. 

Hal itu dikarenakan dalam proses pembuatan teh kejek, sama dengan yang biasa dilakukan oleh pembuat teh di Tiongkok atau Eropa hingga saat ini. Namun perbedaannya hanya terletak dari segi teknologinya saja.

Jika proses pembuatan teh di perusahaan lain sudah menggunakan mesin pemanas dan penggilingan raksasa yang digerakkan oleh listrik, namun untuk proses pembuatan teh kejek di Kabupaten Garut itu masih dilakukan secara manual dengan peralatan tradisional, kayu bakar dan dengan cara diinjak-injak.

Meskipun dibuat secara tradisional, siap sangka teh kejek justru banyak sekali penggemarnya. Bahkan, kegemaran itu juga secara perlahan telah melahirkan kebiasaan minum teh baru di Garut yang dikenal dengan "tradisi Nyaneut". Tradisi minum teh tersebut berguna untuk menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara malam.

Sayangnya, ledakan komoditas teh itu justru tak bertahan lama. Saat itu, kualitas teh rakyat termasuk di Jawa Barat  anjlok akibat minimnya harga jual teh. Akibatnya, teh pun menjadi usaha yang tidak menguntungkan khususnya bagi petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare hingga banyak petani yang menelantarkan kebunnya. 

Kondisi ini juga semakin diperparah dengan adanya perlakuan pasca panen yang buruk dari kebun teh yang masih tersisa. Jika sebelumnya pemetikan pucuk daun teh dilakukan dengan teliti menggunakan tangan, sebagian petani saat ini justru tergoda menggunakan mesin pemotong dengan alasan efisiensi. Tak jarang ada juga petani yang membabat teh menggunakan parang.

Semua itu pun menjadi penyebab sulitnya mendapat bahan baku teh dengan kualitas yang baik. Hal ini jugalah yang membuat banyak usaha pembuatan teh kejek, baik yang berada di Cigedug maupun di Cikajang gulung tikar. Kendati demikian, hingga kini masih ada yang mencoba untuk bertahan. 

Karena, mereka mempercayai bahwa usaha ini layak untuk diteruskan karena dapat memberikan penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. Terlebih lagi, teh kejek ini memiliki cita rasa yang khas dibandingkan dengan teh lain yang diproduksi menggunakan mesin. Hal itu tentunya membuat teh kejek memiliki pasarnya sendiri.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Alat Transportasi Laut, Ada Sejak Zaman Kerajaan Hindu-Buddha

Koropak.co.id, 23 September 2022 07:14:19

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Generasi 90-an, sudah tidak asing lagi dengan lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut." 

Lagu yang menceritakan tentang rasa bangga bangsa Indonesia punya seorang pelaut yang menjelajahi lautan. Bukan sekadar lagu tentunya. Ada filosofi historis mengapa lagu ini tercipta.

Faktanya memang begitu. Dalam beberapa literatur sejarah banyak disebut, nenek moyang Indonesia menjelajahi lautan dengan menggunakan kapal-kapal laut.

Para leluhur kita, sudah terbiasa melakukan perjalanan internasional. Dunia kemaritiman sudah ditaklukkan dengan alat transportasi laut pada zamannya.

Alat transportasi laut bergerak sesuai tujuan. Mengombinasikan keilmuan pelayaran, memanfaatkan arah mata angin dan beragam teknologi tanpa bahan bakar.

Berbeda dengan sekarang. Selain kayu, bahan logam sudah dipakai untuk membuat kapal. Kemajuan zaman membuat kapal modern banyak yang menggunakan bahan bakar untuk menyalakan mesin.

Perkembangan teknologi transportasi laut di nusantara sebenarnya sudah ada pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha sekitar abad ke-8. Pada masa itu, Kerajaan Mataram Kuno diketahui sudah menggunakan teknologi perahu bercadik atau yang disebut juga "Kapal Borobudur" sebagai alat transportasi air.

Alasan perahu bercadik itu dinamakan Kapal Borobudur, pasalnya ditemukan gambar perahu bercadik di relief candi Borobudur. Selain itu, kemajuan teknologi transportasi air Indonesia juga dapat dilihat dalam jejak kejayaan Kerajaan Sriwijaya.



Baca: Sejarah Panjang Stasiun Kereta Api Tertua di Yogyakarta


Dalam sejarahnya, Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Maritim Terbesar di Asia Tenggara dengan armada laut yang terkenal kuat. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha hingga berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, transportasi laut yang digunakan masih memiliki teknologi yang sederhana.

Saat itu, kapal laut biasanya digunakan untuk mencari ikan di laut, mengirim barang untuk dijual, dan pelayaran di sekitar Asia Tenggara. Memasuki masa kolonial, teknologi transportasi air di Indonesia semakin berkembang. 

Bangsa-bangsa Barat seperti Portugis, Belanda dan Inggris pada masa itu mulai mengenalkan teknologi perkapalan maju yang mampu mengarungi Samudra dari benua-benua yang jauh.

Pada akhir abad ke-19, Belanda juga turut mengenalkan teknologi kapal uap sebagai alat transportasi publik di Indonesia sekaligus juga sebagai cikal bakal majunya bidang teknologi transportasi laut. 

Setelah itu, penggunaan penemuan penting terkait transportasi laut bermunculan, seperti penggunaan radio, radar, hingga Global Positioning System (GPS) yang dibantu dengan satelit.

Dalam perkembangannya, transportasi laut memiliki peran yang sangat penting bagi negara kepulauan, tak terkecuali Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.000 pulau yang disatukan oleh lautan luas. Sehingga, transportasi laut pun seolah menjadi "Urat Nadi" bagi perekonomian Indonesia.

Mengingat juga sangat vitalnya transportasi bagi roda perekonomian Indonesia, maka transpotasi laut pun harus dikembangkan dengan baik dan benar untuk menunjang pertumbuhan perekonomian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menelusuri Sejarah Panjang Kementerian Perhubungan

Koropak.co.id, 22 September 2022 15:32:50

Eris Kuswara

 

Koropak.co.id, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia (RI) punya tugas mengurus transportasi di darat, laut dan udara.

Era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, nakhoda Kemenhub dipercayakan pada Budi Karya Sumadi, yang menjabat sejak 27 Juli 2016. 

Tahukah kamu, bentuk awal dari Kemenhub sendiri awalnya bernama Departemen Perhubungan yang lahir dalam kancah perjuangan Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum saat itu, yang dipimpin oleh seorang Menteri bernama Abikusno Tjokrosuyoso. 

Setelah Abikusno Tjokrosuyoso lengser dari jabatannya, urusan perhubungan dan pekerjaan umum pun kemudian berada di bawah pimpinan dua pejabat yang berbeda yaitu, Ir. Abdulkarim yang memimpin Kementerian Perhubungan dan Ir. Putuhena yang memimpin Kementerian Pekerjaan Umum (PU) 

Sesuai dengan namanya, Departemen Perhubungan membidangi urusan perhubungan. Namun kala itu, di awal kemerdekaan Indonesia, bidang ini masih bergabung dengan PU dan belum spesifik mengurus transportasi.

Berdasarkan catatan sejarah, Pemerintah Belanda ingin berkuasa kembali di Indonesia, dan hal itu sangat jelas terlihat ketika mereka melancarkan agresi militernya yang kedua pada 19 Desember 1948. 

Dalam agresinya, Belanda pun berhasil menguasai Yogyakarta dan menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam kondisi darurat inilah, Dinas Telegrap sebagai salah satu Jawatan dalam Departemen Perhubungan berhasil menjalankan tugasnya yang sangat berdampak penting bagi keberlangsungan tegaknya Indonesia pada masa itu. 

Saat itu, Dinas Telegrap berhasil mengirim berita terakhir ke Bukittinggi yang ditujukan kepada Sjafruddin Prawiranegara dari Presiden Soekarno yang didalamnya berisi tentang pemberian wewenang untuk membentuk suatu pemerintahan darurat. 

Sehingga setelah itu, dibentuklah Kabinet Darurat dengan Sjafruddin Prawiranegara yang bertindak sebagai Perdana Menteri dan Ir. Indratjaja sebagai Menteri Perhubungan yang juga merangkap sebagai Menteri Kemakmuran. 

Sementara itu, sejak awal kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan Belanda atas Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1949-an, Departemen Perhubungan memiliki wewenang untuk mengatur perhubungan laut, udara, darat, perkeretaapian, pos, telegraf, dan telekomunikasi.

Kemudian masing-masing sektor tersebut pun diurus oleh jawatan-jawatannya sendiri yang berada di bawah struktur organisasi Departemen Perhubungan. Di era 1945 s.d 1949, titik berat yang menjadi perhatian Departemen Perhubungan adalah perhubungan darat. 

Karena, diantara beberapa sektor perhubungan lainnya seperti laut maupun udara, saat itu masih belum bisa menjadi sarana yang optimal. Pada masa itu, angkatan laut masih terbatas jalur operasinya dikarenakan sebagian besar wilayah lautan Indonesia dikuasai tentara sekutu, termasuk Belanda. Sehingga hubungan interinsuler berada dalam kekuasaan mereka. 

Pada masa itu juga, perkeretaapian menjadi perhatian utama dalam mengelola perhubungan darat, dikarenakan bisa dikatakan jaringan angkutan darat lainnya seperti bus, truk, mobil tidak ada. Semua alat angkut bermotor kala itu masih dikuasai Jepang. 

Di sisi lain, pembenahan perkeretaapian sebagai sarana darat utama saat itu juga ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan, sebab tingkat kerusakan kereta api sendiri terbilang cukup signifikan. 

Pada masa Demokrasi Liberal itu, Departemen Perhubungan secara kelembagaan kembali mengalami perubahan, yakni dengan dibentuknya Departemen Perhubungan Laut pada masa Kabinet Djuanda. 



Baca: Sekelumit Tentang Patung Garuda Wisnu Kencana


Dengan adanya departemen itu, maka urusan laut yang sebelumnya menjadi tanggung jawab Departemen Perhubungan, menjadi terpisah dan ditangani secara mandiri oleh Departemen Perhubungan Laut. 

Dalam rangka menguasai pelayaran secara menyeluruh, pada 1952-an, Ir. Djuanda selaku Menteri Perhubungan menetapkan berdirinya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang mulai beroperasi dengan 16 buah kapal milik Perpuska dan 45 kapal yang baru dibeli.

Berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 153 tanggal 10 Juli 1959, Presiden Soekarno pun kemudian membentuk kabinet baru yang dikenal dengan sebutan Kabinet Kerja I. Dalam Kabinet Kerja I inilah terjadi perubahan dalam struktur pemerintahan negara. 

Istilah Departemen Perhubungan tidak lagi digunakan dan diganti dengan sebutan Kementerian Distribusi dan J. Leimena ditunjuk sebagai Menterinya. Perubahan yang cukup signifikan bagi Departemen Perhubungan terjadi pada masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin ini. 

Pada era ini, urusan perhubungan laut, udara, dan darat serta komunikasi tidak lagi berada secara keseluruhan di bawah wewenang Departemen Perhubungan, akan tetapi menjadi terpecah-pecah ke dalam beberapa Departemen yang baru terbentuk pada era tersebut. 

Bahkan nama Departemen Perhubungan dalam Kabinet Kerja I juga tidak lagi digunakan dan diganti dengan istilah Bidang Distribusi yang menangani perhubungan laut, perhubungan darat, pos, dan telekomunikasi, perhubungan udara serta perdagangan. 

Memasuki masa Kabinet Kerja II, urusan perhubungan pun berada di bawah bidang distribusi yang terdiri dari Departemen Perhubungan Darat, Pos dan Telekomunikasi, Departemen Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan Udara, dan Departemen Perdagangan. 

Sementara dalam Kabinet Kerja IV, istilah Bidang Distribusi resmi diganti dengan nama Kompartemen Distribusi yang antara lain terdiri dari Departemen Perhubungan Darat, Pos dan Telekomunikasi, Departemen Perhubungan Laut dan Departemen Perhubungan Udara. 

Sedangkan pada masa Kabinet Dwikora, perhubungan laut tidak lagi masuk lagi dalam Kompartemen Distribusi. Akan tetapi dibentuk menjadi kompartemen sendiri yaitu Kompartemen Maritim yang meliputi Departemen Perhubungan Laut, Departemen Perikanan dan Pengolahan Produksi Hasil Laut, serta Departemen Industri Maritim. 

Dalam Kabinet Dwikora yang Disempurnakan I terjadi lagi perubahan, yakni terpisahnya urusan pos dan telekomunikasi dengan perhubungan darat. Dalam kabinet ini juga turut dibentuk departemen baru yaitu Departemen Pos dan Telekomunikasi dibawah Kompartemen Distribusi. 

Selanjutnya dalam susunan Kabinet Dwikora yang disempurnakan II, lagi-lagi terjadi perubahan. Urusan-urusan perhubungan yang sebelumnya didistribusikan dalam beberapa departemen, akhirnya disatukan kembali dalam Departemen Perhubungan. 

Penataan demi penataan yang dilakukan dalam Departemen Perhubungan tersebut menyesuaikan struktur dan citranya, sehingga membuat Departemen Perhubungan menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Bahkan, konsolidasi yang dilakukan sejak 1945 sampai dengan sekarang mampu menghasilkan sebuah Departemen yang besar.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sekelumit Tentang Patung Garuda Wisnu Kencana

Koropak.co.id, 22 September 2022 07:35:30

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Bali - Tepat hari ini, empat tahun lalu, Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) diresmikan oleh Presiden Jokowi. 

Patung GWK penuh sejarah. Proses pembangunannya memakan waktu 28 tahun. Hingga 22 September 2018 silam, patung setinggi 121 meter itu sudah bisa dinikmati keelokannya.

Luas lahan pembangunan Patung GWK ini sekitar 60 hektare, tepatnya di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali akhirnya resmi berdiri setelah 28 tahun lamanya dibangun.

Kala itu, Sabtu 22 September 2018 malam, peresmian Patung GWK dilakukan secara langsung oleh Presiden Jokowi di kawasan GWK Cultural Park, Bukit Ungasan.

Patung GWK berhasil menjadi patung tertinggi ketiga di dunia setelah The Spring Temple Buddha yang ada di China dan The Laykyun Sekkya Buddha yang ada di Myanmar. 

Proses pembuatan patung GWK ini selama 28 tahun. Dikerjakan oleh seniman pematung sekaligus desainer I Nyoman Nuarta. Teknik pembuatan patung tembaga tersebut, menggunakan teknik cor las untuk 754 modul dan salah satu modulnya berukuran 4x3 meter dengan berat kurang lebih satu ton.

Patung GWK yang melebihi tinggi Patung Liberty di Amerika Serikat ini pernah melibatkan 1.000 pekerja meliputi, 400 pekerja di Bandung dan 600 pekerja di Bali. 

Sebagai informasi, Garuda Wisnu Kencana merupakan wujud dari Dewa Wisnu yang sedang mengendarai seekor Garuda. 

Dalam agama Hindu, Dewa Wisnu merupakan Dewa Pemelihara atau Sthiti. 

Filosofi ini yang dipegang erat oleh pembuat patung I Nyoman Nuarta, bahwa selama membuat patung GWK penuh kesakralan.

Proses pembuatannya dipenuhi semangat spiritual, maka sang pembuat, pada 4 Agustus 2018, yakni beberapa pekan sebelum peresmian, menggelar acara syukuran bertajuk "Swadharma Ning Pertiwi" untuk merayakan penyelesaian pembuatan patung. 

Swadharma Ning Pertiwi itu memiliki arti persembahan seseorang kepada tanah kelahirannya. Perayaan dan syukuran yang dilakukan I Nyoman Nuarta tersebut juga menjadi peringatan terhadap perjuangan panjang I Nyoman Nuarta sebagai pematung.



Baca: Jadi Tempat Makan Delegasi KTT G20, Begini Sejarah Garuda Wisnu Kencana


Membutuhkan waktu selama 28 tahun untuk menyelesaikan patung GWK, membuat pembangunan patung ini pun berlangsung dalam empat era kepemimpinan presiden Indonesia. Sementara itu, untuk ide awal membangun patung GWK sendiri muncul pada 1989-an saat I Nyoman Nuarta bertemu dengan dua menteri di zaman Presiden Soeharto, yakni Joop Ave dan IB Sujana, serta Gubernur Bali, Ida Bagus Oka.

Pada awal 1990-an, rencana pembangunan yang dipresentasikan disetujui oleh Presiden Soeharto. Sehingga pada 1997-an, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Cultural Park GWK di Bukit Ungasan Jimbaran. Saat itu, pembuatan keping-keping GWK melibatkan sekitar 120 seniman.

Sedangkan untuk lokasi tempat dibangunnya Cultural Park GWK sendiri merupakan bekas lahan penambangan kapur liar yang sudah tidak produktif lagi dan ditinggalkan dalam keadaan yang kurang baik. Sayangnya, dalam pembangunannya I Nyoman Nuarta mengalami krisis ekonomi dan minimnya anggaran hingga membuatnya harus menjual 80 persen kepemilikan modalnya.

Namun setelah mendapatkan suntikan dana, pada 2013, Patung GWK secara resmi mulai dibangun kembali dan baru rampung pada di era Presiden Jokowi pada Agustus 2018. Dengan tingginya yang mencapai 121 meter, membuat Patung GWK ini dapat terlihat dari Pantai Kuta Sanur, Nusa Dua, hingga Tanah Lot.

Tak hanya itu saja, Selain tempat berdirinya patung, GWK juga menjadi sebuah taman wisata di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali yang berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut. Di taman wisata tersebut juga ada area terbuka seluas 4.000 meter persegi yang disebut dengan "Lotus Pond".

Terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. membuat Patung GWK  menjadi patung tembaga terbesar di dunia yang dikerjakan dengan hanya menggunakan teknik pengelasan dan peralatan sederhana. 

Pasalnya, ada 754 modul yang dilas dan dirangkai oleh para seniman untuk membentuk patung GWK secara utuh. Selain merupakan wujud dari Dewa Wisnu, Patung GWK ini juga menjadi simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menguak Sejarah Car Free Day, Di Indonesia Digelar Pada 2007

Koropak.co.id, 21 September 2022 15:17:04

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - World Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) merupakan salah satu hari penting internasional yang diperingati setiap 22 September. HBKB sendiri diperingati dengan tujuan untuk mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor selama satu hari.

Dalam perayaannya, masyarakat pun bisa berjalan kaki atau menggunakan transportasi bebas polusi, seperti sepeda, skateboard, sepatu roda, skuter atau mulai menggunakan transportasi umum bagi mereka yang perlu melakukan perjalanan jauh. Lantas, bagaimana sejarah awalnya?

Berbicara mengenai sejarahnya, peringatan HBKB sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak 1950-an, tepatnya pada saat berbagai kalangan melakukan aksi protes terhadap penggunaan kendaraan bermotor khususnya mobil. Pasalnya, kendaraan bermotor khususnya mobil kala itu memberikan dampak buruk bagi lingkungan. 

ketika mobil dianggap sebagai gangguan lingkungan kota yang menyebabkan polusi. Banyak orang yang melakukan protes atas kondisi tersebut karena dinilai merusak lingkungan.

Pada 1956-an, Belanda dan Belgia pun untuk pertama kalinya mengadakan Car Free Sundays untuk mengurangi pemakaian kendaraan bermotor dalam satu hari. Selanjutnya pada 1990-an, banyak kota di Eropa juga mulai mengadakan Car Free Project.



Baca: Dari Hutan Belantara, Lapangan Banteng Jakarta Beberapa Kali Ganti Nama


Kemudian pada 1993-an, Asosiasi Transportasi Lingkungan Inggris mengadakan Car Free Day atau hari bebas kendaraan dan proyek ini diikuti beberapa negara di dunia mulai dari Italia, Prancis, Spanyol, dan Amerika Selatan. 

Kepopuleran Car Free Day pun semakin meningkat. Bahkan pada 2000, Hari Bebas Kendaraan bermotor juga hadir di Amerika Selatan dengan Car Free Program terluasnya yang diadakan di Bogota, Columbia. Tak berhenti sampai disana saja, pada 22 September 2000, European Car Free Day juga turut diadakan.  

Sejak saat itulah, Hari Bebas Kendaraan Bermotor menjadi acara tahunan di 46 negara dan 2.000 kota di seluruh dunia, termasuk juga di Jakarta, Indonesia yang mulai ikut menyelenggarakan Car Free Day pada September 2007.

Saat Car Free Day berlangsung, jalan utama ibu kota pun akan ditutup dan digunakan untuk berbagai aktivitas olahraga, seperti berjalan-jalan, jogging, atau bersepeda.

Diketahui, di Indonesia, Car Free Day pertama kalinya diadakan di sepanjang jalan dari Bundaran Senayan, Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, hingga Monumen Nasional, Jakarta Pusat.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Peradaban Nenek Moyang Indonesia yang Sejalan dengan Prinsip Sustainable Development

Koropak.co.id, 21 September 2022 07:09:15

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam suku, bahasa serta karakter yang berbeda-beda di setiap daerah tempat tinggal penduduknya. Namun sejarah menyatakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia tergolong dalam ras Austronesia atau rumpun Melayu. 

Diketahui, persebaran nenek moyang Indonesia sendiri diperkirakan berasal dari wilayah Selatan Tibet. Teori ini pun dikenal sebagai teori Yunnan. Teori ini menyatakan bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunnan, wilayah yang berada di Tiongkok Selatan.

Teori ini juga bahkan didukung oleh pernyataan Mohammad Ali yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Mongol yang terdesak oleh bangsa yang lebih kuat, sehingga mereka melakukan migrasi ke Selatan.

Tak hanya itu saja, R H Geldern dan J H C Kern juga turut mendukung teori ini dengan bukti adanya kapak tua di wilayah bangsa Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ada di Asia Tengah. Sehingga dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penduduk Asia Tengah melakukan migrasi ke kepulauan Nusantara.

Namun, ada juga teori lainnya dan dikenal Teori Nusantara yang menjelaskan bahwa asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia itu sendiri. Teori ini dilandasi oleh beberapa argumen, salah satunya menyebutkan bahwa Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. 

Peradaban itu sendiri tentunya tidak mungkin bisa dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan sebelumnya. Teori ini pun diperkuat dengan dukungan Muhammad Yamin, Gorys Keraf, dan J Crawford.

Teori Nusantara juga didukung dengan adanya kesamaan antara bahasa Melayu dengan bahasa Kamboja yang dinilai merupakan suatu kebetulan. Kemudian, penemuan Homo soloensis dan Homo wajakensis di Pulau Jawa memberikan tanda bahwa ada peluang bangsa Melayu merupakan keturunan manusia kuno yang berasal dari Jawa. 

Di sisi lain, ada teori lain yang menyatakan bahwa manusia Indonesia berasal dari Afrika dan teori ini pun dikenal dengan Teori Out of Africa. Teori ini tercipta berdasarkan kajian ilmu genetika melalui penelitian DNA mitokondria gen wanita dan gen pria. Mereka juga diketahui bermigrasi dari Afrika hingga ke wilayah Australia. 

Teori Out of Africa ini juga menyebutkan bahwa manusia Afrika melakukan perpindahan dari Afrika menuju Asia Barat sekitar 50.000 s.d 70.000 tahun yang lalu. Dalam teori ini, disebutkan bahwa sekitar 70.000 tahun yang lalu, bumi memasuki akhir dari zaman glasial ketika permukaan air laut menjadi lebih dangkal karena disebabkan oleh air yang masih berbentuk gletser. 



Baca: Zaman Glasial dan Interglasial; Awal Mula Kehidupan


Pada masa itulah, memungkinkan manusia dapat menyeberangi lautan hanya dengan menggunakan perahu yang masih sederhana. Bahkan berdasarkan pernyataan seorang ahli dari Amerika Serikat, Max Ingman, manusia modern yang ada saat ini berasal dari Afrika, antara kurun waktu 100 s.d 200 ribu tahun lalu. 

Terakhir ada Teori Out of Taiwan yang menyebutkan bahwa asal-usul bangsa Indonesia berasal dari Taiwan, dan bukan dari Daratan China. Teori ini juga bahkan didukung oleh Harry Truman Simanjuntak.

Menurut pendekatan linguistik, dari keseluruhan bahasa yang dipergunakan suku-suku di Nusantara itu memiliki rumpun yang sama, yaitu rumpun Austronesia, dan rumpun tersebut dikenal dengan rumpun Taiwan. Rumpun itu juga digunakan oleh leluhur bangsa Indonesia yang menetap di Pulau Formosa.

Terlepas dari semua teori yang beredar tersebut, peradaban nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip sustainable development saat ini, yakni memanfaatkan sumber daya alam sebaik mungkin sehingga tidak ada pemborosan dan tidak merusak lingkungan. 

Manusia zaman dahulu terkenal hidup secara berpindah-pindah atau nomaden dikarenakan kemampuan mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam masih sangat terbatas. Mereka juga memiliki dua ciri khas pola hunian, yakni kedekatan dengan sumber air dan kehidupan di alam terbuka. 

Namun dalam perkembangan selanjutnya, manusia mulai hidup semi nomaden dengan cara tinggal di dalam gua. Mereka terkadang menetap di gua-gua alam, lalu berpindah lagi apabila persediaan makanan disekitar tempat tinggalnya telah habis. 

Biasanya, pemilihan gua sebagai tempat tinggalnya dipengaruhi dua faktor, yakni kondisi di sekitar yang tidak terlalu lembap dan dekat dengan sumber air, serta faktor ketersediaan sumber makanan. 

Selain gua, manusia juga turut memanfaatkan bentukan alam seperti lembah sungai dan kawasan karst pantai. Pada masa itu, mereka juga menjadikan gua sebagai tempat tinggal untuk menghindari dari serangan hewan buas. Memasuki zaman praaksara, manusia pun hidup dalam tiga periode, yaitu masa berburu dan meramu, masa bercocok tanam, dan masa perundagian.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Dari Tukang Kiridit, untuk Bantu Ekonomi Sulit

Koropak.co.id, 20 September 2022 12:12:22

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Siapa yang meragukan fakta ini. Bahwasanya Tasikmalaya merupakan tempat asal para mindring atau yang lebih dikenal dengan sebutan tukang kiridit atau kredit. 

Identitas tersebut masih melekat sampai dengan sekarang. Buktinya memang demikian. Kota-kota besar di Indonesia kerap diisi para pegiat kredit yang berasal dari Tasikmalaya.

Para perantau dari Kota Santri tersebut sempat merajai jalanan hingga gang-gang di Ibu Kota Jakarta. Namun ada juga yang bahkan berkelana jauh ke luar tempat tinggalnya. 

Lantas, bagaimana awalnya profesi mindring ini menjadi identitas dan tradisi turun temurun warga Tasikmalaya, hingga berperan dalam menggerakan ekonomi?

Biasanya, mindring sendiri menjadi salah satu solusi bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya akan pakaian, hingga perabotan rumah tangga. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mindring merupakan cara penjualan barang yang pembayarannya dapat dilakukan secara berangsur. 

Jadi, nantinya pembeli pun tidak harus menyediakan uang sejumlah harga barang, melainkan melakukan pencicilan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Usaha mindring ini juga lebih banyak dijumpai di lingkungan masyarakat menengah ke bawah,  khususnya masyarakat desa yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. 

Pasalnya, mereka juga tidak memiliki gaji bulanan, dan hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan komoditas pertanian. Oleh karena itulah, petani di pedesaan pun pada umumnya mengandalkan mindring sebagai upaya dalam mencukupi kebutuhan perabotan rumah dan juga pakaiannya. 

Mereka menilai, bahwa dengan membeli berbagai barang menggunakan sistem cicilan seperti itu, dirasa jauh lebih ringan dibandingkan harus membeli secara tunai. 

Di masa lalu, mindring atau tukang kiridit umumnya identik dengan keranjang barang yang dipikul atau yang bertengger di boncengan belakang sepeda kumbang. 

Namun seiring berjalannya waktu, saat ini ciri khas tersebut sudah sulit sekali untuk ditemukan. Kebanyakan saat ini tukang kiridit hanya sekadar membawa kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan dengan tas kecil hitam yang diselempangkan. Ada juga yang menggunakan sepeda motor sambil menempatkan sedikit barang di jok belakang sebagai pemancing.

Meskipun begitu, awal mula keberadaan tukang kiridit di atau dari Tasikmalaya juga tidak bisa dipastikan. Karena keberadaan tukang kiridit itu hanya didasarkan pada sumber-sumber lisan yang menyebutkan bahwa asal-usul tukang kiridit berasal dari Tasikmalaya.

Berdasarkan catatan sejarahnya, profesi tukang kiridit sebagai salah satu aktivitas sekaligus penggerak ekonomi pertama kalinya diperkenalkan oleh para pendatang dari Cina atau orang Tionghoa sekitar 1920-an. Saat itu, para pedagang Tionghoa Peranakan memanfaatkan modernisasi yang tengah berlangsung di masa penjajahan kolonial Belanda.

Para pedagang Tionghoa Peranakan itu pun biasanya akan berkeliling dari kampung ke kampung sambil membawa barang dagangan, terutama kain dan pakaian jadi yang ditawarkan kepada para pembeli yang kebanyakan berasal dari kaum pribumi.



Baca: Tempat Simpan Uang Disebut Celengan, Ada Hubungan dengan Babi?


Pedagang Cina itu juga akan berkeliling sambil membunyikan sebuah alat bernama klonthong. Oleh sebab itulah, mereka sering disebut juga sebagai pedagang klonthong. Menariknya, barang-barang tersebut dijual dengan sistem pembayarannya yang dilakukan dengan cara dicicil.

Pedagang klonthong pun menyediakan pilihan untuk membayar secara kredit, dan nantinya pembeli bisa mengangsur barang yang dibelinya. Tak dapat dipungkiri, ternyata strategi ini sangat membantu sekali masyarakat yang saat itu kondisi ekonominya sulit.

Cara berdagang yang diperkenalkan oleh para pedagang klonthong ini selanjutnya disebut juga sebagai minderingan. Biasanya, barang-barang yang pada umumnya dijual dengan sistem kredit ini contohnya pakaian dan perabotan rumah tangga. Beruntungnya lagi, pembeli juga tak perlu melakukan perjanjian secara resmi dengan pedagang. 

Sebab, biasanya para pedagang klonthong ini memiliki buku catatan yang berisi nama pembeli beserta tagihannya. Kemudian dalam beberapa hari sekali, pedagang akan datang ke rumah pembeli untuk melakukan penagihan. Setiap barang yang dijual oleh pedagang klonthong itu biasanya dapat diangsur hingga 10 kali. 

Mereka juga akan melakukan penagihan satu minggu sekali dengan mendatangi rumah pembeli satu per satu. Di sisi lain, bunga untuk setiap barang yang dijual juga tidak terlalu besar, yakni rata-rata kurang dari 10 persen. Setiap satu orang pedagang klonthong juga memiliki area kerjanya sendiri yang mencakup wilayah 5 hingga 6 desa. 

Pembagian wilayah tersebut sudah diatur sendiri dan disepakati oleh para pedagang klonthong. Siapa sangka, penjualan barang dengan sistem kredit atau mindring ini berhasil memberikan keuntungan, baik bagi pihak pedagang maupun pembeli. Selain itu, pedagang juga akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar meskipun harus menunggu hingga pembeli dapat melunasi kreditnya.

Di samping itu juga, pembayaran yang dinilai ringan tersebut, membuat barang yang dijual akan menjadi lebih cepat laku. Sehingga dengan begitu, perputaran barang dagangan pun akan menjadi lebih lancar. Sementara dari sisi pembeli, sistem mindring juga memberikan keuntungan, salah satunya dapat memenuhi kebutuhan akan barang-barang tanpa harus merasa terbebani dengan pembayarannya.

Seiring perkembangan zaman, sistem mindring atau kiridit ini masih tetap digunakan sampai dengan saat ini, baik itu di daerah pendesaan maupun wilayah perkotaan. Tidak hanya perseorangan, saat ini juga sudah banyak badan usaha yang fokus menggunakan sistem ini, contoh yang paling nyata adalah perusahaan leasing.

Berkat adanya sistem mindring di masa lalu, kini masyarakat pun bisa membeli barang-barang yang berharga mahal dengan cara yang lebih ringan. Praktik mindring juga saat ini sudah bermetamorfosis dari sistem yang sangat sederhana menjadi lebih sistematis dan modern. 

Bahkan, sistem mindring juga ternyata turut serta dalam membantu berputarnya roda perekonomian Indonesia, baik di lingkungan pedesaan maupun perkotaan.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Menelusuri Sejarah Perdagangan Nusantara Pada Zaman Kerajaan

Koropak.co.id, 20 September 2022 07:03:52

Eris Kuswara


Koropak.co.id, Jakarta - Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat Asia Tenggara sudah mengenal sistem pelayaran dan perdagangan. Bahkan ada istilah yang menyebutkan bahwa nenek moyang Nusantara adalah seorang pelaut, hingga kata-kata tersebut juga sampai dibuat menjadi lagu untuk anak-anak.

Istilah nenek moyang Nusantara adalah seorang pelaut itu juga didukung dengan keadaan wilayah Indonesia khususnya lautannya yang lebih luas dibandingkan dengan daratannya.

Selain itu, pelayaran para nenek moyang Nusantara pada masa lampau juga bisa dikatakan ekstrem, karena menggunakan perahu yang tidak bisa dikatakan besar bahkan kecil untuk mengarungi sebuah samudra yang luas.

Namun dalam pelayarannya ke timur, para pedagang dan pelaut Nusantara di zaman bahari justru bisa mencapai Hawaii dan Selandia baru yang berjarak lebih dari 2.000 mil. Sementara itu, secara geografis, letak kepulauan Nusantara juga sangat strategis dalam konteks perdagangan laut internasional, karena terletak di antara dunia barat dan dunia timur. 

Indonesia juga memiliki letak yang strategis dikarenakan terletak di tengah-tengah kawasan barat dan timur. Bahkan selama berabad-abad, Indonesia mampu mengontrol Selat Malaka sebagai kunci perdagangan laut antara barat dan timur. Seperti yang diketahui dalam perkembangannya, Selat Malaka berhasil dikuasai oleh kerajaan di Nusantara yakni Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. 

Bahkan, produknya berupa cengkeh, pala, kayu cendana, kayu sapan, kamper, hingga pernis, berhasil mendapatkan pasaran sejak zaman Romawi dan Han. Tak hanya itu saja, banyak bukti tentang perdagangan maritime yang dilakukan oleh bangsa Indonesia pada masa lalu. 

Terutama kerajaan-kerajaan di Nusantara yang mempunyai kota pelabuhan besar seperti Kerajaan Sriwijaya yang juga dikenal sebagai Negara Maritim dikarenakan letaknya yang strategis. Pada rentang abad ke-7 s.d ke-9, Kerajaan Sriwijaya ikut andil dalam Perdagangan Internasional. 

Saat itu, Kerajaan Sriwijaya memegang peranan penting dalam perdagangan Asia. Hal itu dibuktikan dengan kunjungan dari para pedagang Tiongkok yang akan berlayar ke Timur Tengah dan India begitu pun sebaliknya ke pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. 

Di masa lalu juga, banyak kerajaan yang berlomba-lomba dalam memenuhi kepentingan ekonomi dan kemakmurannya selain mengandalkan apa yang mereka miliki saat itu yakni bercocok tanam, beternak hewan baik yang ada di perairan ataupun di daratan dan masa itu pun disebut dengan masa perdagangan Nusantara.

Oleh karena itulah, untuk memenuhi dan melebihkan pundi-pundi kekayaannya, kerajaan-kerajaan saat itu melakukan perdagangan. Namun awalnya perdagangan tersebut hanya dilakukan di sekitaran daerah Nusantara saja, akan tetapi lama kelamaan meluas hingga ke wilayah Asia yang dalam konteks notabenenya bukan wilayah kekuasaan kerajaan Nusantara.

Selain itu, dikarenakan Indonesia saat itu belum terbentuk menjadi suatu Negara, maka kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara pun memiliki pemimpin dan sistem pemerintahan sendiri. Kemudian juga mereka memiliki cara bagaimana mereka bisa mengurus dan memenuhi kebutuhan bagi masyarakatnya. 

Salah satunya Kerajaan Sriwijaya yang letaknya dekat dengan laut. Oleh karena itulah kerajaan tersebut dijuluki juga sebagai Negara Bajak Laut yang memenuhi kebutuhannya dengan dunia kemaritiman. Selain itu juga, ada kerajaan yang berada di pedalaman, yakni Kerajaan Majapahit yang dikenal sebagai Kerajaan Agraris namun meluas hingga memanfaatkan dunia kemaritiman. 

Masing-masing kerajaan itu pastinya memiliki penghasilan yang berbeda dengan kerajaan lainnya. Contohnya Kerajaan Sriwijaya yang kaya dari hasilnya yang berasal dari kelautan. Sedangkan Kerajaan Majapahit, memiliki suatu komoditas yang berasal dari daratan.



Baca: Bogor, Berawal dari Ibu Kota Kerajaan Padjadjaran


Selain dari perbedaan wilayah antara laut dengan darat, ada juga perbedaan teritorial yang menghasilkan perbedaan komoditas antar kerajaan, seperti daerah yang dekat pantai, darat, pegunungan, atau hutan-hutan. Maka dari itulah, dengan perbedaan yang mencolok tersebut, terbentuklah perbedaan komoditas yang dimiliki masing-masing kerajaan.

Perbedaan itu juga membuat adanya jiwa untuk bertukar barang yang dimiliki dengan kerajaan lain. Bahkan hal ini juga terjadi di luar kerajaan yang ada Nusantara hingga menciptakan perdagangan yang bersifat nasional hingga internasional. 

Di sisi lain, kerajaan besar di Nusantara memiliki kekuatan terhubung secara politik. Sehingga, kerajaan yang besar dan kuat itu tentunya akan menguasai wilayah-wilayah yang luas di Nusantara hingga mampu mengontrol politik wilayah sekitarnya. 

Hubungan kerajaan adigdaya di Nusantara dengan kerajaan dibawahnya juga hanya berlangsung dalam bentuk hubungan hak dan kewajiban yang saling menguntungkan. Kerajaan besar pun memiliki kuntungan berupa pengakuan simbolik seperti kesetiaan dan pembayaran upeti berupa barang yang digunakan kerajaan dan untuk diperdagangkan skala internasional. 

Sedangkan keuntungan yang didapatkan kerajaan kecil adalah perlindungan dan rasa aman, sekaligus kebanggaan atas hubungan tersebut. Jika kerajaan besar sudah tidak bisa memberikan rasa aman, kebanyakan kerajaan kecil biasanya akan melakukan pembangkangan dan berpindah ke kerajaan besar lainnya. Hubungan tersebut semakin mengukuhkan Nusantara sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh kekuatan politik dan dagang.

Sementara itu, Vadime Elisseeff dalam bukunya "The Silk Roads: Highways of Culture and Commerce (2000)" menuliskan bahwa sejak abad ke-5, Indonesia sendiri sudah dilintasi jalur perdagangan laut antara India dan China. Diketahui, jalur perniagaan dan pelayaran melalui laut tersebut dimulai dari Cina menuju Kalkuta, India. 

Di mana jalur itu juga melalui Laut Cina Selatan kemudian Selat Malaka. Setelah sampai India, jalur itu kemudian berlanjut ke Teluk Persia melalui Suriah. Jalur perdagangan pun berlanjut ke Laut Tengah melalui Laut Merah sampai ke Mesir menuju Laut Tengah. 

Melalui Selat Malaka, Indonesia terlibat jalur perdagangan dalam hal rempah-rempah. Posisi Indonesia juga dinilai cukup strategis dan memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Oleh karena itulah, Indonesia menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting pada jalur perdagangan Timur Tengah dan semenanjung Arab dengan Selat Malaka.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Barat, para pedagang Nusantara sudah memperdagangkan rempah-rempah yang berasal dari Banda, dan Maluku, ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Nusantara hingga sampai ke India dan Afrika. Wilayah perdagangan Asia Tenggara pada masa itu juga terkenal sangat ramai. 

Sehingga membuat beragam komoditas pun diperdagangkan, mulai dari rempah-rempah, porselen, sutra, sampai dengan budak-budak zanggi dari Afrika. Di Nusantara, berbagai komoditas yang menyebar di Asia Tenggara itu juga kemudian tersebar hingga ke Cina, Jazirah Arab, Eropa, bahkan Afrika. 

Menariknya, sebelum mengenal uang, pada masa itu alat yang digunakan sebagai alat penukaran adalah kerang, manik-manik, moko atau genderang, dan belincung atau cangkul bermata dua.

Barulah pada abad ke-9 s.d ke-16, beberapa Kerajaan Nusantara secara resmi mengeluarkan uang logam yang terbuat dari emas, timah, perak, serta tembaga. Saat itu, maraknya perdagangan pun bisa diketahui dari banyaknya peredaran uang tembaga kasha yang dibawa oleh pedagang Cina di Nusantara.

Seiring berjalannya waktu, rempah-rempah pun kemudian berhasil menjadi komoditas utama perdagangan di Nusantara. Bahkan, rempah-rempah jugalah yang menjadi penarik bangsa Eropa untuk datang ke bumi Nusantara.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Indonesia Produsen Sawit Terbesar di Dunia, Berawal dari 4 Benih

Koropak.co.id, 19 September 2022 12:13:48

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta - Indonesia memang merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tapi ada satu fakta menarik yang belum diketahui banyak orang. Fakta itu adalah awal mula tanaman asal Afrika itu masuk Nusantara.

Cerita bermula dari pelaut dari Portugis yang berlayar ke Afrika pada 1466-an. Pengembaraan yang dilakukan saat itu bertujuan untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas mahal di seluruh dunia. 

Pelaut Portugis itu singgah di Pantai Gading, dan di sana mereka menyaksikan penduduk setempat telah akrab dengan olahan kelapa sawit. Bibit biji dari kelapa sawit itu dibawa ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Hindia Belanda.

Pada 1848, pemerintah Hindia Belanda mendatangkan empat benih sawit ke Nusantara dan ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit itu tumbuh dengan subur. Melihat keberhasilan itu, pada 1858, Sekretaris Kantor Kolonial Belanda di Hindia Belanda mengajak Pemerintah Belanda untuk menanam kelapa sawit di Indonesia. 

Sebanyak 146 lot benih kelapa sawit pun didistribusikan ke Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Pendistribusian kelapa sawit itu juga semakin meluas dan menjangkau ke beberapa daerah. 

Penanaman kelapa sawit mulai merambah ke sejumlah daerah yang lebih luas di Indonesia. Di sisi lain, bibit kelapa sawit yang tertanam di Kebun Raya Bogor juga tumbuh dengan sempurna. Bahkan, benih kelapa sawit dari Kebun Raya Bogor itu pun kemudian dikirim ke Sumatra. 

Pada 1875-an, kelapa sawit yang dibawa ke Sumatra untuk menjadi tanaman hias di pinggir jalan, ternyata tumbuh subur di Deli, Sumatra Utara. Tiga tahun kemudian, 1878, Kebun Raya Bogor membuat terobosan dengan merancang kelapa sawit sebagai tanaman hias atau yang dikenal dengan economic garden. Sayangnya upaya tersebut tidak berjalan mulus, dikarenakan pengembangan kelapa sawit ini tidak mendapatkan dukungan dari Pemerintah Belanda.



Baca: Rotan, Barang Mewah yang Jadi Alat Diplomasi Politik


Namun, penelitian mengenai kelapa sawit terus dilakukan. Riset awal dilakukan dengan melibatkan warga lokal. Riset tersebut dilakukan oleh lembaga Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra (AVROS).

Awalnya, AVROS terbentuk dari ide asosiasi pemilik, pekebun, dan pedagang karet di Pantai Timur Sumatra yang pada masa itu berinisiatif untuk membangun pusat penelitian tersendiri dengan membeli tanah di Kampoeng Baroe, Medan. 

Dalam perjalanannya, AVROS banyak melakukan penelitian tentang kelapa sawit, salah satunya mengenai irisan penampang buah kelapa sawit. Penemuan itu dilakukan untuk mengetahui asal benih kelapa sawit yang terdapat di Pantai Timur Sumatra. 

Pada 1911-an, perusahaan Belgia membuka usaha perkebunan kelapa sawit komersial pertamanya di Indonesia tepatnya di Pulau Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh). Kemudian di tahun yang sama juga, perusahaan Jerman pun turut membuka usaha perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Tanah Itam Ulu (sekarang Kabupaten Batubara).

Ramainya industri margarin pada 1870-an, ternyata ikut berperan dalam terjadinya penanaman yang dilakukan secara besar-besaran. Tercatat hingga 1980-an, luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 200 ribu hektar dan itu juga masih merupakan warisan dari perkebunan era kolonial Hindia Belanda.

Dalam kurun waktu 30 tahun lamanya, luas perkebunan itu terus bertambah. Seperti pada 2009, perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 7,2 hektar. Selain itu, ada perkiraan yang menyebutkan bahwa pada 2014, luas perkebunan kelapa sawit akan mencapai 10 juta hektar. 

Kementerian Pertanian mencatat, luas perkebunan minyak kelapa sawit pada 2021 telah mencapai 15,08 juta hektare. Lahan kelapa sawit itu menjadi sebuah peluang ekonomi yang menyerap 2,8 juta orang Indonesia sebagai tenaga kerjanya. 


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Kakao di Indonesia, Awalnya Dibawa Bangsa Spanyol

Koropak.co.id, 19 September 2022 07:22:26

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta - Kakao atau theobroma cacao merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan. Biji dari tumbuhan dibuat produk olahan yang dikenal dengan sebutan cokelat. Kakao menjadi komoditas perkebunan yang dimanfaatkan sejak berabad silam. 

Penduduk pertama yang menggunakan kakao sebagai bahan makanan dan minuman adalah suku Indian Maya dan suku Aztek (Aztec). Mereka memanfaatkan kakao sebelum orang kulit putih di bawah pimpinan Christopher Colombus menemukannya di Amerika. 

Indian Maya merupakan suku yang mendiami wilayah yang kini disebut Guatemala, Yucatan, dan Honduras (Amerika Tengah). Konon pada zaman dahulu, suku Aztek ingin menaklukkan dan menguasai kebun kakao milik suku Maya. Mereka belajar bagaimana cara menanam, merawat, dan mengolah kakao menjadi bahan makanan atau minuman. 

Pada 1591-an, bangsa Spanyol pun datang ke suku Aztek dan melihat bagaimana cara mereka menanam kakao. Mulai dari sanalah bangsa Spanyol mengira bahwa suku Aztek merupakan orang yang pertama menanam, mengembangkan, serta mengolah kakao menjadi bahan makanan dan minuman.

Namun, pada masa itu orang Spanyol tidak menyukai hasil olahan kakao yang dibuat oleh suku Aztek. Mereka lantas mencoba mengolah kakao dengan caranya sendiri, yaitu dengan menumbuk dan menambahkan pemanis yang terbuat dari air tebu. 

Pengolahan dengan cara itu ternyata mampu menghasilkan minuman yang memiliki cita rasa lebih lezat. Sedangkan suku Aztek dan Maya sendiri mengolah kakao menjadi minuman bercita rasa pahit dan pedas, dikarenakan biji kakaonya dicampur dengan cabai. 

Orang-orang Spanyol yang dapat mengolah biji kakao menjadi makanan dan minuman baru yang lezat itu pun membuat cokelat menjadi cepat terkenal di Spanyol. Pengenalan kakao semakin meluas di seluruh Eropa. Pabrik cokelat juga mulai berdiri di beberapa tempat di Eropa, seperti di Lisbon (Portugal), Genoa, Turin (Italia), dan Marseilles (Prancis).



Baca: Cerita Buah Pala yang Melegenda dan Keberadaannya Kini


Penyebaran cokelat juga masuk Nusantara. Tanaman kakao pertama kalinya dikenal di bumi pertiwi dengan perantaraan orang-orang Spanyol yang membawanya ke Sulawesi dan Jawa. Kala itu, jenis kakao yang pertama kalinya masuk ke Nusantara adalah jenis Criollo Venezuela yang dibawa dari Filipina. 

Pada 1880-an, jenis kakao lain pun masuk ke Indonesia, yaitu jenis Forastero dari Venezuela. Akan tetapi pada awal abad ke-19, hampir semua pertanaman kopi Arabika di Indonesia terserang jamur Hemileia vastatrix B. & Br. Akibatnya, banyak perkebunan kopi yang mengalihkan usahanya ke tanaman lain, salah satunya tanaman kakao.

Bahkan, pada 1938-an, tercatat sudah ada 29 perkebunan kakao yang dibudidayakan Pemerintah Kolonial di Hindia Belanda. Sementara itu, sebelum abad ke-20 pertanaman kakao di Indonesia senduru kebanyakan terdapat di pulau Jawa. Pasca kemerdekaan, perkebunan itu lantas dinasionalisasi menjadi milik Indonesia.

Dalam kurun waktu abad ke-19 dan ke-20 itulah, budidaya kakao di Indonesia mulai berkembang pesat. Namun saat itu, cokelat hanya digunakan sebagai minuman saja. Karena pada masa itu, cokelat masih dianggap sebagai simbol status sosial.

Selanjutnya pada masa pasca kemerdekaan, di Indonesia cokelat semakin berkembang dan memiliki beraneka merek. Sejak saat itu jugalah, cokelat mulai dikonsumsi oleh seluruh kalangan masyarakat. Tercatat hingga saat ini, perkembangan cokelat di Indonesia juga terus berjalan. 

Indonesia berada di urutan ketiga sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia, mampu memproduksi kakao sebanyak 777,5 ribu ton. Ada belasan hingga puluhan merek cokelat lokal buatan Indonesia yang dapat dibeli dengan mudah. Bahkan bentuk penyajian cokelatnya pun semakin beragam. 

Tak hanya dijadikan sebagai minuman, cokelat juga digunakan untuk bahan membuat kue. Harga cokelat yang dijual di pasaran juga lumayan terjangkau. Saat ini, usaha kakao sendiri lebih banyak berada di luar pulau Jawa, khususnya di Sulawesi. Selain itu, saat ini Indonesia juga tercatat sebagai produsen kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini:


Sejarah Kelam Garam, Pernah Jadi Pemicu Perang

Koropak.co.id, 18 September 2022 07:44:12

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta - Garam bisa jadi dianggap sebagai salah satu barang yang tidak berharga. Keberadaannya dibiarkan begitu saja di dapur. Bila jatuh ke lantai, disapu saja dan tak perlu diambil lagi. Kalau habis, tinggal beli ke warung. Harganya juga murah. 

Tapi, tahukah Anda bahwa pada zaman dulu garam menjadi pemicu terjadinya perang? Di Cina sana ada mitos Huangdi, seorang tokoh yang menemukan tulisan, persenjataan, dan transportasi. Berdasarkan cerita legendanya, ia memimpin perang untuk memperebutkan garam. 

Salah satu pabrik garam pertama yang dapat diverifikasi di Cina pada zaman prasejarah berada di provinsi utara Shanxi. Di wilayah gersang dengan tanah berwarna kuning kering dan pegunungan gurun itu, terdapat danau air asin, Danau Yuncheng. 

Saat itu tengah terjadi konflik peperangan untuk memperebutkan kendali atas cadangan garamnya yang berlangsung sejak 6.000 Sebelum Masehi (SM). Garam itu dikumpulkan dari danau selama musim kemarau, atau tepatnya ketika air menguap dan dataran garam terpapar.

Tak hanya digunakan pada masakan, ternyata garam juga turut digunakan dalam berbagai sektor seperti industri pengepakan dan pengolahan daging, kimia, pakaian, dan lain sebagainya. Garam juga sudah digunakan sejak zaman peradaban kuno. 

Waktu itu garam berfungsi sebagai pengawet makanan dan pemberi rasa sekaligus, termasuk mengawetkan mumi dan persembahan kepada dewa-dewi. Pada masa itu, orang Mesir kuno menjadi yang pertama menyadari bahwa proses pengawetan dapat dilakukan dengan garam. 

Hal itu bisa terjadi dikarenakan garam mengandung sodium, yaitu kandungan yang menarik kelembaban penyebab bakteri keluar dari makanan. Akan tetapi pada masa lalu, jenis pengawetan itu tidak terbatas pada daging saja. Mumi juga ternyata turut dikemas dengan garam. Orang Mesir kuno itu mendapatkan garamnya dari rawa-rawa Nil.

Berdasarkan catatan sejarahnya, Maroko Selatan yang melintasi Sahara ke Timbuktu menjadi pusat perdagangan terbesar garam pada masa itu. Adapun untuk jalur perdagangan garam terbesar lainnya berada di Mesir ke Yunani dengan melintasi Laut Tengah dan Laut Aegea.



Baca: Manis Pahit Perjalanan Industri Gula di Indonesia


Pada zaman Romawi, garam disebut juga sebagai Salubrious Crystals atau Sal yang berarti kristal menyehatkan. Diketahui, Sal juga menjadi awal mula munculnya salary atau gaji dikarenakan pada zaman itu, garam dipakai untuk menggaji para tentara Romawi yang bekerja dalam melindungi garam yang dinilai sangat berharga.

Melalui jalur perdagangan, garam pun terus menyebar luas hingga ke berbagai negara di dunia. Bahkan, seiring berjalannya waktu, garam juga mulai diproduksi di berbagai negara di dunia. Menariknya lagi, di negeri yang memiliki 4 musim, garam juga bermanfaat untuk mencairkan jalanan yang tertutup es serta salju.

Sementara di Indonesia, garam ditemukan pada abad 9 s.d 15 Masehi, yang dimana garam juga kala itu menjadi suatu komoditi yang diangkut dengan menggunakan transportasi air. Pada masa itu, garam diperoleh dengan cara kuno dan erat kaitannya dengan proses pengawetan ikan atau pengasinan ikan. 

Sebelum dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda, hampir seluruh tambak-tambak produksi garam di Indonesia dikuasai orang Tionghoa. Namun setelah itu Pemeritah Kolonial Belanda mengambil alih tambak-tambak besar di daerah Gresik, Sumenep (Madura) dan Jawa Timur. 

Pada 1813-an, Raffles pun melakukan monopoli garam, mulai dari tahap produksi sampai dengan pendistribusiannya. Awalnya, Pemerintah Kolonial Belanda sendiri hanya membeli garam dengan harga tetap kepada para petani garam. Akan tetapi mereka pun kemudian membuka perusahaan dan mengambil alih seluruh produksinya pada 1936-an.

Uniknya, sistem yang dipakai pada saat itu juga ternyata masih berlangsung dan diterapkan sampai dengan sekarang. Para buruh akan bekerja membawa garam ke gudang, lalu garam pun dibersihkan dan dibentuk briket sebelum di distribusikan. 

Sementara itu, monopoli garam yang dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu semakin meluas hingga ke pulau Sumatra dan Kalimantan. Sedangkan di wilayah barat daya Sulawesi, produksi garam masih dikuasai pihak swasta. 

Memasuki masa penjajahan Jepang, saat Pulau Jawa berhenti memproduksi garam, penduduk Pulau Sumatra pun secara beramai-ramai merebus air laut untuk mendapatkan garam. Pada 1960-an, perusahaan garam yang telah dikuasai Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya berubah menjadi Perusahaan Negara.


Silakan tonton berbagai video menarik di sini: